Susu yang diminum masyarakat Indonesia setiap pagi membawa cerita panjang—tentang sapi yang dirawat, peternak yang bekerja keras, dan sistem yang memastikan kualitasnya tetap terjaga. Lebih dari 80% produksi susu nasional terkonsentrasi di Pulau Jawa, dengan Jawa Timur dan Jawa Tengah sebagai tulang punggung utamanya. Sebagai salah satu perusahaan pengolah susu, Nestlé Indonesia terus berkomitmen untuk memperkuat ekosistem pasokan susu nasional. Lebih dari penjagaan kualitas dan kuantitas komoditas, hal tersebut adalah bagian dari komitmen Perusahaan menciptakan manfaat bersama bagi individu, keluarga, komunitas, dan lingkungan sekitar. Nestlé hadir bukan hanya menyerap dan mengelola susu, tetapi juga bertumbuh bersama para peternak dalam setiap prosesnya.
Nestlé Indonesia telah bermitra dengan peternak sapi perah lokal selama lebih dari lima dekade. Kemitraan ini bermula pada tahun 1975, ketika Nestlé menyerap 160 liter susu segar dari koperasi peternak di Pujon, Malang. Hingga 2025, lebih dari 12.500 peternak telah menjadi penerima manfaat berbagai program pendampingan yang dilakukan PT Nestlé Indonesia. Dampaknya terlihat jelas di Jawa Timur, yang kini menjadi basis produksi susu nasional dengan kontribusi sekitar 58% terhadap pasokan dalam negeri, serta Jawa Tengah sebagai produsen susu terbesar ketiga nasional. Keduanya juga memiliki populasi koperasi peternak susu tertinggi di Indonesia. Perjalanan panjang ini menegaskan satu pembelajaran penting: kemitraan yang berkelanjutan tidak cukup dibangun melalui hubungan jual beli semata—pendampingan yang konsisten dan relevan menjadi kunci terciptanya dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari kemitraan jangka panjang, Nestlé Indonesia secara konsisten melakukan pendampingan teknis dan manajerial kepada peternak sapi perah melalui tim Milk Procurement and Dairy Development (MPDD). Pendampingan ini mencakup pelatihan Good Dairy Farming Practices, pengelolaan pakan, kebersihan kandang, pemantauan kesehatan hewan, serta manure management, yang dilakukan melalui pelatihan konsisten, baik secara individu maupun berkelompok. Kehadiran tim lapangan secara rutin memastikan praktik beternak yang diterapkan tetap menjaga kualitas dan kuantitas susu secara berkelanjutan, sekaligus membantu peternak beradaptasi terhadap tantangan operasional di lapangan.
Di saat yang sama, Nestlé memperkuat kapasitas peternak sebagai pelaku usaha melalui edukasi pencatatan produksi dan pendapatan, pendekatan kewirausahaan peternakan, serta penguatan koperasi dan badan usaha lokal lainnya sebagai mitra utama. Upaya ini dilengkapi dengan penerapan standar kualitas dan keamanan pangan, termasuk pendampingan pasca‑panen dalam penanganan susu. Untuk mendukung penerapan praktik tersebut, Nestlé Indonesia menyediakan fasilitas dan peralatan termasuk lebih dari 4.000 kipas kandang, lebih dari 15.000 fasilitas air minum sapi, lebih dari 550 mesin perah dan lebih dari 3.000 mesin pencacah pakan – yang disediakan melalui berbagai skema dukungan finansial. Fasilitas tersebut berperan penting dalam menjaga kenyamanan dan kesehatan ternak, serta memastikan akses terhadap air bersih dan praktik pemerahan yang lebih higienis—kondisi yang mendukung kesejahteraan hewan, produktivitas yang lebih stabil, serta kualitas susu yang konsisten. Terlebih, hal ini membantu para peternak agar lebih efisien dalam menjalani kesehariannya.
Seiring berkembangnya praktik peternakan susu rakyat, Nestlé Indonesia juga memperkenalkan sistem closed‑barn ventilation (closed-house) sebagai salah satu pendekatan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas susu secara berkelanjutan. Berbeda dengan kandang terbuka konvensional, sistem closed‑barn ventilation dirancang untuk memungkinkan pengelolaan lingkungan kandang yang lebih terkendali, mulai dari sirkulasi udara, suhu, kebersihan, hingga pencahayaan. Dengan sistem ventilasi yang teratur dan dukungan peralatan pendukung, lingkungan hidup sapi dapat dijaga tetap nyaman meskipun menghadapi tantangan suhu dan kelembapan yang tinggi.
