Menu
Pencarian


Revitalisasi Gerakan Literasi Sekolah: Mengembalikan Roh Literasi

Portaljtv.com - Selasa, 7 Juli 2026 09:51
Revitalisasi Gerakan Literasi Sekolah: Mengembalikan Roh Literasi
Siti Puji Wijayanti

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) menjadi salah satu program yang paling luas diterapkan di sekolah-sekolah Indonesia. Hampir setiap sekolah memiliki kegiatan membaca 15 menit, resensi buku, majalah sekolah, hingga publikasi karya di media digital. Program tersebut menunjukkan komitmen sekolah membangun budaya literasi. Namun, pertanyaan pentingnya adalah: benarkah berbagai kegiatan itu telah melahirkan peserta didik yang literat, atau hanya menjadi rutinitas yang kehilangan makna?

Persoalan utama GLS saat ini bukan terletak pada kurangnya kegiatan, melainkan pada hilangnya proses berliterasi. Membaca sering berhenti sebagai kewajiban administratif, menulis sekadar tugas yang harus dikumpulkan, sedangkan majalah sekolah lebih banyak menjadi kumpulan tulisan daripada ruang lahirnya gagasan. Tidak sedikit siswa yang mengambil jalan pintas dengan menyalin informasi dari internet ataupun AI tanpa benar-benar memahami isinya. Akibatnya, produk literasi bertambah, tetapi kemampuan bernalar tidak ikut berkembang.

Kondisi tersebut berdampak pada melemahnya rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kebiasaan memverifikasi informasi. Padahal, arah pembelajaran saat ini, termasuk Tes Kemampuan Akademik (TKA), semakin menekankan kemampuan memahami bacaan, menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, serta memecahkan masalah. Kompetensi tersebut tidak lahir dari kegiatan literasi yang bersifat seremonial, tetapi dari proses berpikir yang mendalam.

Karena itu, revitalisasi Gerakan Literasi Sekolah harus dimulai dengan mengembalikan roh literasi, yaitu proses berpikir. Salah satu alternatif yang dapat diterapkan adalah Model Gerakan Literasi Sekolah Berbasis Siklus Literasi Mendalam (SLM). Model ini memandang literasi sebagai proses yang terus berulang melalui tahapan membaca, memahami, mempertanyakan, memverifikasi, berdiskusi, merefleksi, mengonstruksi gagasan, merevisi, dan memublikasikan karya.

Baca Juga :   Guru Penggerak Budaya Literasi

Implementasi model tersebut dapat dimulai dari kegiatan sederhana. Membaca 15 menit tidak lagi berhenti ketika waktu habis. Setelah membaca, siswa diajak menemukan gagasan utama, menyusun pertanyaan kritis, membandingkan bacaan dengan sumber lain, kemudian mendiskusikan keterkaitannya dengan persoalan nyata. Dengan demikian, membaca menjadi latihan memahami dan bernalar.

Demikian pula kegiatan menulis. Guru tidak hanya memberi tugas membuat rangkuman atau artikel, tetapi juga membimbing siswa menyusun draf, menerima umpan balik, merevisi, lalu memublikasikan hasil akhirnya. Program majalah sekolah juga perlu dikembalikan pada hakikat jurnalistik. Tulisan dihasilkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan verifikasi data sehingga benar-benar mencerminkan pengalaman belajar siswa.

Literasi digital pun perlu diarahkan pada kemampuan membandingkan berbagai sumber, membedakan fakta dan opini, serta menyusun argumentasi berdasarkan bukti. Dalam konteks ini, AI dapat dimanfaatkan sebagai mitra belajar untuk memberi alternatif sudut pandang atau umpan balik terhadap tulisan. Namun, proses memahami, memverifikasi, dan menyimpulkan tetap menjadi tanggung jawab siswa.

Baca Juga :   Jatim Jadi Barometer Nasional, Program Sekolah Rakyat Sukses Putus Rantai Kemiskinan

Keberhasilan GLS sudah saatnya tidak lagi diukur dari banyaknya buku yang dibaca atau karya yang diterbitkan. Ukurannya harus bergeser pada kemampuan siswa memahami bacaan secara mendalam, mengajukan pertanyaan yang bermutu, menghasilkan karya yang orisinal, serta menunjukkan perkembangan nalar dan kreativitas. Jika roh literasi berhasil dikembalikan melalui Siklus Literasi Mendalam, peningkatan hasil TKA akan menjadi konsekuensi logis. Lebih dari itu, sekolah akan melahirkan generasi yang mampu berpikir kritis, belajar sepanjang hayat, dan bertanggung jawab dalam menggunakan informasi. (*)

Oleh: Siti Puji Wijayanti, SMPN 4 Sidoarjo

Editor : Iwan Iwe





Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.