JAKARTA - Film fenomenal Bumi Manusia yang sempat menghiasi layar lebar pada 2019 kini kembali hadir dalam versi Extended. Mulai 5 Maret 2026, mahakarya sutradara Hanung Bramantyo ini dapat disaksikan secara eksklusif di platform KlikFilm dengan durasi total sekitar 5 hingga 6 jam yang dibagi menjadi enam bagian.
Versi baru ini menampilkan deretan adegan yang sebelumnya terpotong di bioskop, sehingga narasi ceritanya menjadi lebih lengkap dan semakin mendekati alur novel asli karya Pramoedya Ananta Toer.
Bukan Sekadar Kisah Cinta Minke dan Annelies
Penayangan versi panjang ini bertepatan dengan perayaan 100 tahun Pramoedya Ananta Toer. Hanung Bramantyo menjelaskan bahwa tujuan dari versi extended ini adalah untuk memberikan ruang lebih luas bagi konflik ras, sosial, dan geopolitik di era kolonial Belanda, yang sebelumnya tertutup oleh dominasi romansa Minke dan Annelies.
Hanung menilai penonton masa kini, terutama generasi muda, memiliki apresiasi yang lebih tinggi terhadap penceritaan yang kompleks dan mendalam.
“Pandemi telah mengubah pola pikir masyarakat, termasuk selera menonton. Kini penonton lebih bisa menerima narasi detail dan pacing (tempo) yang lebih tenang,” ujar Hanung saat ditemui di Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026).
Restorasi Cerita dan Simbol Modernitas
Direktur KlikFilm, Frederica, menjelaskan bahwa penambahan adegan ini berfungsi sebagai bentuk restorasi cerita. Versi ini memperdalam karakter serta menampilkan simbol-simbol modernitas era kolonial yang sebelumnya luput dari layar lebar, seperti kehadiran balok es dan es krim sebagai simbol gaya hidup kelas atas kala itu.
Versi extended ini akan ditayangkan secara berkala setiap hari Senin dan Kamis. Penonton diajak untuk lebih reflektif dalam menangkap konteks sosial-historis, termasuk perbedaan status sosial antara pribumi dan Belanda serta dinamika politik-ekonomi yang memengaruhi keputusan para tokoh.
Refleksi Sejarah Indonesia
Dengan durasi yang lebih panjang, film ini menjadi medium edukasi untuk memahami praktik pendidikan, gaya hidup, dan pengaruh budaya Barat terhadap masyarakat pribumi. Penayangan ini tidak hanya menandai tujuh tahun sejak film pertama kali hadir di bioskop, tetapi juga menjadi penghormatan bagi satu abad karya besar Pramoedya Ananta Toer.
Melalui versi utuh ini, penonton diharapkan dapat melihat sejarah dan budaya Indonesia di masa kolonial secara lebih jernih dan mendalam. (Amanda Dela)
Editor : Iwan Iwe



















