Dunia hari ini layaknya sebuah panggung pertunjukan raksasa yang dipenuhi cahaya lampu sorot. Semua mata diarahkan ke panggung utama, tempat para pemain tersenyum sambil memamerkan keberhasilan. Penonton pun bertepuk tangan, merasa bahwa mereka sedang menyaksikan kemenangan besar peradaban.
Namun, panggung yang megah selalu memiliki belakang panggung yang jarang ingin dilihat orang. Di sanalah para pekerja mengangkat beban, menarik tali, memindahkan perlengkapan, berkeringat tanpa henti agar pertunjukan tetap berjalan. Tidak ada tepuk tangan untuk mereka. Tidak ada sorotan kamera. Bahkan keberadaan mereka sering kali dilupakan. Padahal tanpa mereka, panggung semegah apa pun akan runtuh sebelum pertunjukan dimulai.
Begitulah dunia kita hari ini. Kita terlalu sibuk mengagumi hasil, tetapi lupa melihat siapa yang sedang membayar harga paling mahal agar semua itu bisa berdiri. Mereka adalah petani yang setiap hari berkubang lumpur, nelayan yang bertaruh nyawa di tengah ombak, buruh yang menghabiskan tenaga di bawah panas matahari, pedagang kecil yang membuka lapak sejak subuh, dan jutaan tangan lain yang diam-diam menopang kehidupan kita. Ironisnya, justru merekalah yang paling sering hidup dalam ketidakpastian.
Pondasi Peradaban Kita Rapuh?
Cobalah mengikuti perjalanan seorang petani sejak awal musim tanam. Bahkan sebelum benih menyentuh tanah, ia sudah dipaksa berhadapan dengan daftar pengeluaran yang semakin panjang. Harga benih naik, pupuk naik, obat tanaman naik, biaya sewa lahan naik, bahan bakar naik, ongkos angkut naik. Hampir semua yang dibutuhkan untuk bekerja bergerak ke atas tanpa ampun. Ia tidak punya pilihan selain membeli karena tanpa semua itu tidak ada yang bisa ditanam. Namun ketika musim panen datang dan bulir-bulir padi akhirnya menguning setelah berbulan-bulan dirawat dengan keringat, keadaan tiba-tiba berubah. Hasil panennya justru dihargai serendah mungkin. Ia tidak ikut menentukan harga. Ia hanya menerima keputusan yang datang entah dari mana. Akhirnya keuntungan yang tersisa nyaris tidak cukup menutup biaya yang telah dikeluarkan. Bahkan tidak sedikit yang harus kembali meminjam uang hanya untuk memulai musim tanam berikutnya.
Bukankah ini terdengar ganjil? Orang yang menghasilkan makanan justru kesulitan membeli makanan. Orang yang memberi makan negeri malah hidup dalam kecemasan setiap kali harga beras naik. Di mana letak kewarasan jika mereka yang paling berjasa memenuhi kebutuhan dasar masyarakat justru menjadi kelompok yang paling rapuh secara ekonomi?
Persoalan ini sebenarnya tidak hanya menimpa petani. Nelayan mengalami cerita yang hampir sama. Mereka membeli solar dengan harga tinggi, memperbaiki perahu dengan biaya yang terus membengkak, membeli jaring yang semakin mahal, lalu ketika hasil tangkapan melimpah, harga ikan justru jatuh. Peternak menghadapi harga pakan yang melonjak, tetapi harga jual ternaknya ditekan. Pedagang kecil harus bersaing dengan jaringan usaha besar yang memiliki modal, gudang, dan akses yang bahkan tidak bisa mereka bayangkan. Di mana-mana polanya hampir serupa. Ongkos untuk bekerja terus dinaikkan, tetapi hasil kerja terus ditekan. Seolah-olah ada sebuah permainan yang memang dirancang agar mereka yang berada di lapisan bawah tidak pernah benar-benar bisa berdiri tegak.
Kalau dipikir-pikir, sistem seperti ini mirip roda giling yang terus berputar. Orang kecil diminta mendorong roda itu sekuat tenaga agar kehidupan berjalan, tetapi mereka sendiri justru ikut tergilas di bawahnya. Mereka bekerja lebih lama, bangun lebih pagi, tidur lebih malam, tetapi kehidupan tidak juga menjadi lebih ringan. Semakin keras mereka berusaha, semakin terasa bahwa garis akhir selalu dipindahkan lebih jauh. Mereka seperti berlari di atas ban berjalan; tenaga habis, tetapi tempatnya tetap sama.
