Berbicara tentang pendidikan di Indonesia tentu harus memahami Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Landasan hukum utamanya tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 yang mengatur seluruh proses penyelenggaraan pendidikan, mulai dari tujuan, fungsi, hingga standar nasional.
Secara sistem, regulasi pendidikan kita sudah sangat baik. Namun, yang menjadi persoalan adalah implementasinya. Kita masih sering terjebak dalam formalitas administrasi sehingga kehilangan ruh dalam mendidik dan mengajar anak-anak.
Selain itu, ketika sistem sudah berjalan sesuai dengan ketentuan Sisdiknas, ada persoalan lain yang belum sepenuhnya terselesaikan, yakni infrastruktur. Sebuah sistem yang baik, tetapi tidak didukung dengan infrastruktur yang memadai, tentu akan sulit menghasilkan lulusan terbaik.
Perbandingan kualitas pendidikan di kota-kota besar dan di pelosok tanah air menjadi gambaran wajah pendidikan nasional kita. Oleh karena itu, perbaikan pendidikan harus dilakukan melalui revitalisasi total. Revitalisasi ini diarahkan pada dua hal, yakni revitalisasi sekolah dan revitalisasi pola pikir.
Baca Juga : Revitalisasi Sekolah dalam Perspektif Pendidikan Humanis
Menentukan mana yang lebih prioritas antara revitalisasi sekolah dan revitalisasi pola pikir adalah dialektika yang krusial, terutama jika kita melihatnya dari kacamata pengembangan karakter bangsa. Keduanya bukanlah pilihan yang berdiri sendiri, melainkan dua sisi dari satu koin yang sama.
Memahami Makna Revitalisasi Pendidikan
Pertama, revitalisasi sekolah. Sekolah adalah ekosistem tempat pendidikan berlangsung. Revitalisasi di sini menyentuh aspek hardware atau fisik pendidikan. Salah satunya adalah kurikulum yang adaptif dan kreatif. Kurikulum perlu mengubah metode pembelajaran agar tidak lagi bersifat satu arah, tetapi mampu memicu kreativitas dan berpikir kritis. Dalam kenyataannya, masih banyak di antara kita yang mengajar dalam perspektif tuntutan administrasi kedinasan agar tampak baik dan rapi.
Baca Juga : Revitalisasi Sekolah Perlu Menyentuh Ruang Belajar
Hal ini menjadi tantangan kita bersama. Momentum revitalisasi semestinya menghadirkan guru sebagai teladan, bukan sekadar pelaksana administrasi.
Aspek berikutnya adalah infrastruktur dan digitalisasi pendidikan. Akses teknologi perlu dipastikan dapat mendukung pemerataan kualitas, bukan hanya menghadirkan bangunan fisik yang megah. Aspek fisik memang sangat membantu dalam proses pembelajaran. Namun, perlu diingat bahwa sarana bukanlah hal utama dan satu-satunya dalam pendidikan.
Bangunan memang perlu baik, tetapi cara mengajar yang penuh keteladanan jauh lebih bermakna.
Baca Juga : Gubernur Khofifah Resmikan Sarpras SMAN Taruna Madani dan Revitalisasi 22 Sekolah di Pasuruan-Probolinggo
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah kesejahteraan dan kompetensi guru. Sekolah yang hebat selalu bergantung pada guru yang berjiwa pendidik, yang memahami bahwa tugas utamanya adalah menghidupkan potensi siswa, bukan sekadar menuntaskan target administratif. Kenyataannya, kesejahteraan yang diharapkan belum selalu sesuai dengan kondisi di lapangan. Karena itu, pengabdian guru perlu terus dihargai dan didukung secara nyata.
Kesejahteraan guru perlu dipandang sebagai bagian penting dari penguatan profesi. Sebab, guru adalah profesi mulia yang memberikan arah bagi generasi bangsa.
Kedua, revitalisasi pola pikir. Revitalisasi pola pikir adalah software atau roh dari pendidikan itu sendiri. Tanpa perubahan pola pikir, sekolah yang megah hanya akan menjadi cangkang kosong. Hari ini, isu tersebut menjadi perbincangan hangat di kalangan pakar dan pemerhati pendidikan, termasuk pemerintah.
Penting bagi kita memahami growth mindset. Mentalitas asal lulus atau asal mendapat nilai bagus perlu digeser menjadi mentalitas pembelajar sepanjang hayat. Dilema bagi seorang guru memang tidak sederhana. Ada tuntutan atasan yang berkaitan dengan akreditasi sekolah, ada pula tuntutan wali murid demi nama baik keluarga.
Guru sering kali berada pada posisi sulit dalam memberi penilaian. Namun, penilaian tetap harus terukur sesuai dengan kemampuan masing-masing anak, karena pendekatannya bukan hanya nilai angka, melainkan juga keteladanan sikap dan kreativitas.
Selain itu, penting memahami penanaman integritas dan karakter. Nilai-nilai kebangsaan yang kuat perlu ditanamkan dan relevan dengan semangat bela negara. Dengan demikian, pendidikan menjadi alat untuk membentuk warga negara yang berdaya, bukan hanya pencari kerja.
Nilai-nilai yang terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari jauh lebih penting daripada sekadar angka. Sebab, keteladanan sikap jauh lebih bermanfaat bagi kehidupan mereka di masa depan.
Tidak kalah penting, siswa perlu dilatih berpikir strategis. Generasi muda harus mampu melihat tantangan zaman, seperti disrupsi teknologi atau krisis global, sebagai peluang, bukan beban. Generasi muda kita hari ini banyak menikmati manfaat teknologi, tetapi tugas berat kita adalah mengarahkan teknologi sebagai sumber informasi dan pengetahuan.
Kenyataan yang ada, berbagai konten media sosial dan game lebih banyak menarik perhatian generasi muda. Ini menjadi tanggung jawab kita dalam mendidik dan memahamkan mereka agar teknologi digunakan secara lebih produktif.
Mana yang lebih penting, revitalisasi sekolah atau pola pikir?
Jika harus memilih titik berangkat, revitalisasi pola pikir adalah prioritas utama.
Pola pikir mendahului perubahan fisik. Jika para pemangku kepentingan, mulai dari pengambil kebijakan, kepala sekolah, guru, hingga orang tua, memiliki pola pikir yang progresif, mereka akan mampu mengoptimalkan sekolah dengan fasilitas apa pun yang ada.
Pola pikir menciptakan arah. Sebagus apa pun infrastruktur sekolah, jika pola pikirnya masih terjebak pada hafalan dan birokrasi yang kaku, revitalisasi sekolah berisiko tidak memberi dampak optimal.
Namun, revitalisasi sekolah tetap menjadi instrumen penguat. Pola pikir yang benar membutuhkan wadah yang suportif agar dapat mewujud menjadi aksi nyata.
Sekolah tidak lagi hanya menjadi tempat untuk menerima informasi, tetapi juga medan untuk mengasah cara pandang, integritas, dan kemampuan analitis siswa terhadap realitas bangsa. (*)
Oleh: Salman Alfarisi BMR, S.H.I., SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya
Editor : Iwan Iwe



















