LUMAJANG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas Gunung Semeru yang masih sering erupsi, terutama di tengah tingginya curah hujan yang berpotensi memicu banjir lahar.
Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Is Nugroho, menegaskan potensi bahaya tidak hanya berasal dari erupsi, tetapi juga dari aliran lahar yang membawa material vulkanik saat terjadi hujan deras di kawasan lereng hingga puncak.
"Ketika kami deteksi ada kumpulan mendung di kawasan lereng sampai puncak dan terjadi hujan dengan intensitas tinggi, itu sangat berpotensi menimbulkan banjir lahar karena material masih menumpuk di lereng Semeru," ujar Is Nugroho.
Ia menambahkan, sebagai langkah antisipasi, petugas disiagakan di sejumlah titik rawan, terutama di aliran sungai yang berhulu di kawasan gunung.
Baca Juga : Semeru Erupsi Menjelang Magrib, Awan Panas Guguran Meluncur 3 Kilometer
"Petugas kami yang ada di Kobokan selalu standby, terutama di daerah aliran sungai yang menjadi jalur aliran material, untuk mengantisipasi potensi bahaya," jelasnya.
BPBD memastikan sistem peringatan dini atau early warning system berfungsi dengan baik. Radius erupsi yang terjadi juga dipastikan jauh dari permukiman warga, sehingga masyarakat dapat segera bersiaga ketika terjadi peningkatan aktivitas gunung.
Sebelumnya, erupsi Semeru terjadi pada Minggu pagi (22/02/26). Rekaman CCTV milik relawan di Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, merekam detik-detik letusan dengan kolom abu membumbung tinggi di atas kawah Jonggring Saloko, disertai guguran awan panas ke sisi tenggara.
Baca Juga : BPBD Lumajang Imbau Masyarakat Waspada Semeru Sering Erupsi dan Banjir Lahar
Laporan Pos Pantau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, erupsi memiliki amplitudo maksimal 22 milimeter dengan durasi dua menit 27 detik. Kolom abu teramati setinggi 800 meter di atas puncak, berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah utara dan timur laut. Guguran awan panas meluncur ke sisi tenggara sejauh dua kilometer.
Hingga kini, status Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Selain itu, warga juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak. BPBD meminta masyarakat mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan demi menghindari risiko korban jiwa. (Yona Salma)
Editor : M Fakhrurrozi



















