SIDOARJO - Angka 522 kasus HIV pada anak dan remaja sempat memicu kekhawatiran masyarakat Kabupaten Sidoarjo. Namun, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Laksmi Herawati Yuantina, menegaskan bahwa angka tersebut bukanlah lonjakan kasus baru secara mendadak.
Dalam program Dialog Khusus di JTV, dr. Laksmi menjelaskan bahwa angka 522 merupakan data akumulatif pendampingan Yayasan Delta Crisis Center (DCC) rentang usia 0–25 tahun yang tercatat sejak 2008 hingga April 2026.
"Angka 522 tersebut bukanlah penemuan kasus baru dalam semalam, melainkan data kumulatif pendampingan yang dicatat oleh DCC sejak tahun 2008 hingga April 2026 untuk kelompok usia 0 sampai 25 tahun," ujar dr. Laksmi.
Hal senada disampaikan oleh Direktur Program DCC Sidoarjo, Feri Effendi. Menurutnya, peningkatan temuan kasus justru menunjukkan efektivitas kegiatan screening yang semakin masif menjangkau kelompok rentan dan berisiko, bukan menandakan ledakan penularan baru di masyarakat.
Baca Juga : Hari Anak Nasional: Antara Perayaan dari Bawah dan Instrumen dari Atas
"Kenaikan angka temuan ini menunjukkan bahwa penjangkauan dan deteksi dini (screening) kami berjalan masif ke kelompok berisiko. Untuk menjaga akurasi, data DCC dan Dinas Kesehatan juga rutin disepadankan setiap tiga bulan agar tidak menimbulkan simpang siur," kata Feri.
Di balik angka tersebut, fakta menunjukkan bahwa sebagian anak tertular sejak berada di dalam kandungan akibat penularan dari ibu ke bayi (mother-to-child transmission).
Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Sidoarjo, Muhammad Zamroni Hudori, mengingatkan pentingnya dukungan psikososial dan penghentian stigma negatif terhadap anak-anak penyintas HIV.
Baca Juga : Dinkes Sidoarjo Buka Suara Soal Isu Viral Ratusan Pelajar Kena HIV/AIDS, Ini Data Aslinya!
"Anak-anak ini tertular bukan karena kesalahan mereka. Yang mereka butuhkan bukan sekadar terapi obat antiretroviral (ARV), melainkan penerimaan lingkungan agar mereka tetap bisa mengecap pendidikan dan bersekolah tanpa rasa takut dikucilkan," tegas Zamroni.
Penanganan HIV pada anak memerlukan kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan, mulai dari screening wajib bagi ibu hamil, penyediaan layanan ARV di seluruh puskesmas, penguatan regulasi daerah, hingga edukasi anti-stigma secara masif di tengah masyarakat.
Setiap anak, tanpa terkecuali, memiliki hak yang sama untuk hidup sehat, mendapat perlindungan, dan meraih cita-citanya. (Nailatuz Zahro)
Editor : Iwan Iwe



