Sejauh ini, Nestlé Indonesia telah memfasilitasi akses para peternak terhadap lebih dari 50 fasilitas closed-barn. Manfaat dari sistem ini bersifat langsung dan berdampak pada kinerja peternakan. Lingkungan kandang yang lebih stabil membantu mengurangi stres panas pada sapi, sehingga asupan pakan dan kondisi fisik dapat terjaga dengan lebih baik. Dalam kondisi yang lebih nyaman, produksi susu sapi menjadi lebih konsisten, sementara parameter kualitas—seperti kebersihan dan stabilitas susu—lebih mudah dijaga. Pada akhirnya, sistem closed‑barn menjadi bagian penting dalam memastikan keseimbangan antara kesejahteraan hewan, produktivitas peternakan, dan mutu susu yang diproses oleh Nestlé.
Nestlé Indonesia juga memperluas dampaknya ke sepanjang ekosistem peternakan sapi perah guna menciptakan dampak yang lebih holistik dalam kehidupan peternak. Salah satu fokus utamanya adalah peningkatan efisiensi, akurasi, dan transparansi melalui digitalisasi pos penampungan susu di berbagai daerah sejak tahun 2020. Hingga kini, Nestlé telah memberikan dukungan digitalisasi terhadap lebih dari 70 pos penampungan susu – memungkinkan pencatatan kuantitas susu secara transparan dan andal melalui sistem pengukuran digital yang akurat. Proses pelaporan menjadi lebih efisien dengan sistem single‑entry data tanpa duplikasi, dilengkapi ketersediaan data penampungan susu secara real‑time. Selain meningkatkan efisiensi dan loss-tracking, inisiatif ini berperan penting dalam memperkuat kepercayaan antara peternak dan koperasi/pemasok susu segar mitra Nestlé—menciptakan rantai pasok yang lebih adil, andal, dan kolaboratif.
Pada saat yang sama, Nestlé juga mendorong praktik pertanian regeneratif – salah satunya dengan mendukung pengelolaan limbah ternak secara lebih bermanfaat. Melalui pelatihan, penyediaan alat, dan kemitraan, peternak didukung untuk mengolah kotoran sapi menjadi sumber daya yang berguna bagi usaha dan kehidupan sehari‑hari mereka. Hingga kini, Nestlé Indonesia telah memfasilitasi pembangunan lebih dari 8.700 unit biodigester dan lebih dari 1.000 unit fasilitas pemanfaatan manure, yang memungkinkan kotoran sapi diolah menjadi biogas sebagai energi alternatif serta pupuk organik kaya nutrisi. Inisiatif ini membantu peternak mengurangi ketergantungan pada bahan bakar konvensional, menjaga kesuburan tanah, dan membuka peluang manfaat ekonomi tambahan—sekaligus menciptakan lingkungan peternakan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, berbagai upaya yang dijalankan Nestlé Indonesia bermuara pada satu tujuan utama: menciptakan manfaat bersama (creating shared value) yang dapat dirasakan sampai ke hulu rantai pasok susu. Lingkungan kandang yang lebih terkelola dan sistem pendukung yang semakin kuat berkontribusi pada kondisi sapi yang lebih sehat serta produktivitas susu yang lebih baik. Bagi peternak, dukungan yang terintegrasi membantu membangun usaha yang lebih efisien dan berkelanjutan, sekaligus memberikan kepastian dalam penghidupan sehari‑hari. Di sisi lain, kualitas dan keamanan susu juga dapat dijaga secara konsisten melalui praktik pasca‑panen dan sistem penyaluran yang lebih transparan. Dengan demikian, keberlanjutan tidak hanya tercermin dalam proses, tetapi juga dalam hasil akhir—memperkuat komitmen Nestlé Indonesia terhadap responsible sourcing yang memberikan manfaat bersama bagi peternak, industri, dan konsumen. (*)
Editor : Iwan Iwe



















