TULUNGAGUNG - Suasana Pantai Popoh, Desa Besole, Kecamatan Besuki, Tulungagung, mendadak riuh oleh sorak-sorai ratusan warga yang berebut tumpeng raksasa berisi aneka hasil bumi. Momen ini menjadi puncak dari perayaan tradisi Larung Sembonyo, ritual tahunan yang digelar para nelayan setempat setiap memasuki bulan Suro dalam penanggalan Jawa.
Begitu sesepuh desa selesai memanjatkan doa, warga langsung menyerbu tumpeng besar yang menjulang di tengah lokasi acara. Aksi dorong-mendorong pun tak terhindarkan, semua berlomba mendapatkan sayur dan buah yang dipercaya membawa berkah bagi siapa saja yang berhasil membawanya pulang.
Wujud Syukur dan Penghormatan kepada Alam
Rebutan tumpeng hanyalah satu bagian dari rangkaian tradisi Larung Sembonyo yang lebih besar. Puncak acara sesungguhnya adalah pelarungan sesaji ke tengah laut menggunakan perahu nelayan, sebagai bentuk persembahan kepada alam.
Baca Juga : Rebutan Tumpeng Raksasa Warnai Larung Sembonyo di Pantai Popoh , Nelayan Berdoa Hasil Laut Melimpah
Ketua Paguyuban Nelayan Pantai Popoh, Muhamad Sadat, menjelaskan bahwa tradisi ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar seremoni tahunan. Menurutnya, Larung Sembonyo adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas hasil laut yang diperoleh para nelayan, sekaligus simbol penghormatan kepada alam dan upaya pelestarian budaya leluhur.
"Harapannya, ini adalah puji syukur dari nelayan dan yang kedua untuk contoh-contoh generasi muda supaya lebih peduli dengan kebudayaan kita sendiri. Kegiatan Larung Sembonyo juga kan ada beberapa unsur, dari segi ritual, dan kita juga ajang silaturahmi, ibaratnya ini kan hari raya orang nelayan," ujar Sadat yang saat itu mengenakan udeng merah khas Jawa.
Ia juga menyampaikan harapan besar di balik pelaksanaan ritual ini. Dalam dua tahun terakhir, hasil tangkapan ikan para nelayan Popoh mengalami penurunan. Melalui upacara adat Larung Sembonyo, warga berharap laut kembali memberikan hasil yang melimpah seperti sediakala.
Dukungan Pemerintah Daerah
Tradisi yang sarat nilai budaya ini turut mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Tulungagung. Plt. Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, yang hadir langsung mengenakan blangkon hitam, menyampaikan harapannya agar momentum ini dapat mendongkrak sektor pariwisata sekaligus kesejahteraan nelayan setempat.
"Harapannya Pantai Popoh tetap terawat, tetap indah, dan karena kita nanti juga akan meningkatkan kenyamanan, jadi harapannya nanti para wisatawan bisa merasakan nyaman di Pantai Popoh ini," kata Ahmad Baharudin.
Saat ini, tercatat sekitar 200 nelayan menggantungkan hidup dari hasil laut di Pantai Popoh. Namun demikian, mata pencaharian warga sekitar pantai tidak melulu bergantung pada laut. Sebagian besar dari mereka juga aktif bercocok tanam di kawasan perbukitan yang mengelilingi Desa Besole, menjadikan wilayah ini sebagai perpaduan unik antara kehidupan pesisir dan agraris.
Tradisi Larung Sembonyo pun kini tidak hanya menjadi ritual sakral bagi masyarakat nelayan, tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu memperkenalkan kekayaan tradisi Tulungagung kepada khalayak yang lebih luas. (*)
Editor : Iwan Iwe



















