Sejak kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) hadir di genggaman siswa, pembelajaran di kelas berubah lebih cepat daripada yang dibayangkan. Kini, meringkas, menyusun pidato, bahkan menulis cerpen dapat dilakukan hanya dengan mengetik beberapa kalimat perintah. Bagi sebagian guru, kondisi ini memunculkan kekhawatiran: apakah AI akan membuat siswa malas berpikir? Namun, bagi yang lain, AI justru dipandang sebagai peluang untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik dan relevan.
Perdebatan itu sesungguhnya tidak perlu berakhir pada pilihan “setuju” atau “menolak”. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana AI digunakan secara bijak dalam proses pembelajaran. Sebab, persoalan utama bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara memanfaatkannya.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMP menjadi salah satu bidang yang paling terdampak oleh perkembangan AI. Mata pelajaran ini menuntut kemampuan membaca, menulis, berbicara, menyimak, sekaligus berpikir kritis. Hampir semua keterampilan tersebut kini dapat dibantu oleh AI. Sayangnya, jika tidak diarahkan dengan benar, bantuan itu dapat berubah menjadi ketergantungan.
Tidak sedikit guru menemukan tugas siswa yang tampak sangat rapi, bahasanya baku, bahkan argumentasinya cemerlang. Setelah ditelusuri, ternyata sebagian besar isi tugas dihasilkan oleh AI. Siswa hanya menyalin hasilnya tanpa membaca ulang, tanpa mengkritisi, apalagi mengembangkan ide sendiri. Jika praktik seperti ini terus dibiarkan, pembelajaran Bahasa Indonesia kehilangan ruhnya. Yang berkembang bukan kemampuan bernalar, melainkan kemampuan menyalin.
Karena itu, sudah saatnya sekolah mengubah cara pandang terhadap AI. Teknologi ini jangan diposisikan sebagai “mesin pembuat tugas”, melainkan sebagai teman belajar yang membantu siswa memahami materi lebih dalam. AI harus menjadi alat untuk memperkuat proses berpikir, bukan menggantikannya.
Guru memegang peran penting dalam membangun budaya tersebut. Alih-alih melarang penggunaan AI, guru dapat menetapkan aturan yang jelas. Misalnya, AI boleh digunakan untuk mencari gagasan, memperbaiki ejaan, atau memperoleh masukan terhadap tulisan. Namun, isi utama tulisan tetap harus berasal dari hasil pemikiran siswa. Dengan cara ini, siswa belajar bahwa AI hanyalah pendamping, bukan penulis utama.
Pembelajaran Bahasa Indonesia justru memiliki banyak peluang untuk memanfaatkan AI secara kreatif. Misalnya, ketika siswa menulis teks deskripsi. Selama ini, guru biasanya meminta siswa mendeskripsikan sekolah atau tempat wisata. Dengan AI, prosesnya dapat dibuat lebih menarik. Guru meminta siswa terlebih dahulu menulis deskripsi secara mandiri. Setelah selesai, mereka memasukkan tulisan tersebut ke AI dan meminta saran mengenai pilihan kata, struktur kalimat, atau penggunaan tanda baca. Selanjutnya, siswa membandingkan hasil awal dengan hasil revisi. Yang dinilai guru bukan sekadar tulisan akhirnya, melainkan kemampuan siswa menjelaskan alasan mengapa ia menerima atau menolak saran dari AI. Di sinilah kemampuan berpikir kritis mulai tumbuh.
Contoh lain dapat diterapkan pada materi teks argumentasi. Guru memberikan isu yang dekat dengan kehidupan remaja, misalnya larangan membawa telepon genggam ke sekolah atau pentingnya membatasi penggunaan media sosial. Siswa diminta menyusun argumen berdasarkan pendapat pribadi dan data yang mereka cari. Setelah itu, AI digunakan untuk menguji apakah argumen yang dibuat sudah logis atau masih terdapat kelemahan. AI menjadi “lawan diskusi”, bukan pemberi jawaban. Peserta didik tetap bertanggung jawab mempertahankan argumentasinya dengan bukti yang kuat.
