Pementasan Dramaturgi XXI digelar pada Minggu malam (5/7/2026) oleh mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga di Gedung Teater Balai Pemuda, Surabaya. Naskah ‘Sidang Susila’ karya Agus Noor dan Ayu Utami dipilih sebagai bentuk kritik sosial terhadap perancangan UU Pornografi yang tabu pada masa itu.
Susila sebagai tokoh utama ditangkap Polisi Moral atas tuduhan penyebaran pornografi lewat jualan mainan anak-anak. Alih-alih menggunakan jabatannya, tokoh hakim hanya memihak jaksa sosok yang menuduh dagangan Susila (berupa balon) sebagai bentuk dari pornografi.
Mementaskan naskah drama klasik tentu tidak mudah. Mengingat naskah ini menggunakan banyak sekali metafora (majas atau gaya bahasa) yang dimana seseorang perlu memahaminya secara mendalam. Begitu juga para aktor yang memerankan tokohnya masing-masing.
Anisa Febi Ananda, selaku pimpinan produksi Dramaturgi XXI mengatakan adanya rintangan dalam membawakan semua cerita dialog naskah ini. Menurutnya, naskah ini merupakan naskah lama dari tahun 2000-an.
“Paling menantang adalah membawakan semua cerita (termasuk dialog) yang relevansi sindiran satirenya itu untuk tahun 2000an, tapi kita bawakan lagi di tahun 2026 ini. naskah ini termasuk naskah lawas yang dimana sudah sering dipentaskan juga,” ujarnya.
Meskipun mereka belum tahu bagaimana situasi saat itu, Febi dan tim tetap konsisten dalam membawakan seluruh alur cerita dalam naskah ini sesuai dengan tahunnya.
“Tantangannya sangat besar karena kita semua belum tahu bahkan tidak tahu bagaimana keadaan saat tahun naskah itu dibuat. jadi yaa tantangan-tantangan kecil seperti kostum, sound, dll itu juga masuk untuk pembawaannya”, tutur Febi.
Sementara itu, penanggung jawab mata kuliah Dramaturgi, Dr. Puji Karyanto, S.S., M.Hum. menjelaskan bahwa peminat mata kuliah ini mengalami penurunan dalam beberapa tahun belakang.
“Dramaturgi beberapa tahun belakang mengalami yang awalnya bisa mencapai 50 lebih mahasiswa. Di tahun 2025 kemarin menurun drastis, hanya 12 mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini. Lalu, di tahun 2026 hanya meningkat menjadi 18 mahasiswa,” jelasnya saat memberikan sambutan.
Peminat sedikit tidak menjadi penghalang mereka dalam mementaskan drama Dramaturgi XXI ini. Mereka tetap yakin dan nekat untuk tetap mementaskan naskah drama ini.
“Mereka semua (mahasiswa yang tampil) memiliki mental bonek modal nekat dengan jumlah 18 mahasiswa mereka mementaskan Dramaturgi ini di Balai Pemuda dengan harga sewa 25 juta”, diujarkan dengan rasa bangga.
Kerja keras serta persiapan yang dilakukan Febi dan tim untuk mementaskan Dramaturgi XXI ini membuahkan hasil begitu luar biasa. Tempat latihan mereka menjadi saksi bisu bahwa mereka bersungguh-sungguh untuk mementaskan naskah drama ini di atas panggung.
“Pasti di kampus tercinta, entah di halaman terbuka atau terkadang di beberapa ruang kelas,” ujarnya dengan jelas.
Keberhasilan mereka tak hanya dari pementasan Dramaturgi saja, melainkan tiket penonton juga ludes terjual. Bahkan pada saat pembelian tiket secara langsung (OTS) peminatnya cukup banyak.
“Pada saat ots, Alhamdulillah cukup banyak peminatnya, sehingga gedung terpenuhi,” ungkap Febi penuh rasa syukur.
Mengekspresikan sebuah karya sastra merupakan representasi terhadap keadaan dan kondisi yang dialami penulis pada saat itu. Bukan menjadi penghalang apabila karya sastra dipentaskan ke ruang publik.
“Karena ini adalah pementasan, dan pementasan yang kami bawakan adalah karya sastra, sehingga kami bebas bisa berekspresi apapun, karena ini adalah kesenian. Tidak mungkin toh orang berkesenian dilarang?” tutupnya. (Muhamad Maulana Saputro)
Editor : Iwan Iwe



















