Menu
Pencarian


Ketika AI Masuk Kelas, Guru Menjadi Kompas

Portaljtv.com - Selasa, 14 Juli 2026 17:08
Ketika AI Masuk Kelas, Guru Menjadi Kompas
Yunitha Ike Christyowati

Seorang guru IPAS kelas VI SD memberikan tugas kepada siswanya untuk merancang proyek akhir bertema teknologi. Keesokan harinya, siswa tersebut menyerahkan tugas kepada gurunya dengan tata bahasa, ide, dan tampilan yang rapi. Hasilnya tampak sangat bagus, seperti tulisan mahasiswa dalam seminar proposal penelitian. Ketika ditanya oleh guru IPAS, siswa itu menjawab dengan polos, “Saya minta AI yang membuatkannya.”

Peristiwa ini bukan lagi cerita masa depan, melainkan sudah hadir di ruang kelas kita. Artificial Intelligence atau AI telah mengubah cara anak mencari informasi, mengerjakan tugas, bahkan berpikir. Dalam hitungan detik, teknologi mampu menjawab pertanyaan mereka. Apakah mereka salah? Tidak. Namun, di balik kemudahannya, tersimpan tantangan yang jauh lebih besar: apakah anak masih benar-benar belajar, atau sekadar memperoleh jawaban instan? Inilah dilema digitalisasi pembelajaran yang sedang dihadapi sekolah.

Persoalan lain muncul dari sisi guru. Sebagian guru masih memandang AI sebagai ancaman yang akan menggantikan profesinya. Sebagian lainnya justru menggunakannya secara berlebihan tanpa memahami batas-batas etis. Akibatnya, digitalisasi berjalan tanpa arah yang jelas. Padahal, teknologi tidak pernah menjadi tujuan. Teknologi hanyalah alat.

Masuknya AI dan coding ke sekolah dasar memang merupakan langkah progresif. Anak-anak perlu dikenalkan pada teknologi sejak dini agar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta inovasi. Namun, persoalan pendidikan hari ini bukan sekadar bagaimana mengajarkan AI atau coding, melainkan bagaimana memastikan teknologi tidak menggantikan proses belajar yang sesungguhnya. Transformasi digital memang tidak dapat dihindari. Pemerintah telah mendorong digitalisasi pembelajaran sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kualitas. Tentu, langkah pemerintah ini patut diapresiasi.

UNESCO mengingatkan bahwa pemanfaatan kecerdasan artifisial di dunia pendidikan harus tetap berpusat pada manusia (human-centered). AI tidak boleh diposisikan sebagai pengganti guru, tetapi sebagai alat yang memperkuat proses belajar sekaligus menjaga nilai-nilai etika, empati, dan perlindungan peserta didik.

AI memang mampu membantu siswa menemukan informasi dalam hitungan detik. Coding melatih logika dan berpikir sistematis. Namun, tidak satu pun dari keduanya mampu mengajarkan bagaimana menghargai teman yang berbeda pendapat, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, atau bangkit setelah mengalami kegagalan. Semua itu lahir dari interaksi antarmanusia yang setiap hari dibangun oleh guru di ruang kelas.

AI mampu menjawab pertanyaan, tetapi tidak mampu memahami alasan seorang anak tiba-tiba diam sepanjang pelajaran. AI dapat menjelaskan arti empati, tetapi tidak dapat menunjukkan empati kepada siswa yang sedang kehilangan kepercayaan diri. AI dapat menyusun materi tentang kejujuran, tetapi tidak dapat menjadi teladan ketika seorang guru berani mengakui kesalahan di depan muridnya.

Pengalaman kami di SD Santa Maria Surabaya memperlihatkan bahwa transformasi digital harus berjalan berdampingan dengan penguatan karakter. Guru memanfaatkan teknologi untuk memperkaya pembelajaran, tetapi tetap mengawali hari dengan meditasi pagi dan Brain Gym agar siswa hadir secara utuh, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Pembelajaran dirancang melalui fun learning, class bonding, dan aktivitas kolaboratif yang mendorong anak berdiskusi, bekerja sama, dan belajar menghargai orang lain. AI digunakan sebagai sumber belajar, bukan sebagai pengganti proses belajar.

Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa masa depan pendidikan bukanlah memilih antara guru atau AI. Yang dibutuhkan adalah guru yang mampu memanusiakan teknologi. Guru yang mengajarkan siswa bukan hanya cara menggunakan AI, tetapi juga kapan menggunakannya, bagaimana memanfaatkannya secara bertanggung jawab, dan mengapa keputusan manusia tetap lebih penting daripada jawaban mesin.

Karena itu, agenda digitalisasi pembelajaran semestinya tidak berhenti pada penyediaan perangkat atau pelatihan teknis. Yang jauh lebih mendesak adalah memperkuat kompetensi pedagogik guru di era AI. Guru perlu dibekali kemampuan membimbing literasi digital, berpikir kritis, etika bermedia, dan kecakapan sosial-emosional. Kompetensi inilah yang tidak dapat digantikan oleh algoritma. Pendidikan bukan industri yang menghasilkan produk, melainkan proses memanusiakan manusia. Karena itu, secanggih apa pun teknologi berkembang, selalu ada ruang yang tidak akan mampu disentuh oleh mesin: hati seorang anak.

Mungkin suatu hari AI mampu mengajar lebih cepat daripada guru. Mungkin AI mampu menjawab lebih banyak pertanyaan daripada buku pelajaran. Namun, selama pendidikan masih bertujuan membentuk karakter, menumbuhkan empati, dan mengajarkan nilai kehidupan, guru akan tetap menjadi kompas teknologi terpenting di sekolah. (*)

Oleh: Yunitha Ike Christyowati, M.Pd., SD Santa Maria Surabaya

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.