Menu
Pencarian


Nilai TKA Rendah, Saatnya Berbenah

Portaljtv.com - Selasa, 7 Juli 2026 09:54
Nilai TKA Rendah, Saatnya Berbenah
Ainur Rofiah

Rendahnya hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) tidak semestinya memicu perlombaan mencari pihak yang paling bersalah. Sebaliknya, hasil tersebut perlu dibaca sebagai cermin yang memantulkan wajah pendidikan kita secara utuh. Di balik angka hasil TKA tersimpan potret kualitas pembelajaran di kelas, budaya literasi yang dibangun di rumah dan sekolah, kompetensi guru, kepemimpinan satuan pendidikan, hingga efektivitas kebijakan yang diterapkan pemerintah. Karena itu, TKA yang rendah tidak sepenuhnya merupakan gambaran kemampuan peserta didik, melainkan panggilan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bercermin, melakukan evaluasi, dan berbenah bersama.

Pada jenjang SD, TKA hanya mengukur dua mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia dan Matematika. Namun, sesungguhnya yang dinilai bukan kemampuan membaca atau berhitung saja, melainkan kemampuan memahami informasi, bernalar, dan memecahkan masalah. Karena itu, penguatan kedua kompetensi tersebut tidak cukup dilakukan menjelang pelaksanaan TKA, tetapi harus menjadi kebiasaan dalam setiap proses pembelajaran.

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, misalnya, peserta didik tidak cukup hanya lancar membaca. Mereka perlu dibiasakan memahami isi bacaan, menemukan gagasan pokok, membedakan fakta dan opini, menarik kesimpulan, hingga menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman sehari-hari. Sayangnya, di beberapa kelas, kegiatan membaca masih berhenti pada kelancaran mengeja atau menjawab pertanyaan yang jawabannya tersurat dalam teks. Padahal, soal-soal TKA lebih banyak mengukur kemampuan berpikir berdasarkan informasi yang dibaca. Oleh karena itu, guru perlu lebih sering mengajak peserta didik berdiskusi tentang isi bacaan, mengemukakan pendapat, menceritakan kembali isi bacaan, dan menciptakan pojok baca yang lebih menarik.

Hal yang sama juga berlaku pada pembelajaran Matematika. Tantangan terbesar peserta didik tidak hanya terletak pada operasi hitung, melainkan pada kemampuan memahami persoalan dan menentukan strategi penyelesaiannya. Tidak sedikit siswa yang mampu menghitung dengan benar, tetapi keliru karena gagal memahami maksud soal. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembelajaran Matematika perlu bergeser dari mengejar jawaban benar menuju proses berpikir yang benar. Guru perlu memberi ruang kepada peserta didik untuk menjelaskan langkah penyelesaian, membandingkan berbagai cara, serta mengaitkan konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari, seperti menghitung uang belanja, membaca data sederhana, atau memperkirakan waktu dan jarak.

Baca Juga :   Nilai TKA Rendah, Saatnya Berbenah

Kebiasaan-kebiasaan sederhana tersebut mungkin terlihat sepele, tetapi jika dilakukan secara konsisten akan membentuk budaya berpikir di kelas. Peserta didik tidak lagi terbiasa menghafal jawaban, melainkan belajar memahami, menganalisis, dan menyampaikan alasan atas setiap jawabannya. Pada akhirnya, peningkatan hasil TKA bukan diperoleh melalui latihan soal yang masif, melainkan melalui proses pembelajaran yang setiap hari melatih kemampuan literasi dan numerasi secara bermakna. Itulah fondasi pendidikan dasar yang sesungguhnya: membentuk anak yang mampu membaca dengan pemahaman, berhitung dengan penalaran, dan berpikir dengan logika.

Peserta TKA SD tahun ini adalah siswa kelas VI yang menempuh pendidikan dasar dalam situasi yang tidak biasa. Pada awal mereka bersekolah, proses belajar terganggu oleh pandemi COVID-19 sehingga fondasi literasi dan numerasi tidak sepenuhnya terbentuk melalui pembelajaran tatap muka. Setelah itu, mereka juga beradaptasi dengan implementasi Kurikulum Merdeka yang membawa perubahan dalam proses pembelajaran. Kondisi ini tentu menjadi salah satu konteks yang perlu dipertimbangkan saat membaca hasil TKA. Oleh karena itu, capaian yang belum optimal hendaknya menjadi bahan evaluasi bersama untuk memperkuat pembelajaran, bukan menyalahkan peserta didik.

TKA bukan tanggung jawab guru kelas VI semata. Jika penguatan literasi dan numerasi baru dilakukan saat peserta didik duduk di kelas VI, sekolah sesungguhnya telah terlambat. Fondasi kemampuan berpikir dibangun sejak kelas I melalui pembelajaran yang konsisten di setiap jenjang. Karena itu, rendahnya hasil TKA harus menjadi evaluasi bersama bagi seluruh guru kelas. Sebab, hasil asesmen pada akhirnya adalah cerminan dari proses belajar yang berlangsung selama enam tahun, bukan hanya satu tahun terakhir.

Baca Juga :   Bahasa Indonesia Resmi Masuk Vatican News, Perluas Akses Informasi Global

Sekolah harus berani mengevaluasi kualitas pembelajaran. Guru terus memperbaiki praktik mengajar, kepala sekolah memastikan budaya literasi dan numerasi benar-benar hidup, sementara orang tua tidak menyerahkan sepenuhnya pendidikan kepada sekolah. Hasil tidak akan banyak berubah jika prosesnya tetap sama. TKA adalah cermin; yang perlu diperbaiki adalah wajah pendidikan yang dipantulkannya. (*)

Oleh: Ainur Rofiah, Guru SD Kyai Ibrahim Surabaya

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.