Menu
Pencarian


LENTERA Digital untuk Menguatkan TKA

Portaljtv.com - Kamis, 9 Juli 2026 12:00
LENTERA Digital untuk Menguatkan TKA
Yunita Rahmah

Tes Kemampuan Akademik (TKA) menandai perubahan arah pendidikan di Indonesia. Penilaian tidak lagi bertumpu pada kemampuan menghafal, tetapi pada kecakapan memahami informasi, bernalar, dan memecahkan persoalan. Pergeseran ini menuntut sekolah mengubah cara belajar di kelas. Pembelajaran tidak cukup berorientasi pada penyampaian materi, tetapi harus mampu membentuk murid yang kritis, adaptif, dan terbiasa belajar secara mandiri.

Tantangan tersebut sejalan dengan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca dan matematika murid Indonesia masih memerlukan penguatan. Hasil tersebut menjadi pengingat bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak cukup dilakukan melalui perubahan sistem penilaian, tetapi harus diikuti dengan transformasi proses pembelajaran di ruang kelas. Murid memerlukan pengalaman belajar yang membiasakan mereka membaca secara mendalam, berpikir kritis, serta menyelesaikan persoalan berbasis penalaran.

Di sisi lain, digitalisasi pembelajaran masih menyisakan pekerjaan rumah. Tidak sedikit sekolah yang memaknai digitalisasi sebatas penggunaan proyektor, presentasi, atau pembagian materi melalui aplikasi pesan. Teknologi memang hadir di ruang kelas, tetapi belum sepenuhnya mengubah pengalaman belajar murid. Akibatnya, potensi teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran belum dimanfaatkan secara optimal.

Padahal, teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas akses belajar sekaligus memperkuat kompetensi yang diukur dalam TKA. Melalui media digital, murid memiliki kesempatan untuk belajar kapan saja, mengulang materi sesuai kebutuhan, memperoleh umpan balik secara cepat, dan berlatih mengerjakan soal berbasis penalaran. Pembelajaran menjadi lebih fleksibel tanpa kehilangan arah dan tujuan.

Baca Juga :   LENTERA Digital untuk Menguatkan TKA

Bagi UPT SMP Negeri 2 Gresik, pelaksanaan TKA tahun pertama bukan sekadar menghasilkan angka capaian, melainkan menjadi momentum refleksi untuk memperbaiki proses pembelajaran. Evaluasi internal menunjukkan perlunya penguatan literasi, numerasi, dan kemampuan bernalar melalui pembelajaran yang lebih interaktif, adaptif, serta memanfaatkan teknologi secara optimal. Refleksi tersebut melahirkan gagasan untuk mengembangkan QR Code LENTERA (Literasi, Edukasi, Teknologi, dan Asesmen) sebagai gerbang pembelajaran digital yang mengintegrasikan pembelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika dalam satu akses. Program ini ditargetkan mulai diterapkan sebagai salah satu strategi peningkatan kualitas pembelajaran menuju pelaksanaan TKA 2027.

Melalui QR Code LENTERA, murid cukup memindai satu kode untuk mengakses materi ajar, video pembelajaran, infografis, latihan interaktif, lembar kerja digital, bank soal, hingga evaluasi. Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, media ini memuat materi memahami bacaan, menentukan gagasan utama, menyusun simpulan, serta menelaah berbagai jenis teks. Pada mata pelajaran Matematika, murid dapat berlatih menyelesaikan soal-soal berbasis penalaran, memahami konsep, dan mengembangkan strategi pemecahan masalah. Guru pun dapat memantau hasil belajar secara berkala sehingga tindak lanjut pembelajaran dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.

LENTERA bukan sekadar media penyimpanan materi. Program ini dirancang untuk membangun ekosistem belajar yang berkelanjutan. Sebelum pembelajaran dimulai, murid dapat mempelajari materi sebagai bekal awal. Saat pembelajaran berlangsung, guru memfasilitasi diskusi, eksplorasi, dan pemecahan masalah. Setelah pembelajaran selesai, murid kembali mengakses LENTERA untuk mengerjakan latihan, memperoleh umpan balik, dan merefleksikan hasil belajarnya. Dengan demikian, proses belajar tidak lagi dibatasi ruang dan waktu.

Baca Juga :   Teknologi Boleh Canggih, Guru Tetap Penentu

Tentu, digitalisasi pembelajaran tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran guru. Teknologi hanyalah sarana, sedangkan guru tetap menjadi aktor utama yang merancang pembelajaran, membangun karakter, dan menumbuhkan budaya literasi. Keberhasilan transformasi pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan guru memadukan teknologi dengan pendekatan pembelajaran yang bermakna.

Keberhasilan TKA bukan ditentukan oleh banyaknya latihan soal menjelang ujian, melainkan oleh kualitas proses belajar yang berlangsung setiap hari. Inovasi seperti QR Code LENTERA menunjukkan bahwa transformasi pendidikan dapat dimulai dari langkah sederhana yang berangkat dari refleksi sekolah. Ketika teknologi dimanfaatkan untuk memperkuat literasi, numerasi, dan kemampuan bernalar, digitalisasi pembelajaran tidak lagi sekadar menjadi simbol modernisasi, melainkan menjadi jalan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Jika inovasi semacam ini terus dikembangkan dan direplikasi, target peningkatan capaian TKA pada 2027 bukanlah sesuatu yang mustahil, melainkan hasil dari proses pembelajaran yang dirancang secara lebih terarah, adaptif, dan berkelanjutan. (*)

Oleh: Yunita Rahmah, S.Pd., UPT SMP Negeri 2 Gresik

Baca Juga :   Revitalisasi Gerakan Literasi Sekolah: Mengembalikan Roh Literasi

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.