Menu
Pencarian


Digitalisasi Pembelajaran yang Menyehatkan

Portaljtv.com - Senin, 6 Juli 2026 17:16
Digitalisasi Pembelajaran yang Menyehatkan
Digitalisasi Pembelajaran yang Menyehatkan

Digitalisasi pendidikan menjadi salah satu program unggulan kementerian. Salah satunya adalah papan interaktif digital (PID) yang diterjemahkan dari istilah interactive flat panel. Terdapat kata “flat” yang secara definisi memiliki arti “datar”. Kata tersebut ternyata dapat mewakili pembelajaran yang melibatkan teknologi digital saat ini. Pembelajaran dengan memanfaatkan PID digadang-gadang menjadi daya tarik tersendiri agar murid antusias mengikuti sajian pembelajaran di kelas. Namun, terdapat sudut pandang lain yang perlu diperhatikan.

Fakta yang saya alami menyajikan sebuah temuan unik. Pembelajaran dengan memanfaatkan PID membuat murid antusias di awal pembelajaran. Namun, mereka menjadi penat saat pembelajaran dan merasa pegal-pegal setelah pembelajaran. Murid sangat menantikan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran dengan alasan agar mereka diperbolehkan memakai gawai. Pemanfaatan gawai tersebut sangat diharapkan guru agar murid proaktif dalam pembelajaran. Namun, hal ini tidak selalu sejalan dengan harapan guru. Murid justru dapat sangat berfokus pada gawai, bahkan terdistraksi oleh media sosial di genggaman mereka. Selain itu, secara tidak sadar murid duduk diam dan fokus menyaksikan layar gawai hingga berjam-jam. Hal ini dapat membuat kesehatan jasmani mereka menurun. Badan pegal dan rasa penat pun terus mereka rasakan.

Pembelajaran yang diharapkan fokus dan terarah dapat menjadi kurang tertata. Guru sebagai pemeran utama dalam pembelajaran harus menyiasati hal tersebut. Strategi pembelajaran yang melibatkan beragam unsur tentu patut ditentukan. Meskipun pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis teks literasi, pelaksanaan pembelajarannya tidak boleh monoton dan statis. Pembelajaran tidak boleh hanya membuat murid duduk terpaku pada layar PID dan gawai di dalam kelas. Pembelajaran dapat dilakukan dengan lebih dinamis dan menyenangkan. Pelibatan kecerdasan artifisial, literasi, dan aktivitas fisik menjadi harmoni yang baik dalam penerapan pembelajaran Bahasa Indonesia.

Detektif literasi dapat menjadi alternatif untuk menjawab kegamangan digitalisasi pembelajaran. Sesuai namanya, detektif merupakan “polisi rahasia” yang bertugas memecahkan suatu masalah. Sebagai detektif, murid wajib membekali diri dengan informasi yang banyak dan kompleks. Di sinilah kebutuhan literasi hadir. Kemampuan literasi diuji melalui pemahaman bacaan-bacaan yang disajikan menggunakan media pembelajaran interaktif yang telah disusun guru melalui kecerdasan artifisial. Media pembelajaran tersebut dapat dioperasikan melalui PID, tablet, laptop, PC, dan HP. Media pembelajaran interaktif tersebut dapat berupa asesmen utuh atau tantangan lain, seperti menyusun puzzle pada interacty.com, memasangkan poin dengan jawaban pada wordwall.com, kuis cepat pada kahoot.it, dan sebagainya. Selain laman-laman tersebut, guru juga dapat memanfaatkan Canva AI dan Gemini Canvas untuk menyulap teks-teks konvensional menjadi media pembelajaran interaktif dengan tampilan dan fitur yang lebih menarik.

Perpaduan kecerdasan artifisial, literasi, dan aktivitas fisik tersebut memunculkan tantangan baru yang bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan bagi murid. Mempelajari materi baru dalam bacaan akan membangkitkan kesadaran penuh dari murid. Selanjutnya, murid akan merasa lebih dekat dengan pembelajaran karena sesuai dengan minat mereka yang sarat makna. Menyelesaikan masalah yang disajikan melalui media pembelajaran interaktif menjadikan murid tertantang dan antusias untuk menyelesaikannya. Ditambah lagi, sebagai detektif, mereka diharuskan menghindari paparazi agar tidak tertangkap kamera. Kali ini, guru menjadi polisi dengan membawa tablet sebagai kamera. Detektif yang wajahnya dikenali melalui kamera tablet harus menyelesaikan tantangan dari titik mula.

Banyak hal menarik yang ditemukan ketika implementasi pembelajaran. Guru sembari melakukan observasi kelas juga menjadi juru kamera yang menangkap para detektif. Guru dan murid pun begitu proaktif dalam melaksanakan pembelajaran yang melibatkan dunia digital. Selain itu, tantangan digitalisasi pembelajaran yang sering membuat murid terpaku pada layar gawai dapat teratasi. Murid tidak hanya fokus pada pemanfaatan teknologi, tetapi juga mampu meningkatkan kesehatan mental dan jasmani. Kesehatan mental akan membuat suasana hati murid menjadi lebih baik sehingga ketajaman proses berpikir dapat terjadi. Murid yang biasanya penat melihat teks dalam bentuk konvensional kini menjadi sangat tertarik untuk membaca. Kesehatan jasmani yang muncul dalam pembelajaran literasi menjadi daya tarik tersendiri. Membaca yang biasanya dilakukan di dalam kelas dengan duduk fokus kini dapat dilakukan melalui aktivitas fisik seperti berdiri, berjalan, dan berlari.

Harmoni yang meliputi pemanfaatan kecerdasan artifisial, literasi, dan aktivitas fisik terbukti menjawab tantangan digitalisasi pembelajaran. Murid dan guru saling berbagi peran untuk mewujudkan pembelajaran yang berkualitas. Akhirnya, pembelajaran tidak menjadi flat atau “datar”, kaku, dan membosankan. Melalui inovasi harmoni tersebut, pemanfaatan teknologi, kebutuhan literasi, dan kesehatan akan terjaga serta berjalan seimbang. (*)

Oleh: Ahmad Hamim Fitriyanto (UPT SMP Negeri 3 Gresik)

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.