AI juga dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran sastra. Ketika mempelajari cerpen, misalnya, guru meminta siswa membaca karya sastra terlebih dahulu tanpa bantuan teknologi. Setelah diskusi berlangsung, barulah AI dimanfaatkan untuk membandingkan analisis tokoh, alur, konflik, atau amanat. Dari situ, siswa dapat melihat bahwa interpretasi terhadap karya sastra tidak selalu tunggal. Mereka belajar menyampaikan alasan, bukan sekadar menerima jawaban yang diberikan mesin.
Pada materi pidato atau presentasi, AI juga memiliki manfaat besar. Siswa dapat berlatih menyusun kerangka pidato, kemudian meminta AI memberikan masukan terhadap susunan ide atau penggunaan bahasa. Namun, saat tampil di depan kelas, yang dinilai tetap kemampuan berbicara, penguasaan materi, ekspresi, dan interaksi dengan audiens. Teknologi membantu persiapan, sedangkan penampilan tetap menjadi hasil kemampuan siswa sendiri.
Cara seperti ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran. Siswa tidak lagi sekadar menerima informasi, tetapi aktif mengevaluasi, mengembangkan, dan mempertanggungjawabkan gagasannya. AI menjadi media belajar yang mendorong rasa ingin tahu, bukan jalan pintas untuk memperoleh nilai tinggi.
Namun, penggunaan AI juga harus dibarengi dengan pendidikan etika digital. Peserta didik perlu memahami bahwa hasil AI tidak selalu benar. Informasi yang diberikan harus diverifikasi melalui buku, artikel ilmiah, atau sumber tepercaya lainnya. Guru juga perlu menjelaskan bahwa menggunakan AI tanpa mencantumkan kontribusinya dalam tugas tertentu dapat melanggar kejujuran akademik jika aturan tugas mengharuskan karya orisinal. Nilai kejujuran harus tetap menjadi fondasi pembelajaran.
Selain itu, guru perlu mengajarkan keterampilan menyusun perintah atau prompt yang baik. Pertanyaan yang jelas akan menghasilkan jawaban yang lebih berkualitas. Misalnya, daripada hanya meminta “buatkan cerpen”, siswa dapat diarahkan menulis perintah yang lebih spesifik, seperti meminta contoh pembukaan cerpen bertema persahabatan dengan sudut pandang orang pertama. Setelah memperoleh contoh, mereka tetap diminta mengembangkan cerita versi sendiri. Dengan demikian, AI berfungsi sebagai inspirasi, bukan pengganti kreativitas.
Tantangan terbesar bukanlah kecanggihan AI, melainkan kesiapan kita mengelolanya. Guru perlu terus meningkatkan literasi digital agar mampu memanfaatkan teknologi secara efektif. Sekolah juga perlu menyusun pedoman penggunaan AI yang jelas sehingga peserta didik memahami batas-batas penggunaannya. Yang tidak kalah penting, orang tua perlu diajak memahami bahwa keberhasilan belajar bukan diukur dari seberapa cepat tugas selesai, melainkan dari seberapa besar kemampuan anak berkembang.
Teknologi akan terus berubah. Mungkin beberapa tahun lagi AI akan jauh lebih cerdas daripada hari ini. Namun, ada satu hal yang tidak boleh berubah: tujuan pendidikan. Sekolah bukan tempat menghasilkan tugas yang sempurna, melainkan tempat membentuk manusia yang mampu berpikir, berkomunikasi, bekerja sama, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Karena itu, AI tidak perlu ditakuti, tetapi juga tidak boleh disanjung. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, AI seharusnya menjadi kawan belajar yang membantu siswa menemukan ide, memperbaiki tulisan, dan memperluas wawasan. Sementara itu, guru tetap menjadi sosok yang menumbuhkan nalar, karakter, dan kreativitas. Jika keseimbangan ini terjaga, AI tidak akan mengurangi kualitas pembelajaran. Sebaliknya, kehadirannya akan menjadi jembatan menuju pendidikan yang lebih relevan dengan kebutuhan abad ke-21. (*)
Oleh: Arif Wijayati, UPT SMP Negeri 1 Gresik
Editor : Iwan Iwe