Menakar Ulang Arti Kemajuan
Semua keadaan itu sering dibungkus dengan kata-kata yang terdengar indah. Sangat menyedihkan. Efisiensi. Modernisasi. Daya saing. Produktivitas. Kata-kata itu memang penting, tetapi sering kali hanya berhenti sebagai hiasan pidato ketika tidak diikuti keadilan. Sebab apa arti efisiensi jika yang dipangkas justru hak hidup orang kecil? Apa arti produktivitas jika keuntungan hanya mengalir ke segelintir orang, sementara mereka yang menghasilkan tetap hidup dalam kekurangan? Apa gunanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi jika meja makan banyak keluarga justru semakin sepi?
Kita perlahan hidup dalam cara berpikir yang mengukur segala sesuatu dengan angka. Yang dihitung adalah berapa persen pertumbuhan ekonomi, berapa triliun nilai investasi, berapa besar keuntungan perusahaan. Angka-angka itu memang penting, tetapi ada sesuatu yang tidak bisa dihitung dengan kalkulator. Ada tangan yang pecah-pecah karena terlalu lama memegang cangkul. Ada wajah yang menghitam karena setiap hari diterpa matahari. Ada anak-anak yang menunggu ayahnya pulang membawa hasil kerja yang sering kali tidak cukup membeli kebutuhan esok hari. Semua itu tidak pernah muncul dalam grafik, padahal di situlah sesungguhnya wajah sebuah bangsa sedang dipertaruhkan.
Negara yang sehat bukanlah negara yang hanya pandai membangun gedung tinggi, melainkan negara yang mampu menjaga orang-orang yang menjadi pondasi bangunan itu. Sebab pohon sebesar apa pun tidak akan bertahan jika akarnya dibiarkan kering. Kita terlalu sering sibuk menghias daun dan batang, tetapi lupa menyiram akar. Lalu ketika pohon mulai rapuh, kita berpura-pura heran mengapa semuanya bisa runtuh.
Sudah saatnya ukuran kemajuan diubah. Jangan lagi hanya bertanya berapa persen ekonomi tumbuh, tetapi tanyakan juga apakah petani bisa tersenyum setelah panen. Tanyakan apakah nelayan bisa pulang tanpa dihantui utang. Tanyakan apakah buruh dapat menyekolahkan anaknya tanpa harus menggadaikan masa depan. Tanyakan apakah pedagang kecil masih memiliki ruang untuk hidup di tengah persaingan yang semakin tidak seimbang. Sebab jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sederhana itu masih menyedihkan, maka kemajuan yang selama ini kita banggakan sesungguhnya hanya cat indah yang menutupi tembok retak.
Perubahan tentu tidak lahir hanya dari kemarahan. Perubahan lahir ketika kesadaran mulai tumbuh. Ketika masyarakat kembali percaya pada kekuatan saling membantu, memperkuat usaha-usaha lokal, menghidupkan koperasi, menjaga hasil bumi sendiri, dan tidak membiarkan setiap kebutuhan hidup sepenuhnya ditentukan oleh permainan yang jauh dari jangkauan mereka. Negara pun harus kembali mengingat untuk siapa ia berdiri. Kekuasaan bukan sekadar mengelola angka-angka, melainkan menjaga agar setiap warga yang bekerja dengan jujur memperoleh kehidupan yang layak. Sebab pemerintahan yang baik bukan hanya mampu mencatat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan tidak ada keluarga yang tidur dalam keadaan lapar setelah membanting tulang sepanjang hari.
Sejarah selalu mengingatkan bahwa tidak ada kemegahan yang mampu bertahan jika dibangun di atas penderitaan. Istana yang paling kokoh pun akhirnya runtuh ketika pondasinya retak. Demikian pula sebuah bangsa. Ia tidak akan roboh karena kekurangan teknologi atau tertinggal dalam perlombaan digital. Ia akan mulai rapuh ketika keadilan perlahan menghilang, ketika kerja keras kehilangan harga, dan ketika manusia dipandang sekadar sebagai alat untuk mengejar keuntungan.
Karena itu, mungkin sudah waktunya kita berhenti terlalu silau oleh gemerlap panggung. Sudah waktunya kita berjalan ke belakang panggung, melihat siapa yang selama ini memikul beban agar pertunjukan bernama "kemajuan" tetap berlangsung. Jika mereka masih hidup dalam kekurangan, jika mereka masih harus memilih antara membeli pupuk atau membeli beras, antara membayar sekolah anak atau membayar utang, maka sesungguhnya yang sedang kita rayakan bukanlah kemajuan. Kita hanya sedang menyaksikan sebuah panggung megah yang berdiri kokoh di atas kuburan sunyi milik keadilan dan kemanusiaan.
Editor : Iwan Iwe



















