NGAWI - Memasuki musim kemarau, warga Desa Dampit, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, mulai kesulitan mendapatkan air bersih akibat sumber air sumur mereka yang mengandung kapur.
Saat musim kemarau tiba, sumur milik warga di Desa Dampit mayoritas tidak dapat digunakan. Hal ini disebabkan oleh kedalaman sumur warga yang rata-rata hanya berkisar antara 14 hingga 15 meter.
Selain itu, kondisi geografis desa yang berada di perbukitan kapur dan termasuk kawasan Gunung Kendeng sangat memengaruhi kualitas air tanah di wilayah tersebut.
Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Kabupaten Ngawi langsung melakukan intervensi melalui program pipanisasi dengan sistem sifon. Langkah ini dilakukan dengan memasang jaringan pipa dari sumber air di sisi selatan Waduk Pondok menuju pemukiman warga di sisi utara waduk.
Baca Juga : Surabaya Masih Diguyur Hujan Meski Sudah Masuk Musim Kemarau, Ini Penyebabnya
Pendamping Program Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Desa Dampit, Sulaiman, membenarkan bahwa air sumur warga saat ini sudah tidak layak konsumsi karena tingginya kandungan kapur.
Menurutnya, ada sekitar 40 rumah di sisi utara Waduk Pondok yang selalu menjadi langganan krisis air bersih setiap kemarau datang. Namun, hadirnya program intervensi ini membawa perubahan signifikan bagi warga.
"Untuk sumber mata air masyarakat masih di kedalaman sekitar 14 meter, tapi karena resapan itu dan daerah perbukitan, di sini banyak kapurnya. Terus untuk yang pakai PAM dari sumber sana itu sudah difilterisasi, akhirnya di sini lebih optimal, lebih bersih, bahkan layak minum," ujar Sulaiman saat menjelaskan kondisi air di desanya.
Baca Juga : Gubernur Khofifah Ajak Semua Pihak Siaga Hadapi Kemarau Serta Kebakaran Hutan dan Lahan
Sementara itu, Kepala Bidang Kawasan Permukiman DPRKP Ngawi, Pipit Dwi Herlina, menjelaskan bahwa intervensi pipanisasi hingga ke sambungan rumah ini menjadi solusi mutakhir untuk memenuhi kebutuhan air bersih di daerah Non Cekungan Air Tanah (CAT).
Mengingat kawasan utara waduk sangat sulit untuk dilakukan pengeboran sumur baru, sistem aliran sifon diaplikasikan untuk memanfaatkan sumber air potensial yang ada di seberang waduk.
"Karena ini daerah kategori non CAT agak kesulitan dalam pengeboran. Akhirnya dilakukan pipanisasi atau distribusi pipa dari sumber di sebelah selatan dari waduk, kemudian dibawa sifon masuk ke daerah utara dari waduk, sehingga optimalisasi dari sumber air bisa dimaksimalkan oleh warga di utara waduk," jelas Pipit.
Baca Juga : Pemprov Jatim-BNPB Antisipasi Musim Kemarau dan Petakan Risiko Kekeringan
Melalui proyek bypass pipa bawah air ini, DPRKP Ngawi menargetkan puluhan kepala keluarga yang terdampak kekeringan dapat langsung menikmati air bersih di rumah masing-masing tanpa harus mencari sumber air yang jauh.
"Berarti total sambungan rumah yang kita intervensi hampir 40 rumah terkait pemenuhan kebutuhan air bersih," imbuh Pipit. (*)
Editor : Iwan Iwe



















