Menu
Pencarian


Guru Penggerak Budaya Literasi

Portaljtv.com - Senin, 6 Juli 2026 17:14
Guru Penggerak Budaya Literasi
Guru Penggerak Budaya Literasi

Guru Penggerak Budaya Literasi

Sebagai seorang guru matematika, saya sering menjumpai satu kondisi menarik di dalam kelas. Ketika soal hanya berisi angka dan operasi hitung, sebagian besar murid mampu menyelesaikannya dengan baik. Namun, saat soal yang sama dikemas dalam bentuk cerita, dilengkapi tabel, grafik, atau informasi yang harus dianalisis terlebih dahulu, banyak di antara mereka mulai kebingungan. Bukan karena mereka tidak mampu menghitung, melainkan karena mereka belum sepenuhnya memahami apa yang diminta oleh soal. Pengalaman sederhana ini menyadarkan saya bahwa tantangan terbesar pembelajaran matematika saat ini bukan hanya mengajarkan rumus, tetapi juga melatih murid untuk membaca, memahami, dan bernalar.

Refleksi tersebut semakin terasa ketika pemerintah mulai menerapkan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Berbeda dengan asesmen yang lebih menitikberatkan pada penguasaan materi, TKA dirancang untuk mengukur kemampuan akademik murid melalui proses berpikir. Murid dituntut memahami informasi, menganalisis hubungan antarkonsep, kemudian menentukan solusi yang tepat. Peserta TKA berasal dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah, sehingga hasilnya diharapkan mampu memberikan gambaran mengenai kemampuan akademik murid pada setiap fase pendidikan.

Menurut saya, tujuan TKA tidak seharusnya dipahami hanya sebagai alat untuk menghasilkan nilai atau menilai kemampuan murid secara sempit. Jauh lebih penting dari itu, TKA menghadirkan data yang dapat menjadi bahan refleksi bagi guru, sekolah, maupun pemerintah. Data tersebut membantu kita melihat sejauh mana proses pembelajaran telah membentuk kemampuan berpikir murid. Ketika hasil belum sesuai harapan, yang perlu dievaluasi bukan hanya kemampuan murid, tetapi juga pendekatan pembelajaran yang selama ini diterapkan di kelas.

Jika mencermati data hasil TKA jenjang SMP tahun 2026, rata-rata capaian murid di Provinsi Jawa Timur sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Nilai Matematika di Jawa Timur mencapai 41,36, sedangkan rata-rata nasional 40,34. Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, Jawa Timur memperoleh 63,46, sementara rata-rata nasional berada pada angka 60,83. Adapun rata-rata gabungan mencapai 52,41 di tingkat provinsi dan 50,59 secara nasional. Meskipun capaian Jawa Timur relatif lebih baik, terdapat fakta yang menurut saya jauh lebih penting untuk diperhatikan, yaitu kesenjangan yang cukup lebar antara hasil Matematika dan Bahasa Indonesia.

Sebagai guru matematika, saya tidak melihat rendahnya capaian numerasi sebagai lemahnya kemampuan berhitung. Justru, saya melihat persoalan utamanya berada pada kemampuan memahami informasi. Sebagian besar soal matematika saat ini tidak lagi meminta murid sekadar melakukan perhitungan. Mereka harus membaca konteks, memilah informasi yang relevan, memahami hubungan antardata, lalu menentukan strategi penyelesaian. Ketika kemampuan membaca belum berkembang dengan baik, proses bernalar pun ikut terhambat. Akibatnya, konsep yang sebenarnya telah dipelajari menjadi sulit diterapkan.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pembelajaran di kelas masih perlu terus diperbaiki. Selama ini, tanpa disadari, kita sering lebih banyak melatih murid mencari jawaban daripada melatih mereka memahami persoalan. Kita terbiasa mengejar ketuntasan materi, tetapi belum sepenuhnya memberi ruang bagi murid untuk berdiskusi, bertanya, menyampaikan alasan, ataupun mempertahankan pendapatnya. Padahal, kemampuan bernalar tumbuh dari proses berpikir yang terus dilatih, bukan dari banyaknya soal yang berhasil diselesaikan.

Saya meyakini bahwa solusi paling mendasar bukanlah menambah jam latihan menjelang pelaksanaan TKA, tetapi membangun budaya literasi di sekolah. Literasi bukan sekadar membiasakan murid membaca lima belas menit sebelum pelajaran dimulai. Literasi adalah membangun kebiasaan memahami, menghubungkan informasi, mengajukan pertanyaan, serta mengomunikasikan gagasan secara logis. Ketika budaya tersebut tumbuh, kemampuan bernalar dan numerasi akan berkembang secara alami.

Budaya literasi tidak akan tumbuh tanpa peran guru. Guru merupakan penggerak utama yang menentukan bagaimana murid belajar setiap hari. Guru adalah fasilitator bagi siswa dalam proses pembelajaran. Penguatan kompetensi guru menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Guru perlu mendapatkan pelatihan yang berkelanjutan mengenai pembelajaran berbasis literasi, penyusunan soal yang mendorong penalaran, asesmen diagnostik, serta strategi pembelajaran yang memberi ruang bagi murid untuk berpikir kritis. Literasi juga tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab guru Bahasa Indonesia. Guru matematika, IPA, IPS, bahkan pendidikan agama memiliki kesempatan yang sama untuk menumbuhkan kemampuan membaca dan bernalar melalui pembelajaran di kelas masing-masing.

Saya percaya bahwa generasi yang mampu bernalar tidak dibentuk dalam sehari, apalagi hanya melalui persiapan menjelang TKA. Generasi bernalar lahir dari kebiasaan yang dibangun secara konsisten setiap hari di ruang kelas. Ketika guru terus belajar, menghadirkan pembelajaran yang bermakna, dan menjadikan literasi sebagai budaya, murid tidak hanya akan memperoleh hasil TKA yang lebih baik. Mereka juga akan tumbuh menjadi generasi yang mampu berpikir kritis, menyelesaikan masalah secara bijaksana, dan siap menghadapi tantangan kehidupan di masa depan. Di situlah peran guru sebagai penggerak budaya literasi menemukan makna yang sesungguhnya. (*)

Oleh: Atika Ratnasari, SMP Muhammadiyah 5 Surabaya

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.