Menu
Pencarian

Strain Langka Ebola Muncul di RD Kongo dan Uganda, WHO Tetapkan Status Darurat Global

Portaljtv.com - Kamis, 21 Mei 2026 13:00
Strain Langka Ebola Muncul di RD Kongo dan Uganda, WHO Tetapkan Status Darurat Global
Virus Ebola, penyakit menular mematikan yang disebabkan oleh infeksi genus Ebolavirus dengan tingkat kematian mencapai 50%. (Picture: Freepik)

World Health Organization (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) dan Uganda sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) pada 17 Mei 2026.

Wabah tersebut dipicu oleh kemunculan strain langka Bundibugyo yang ditemukan di kedua negara tersebut. Hingga 16 Mei 2026, tercatat sebanyak 246 kasus suspek dengan 8 kasus terkonfirmasi, dan 80 korban meninggal dunia. Tingkat kematian dilaporkan mencapai 32,5 persen.

Selain di RD Kongo, kasus terkait perjalanan juga telah dilaporkan di Kampala, Uganda, dan Kinshasa. Tingginya mobilitas penduduk serta keterbatasan fasilitas kesehatan disebut menjadi faktor yang memperbesar risiko penyebaran wabah.

Hingga kini, untuk suspek jenis langka Bundibugyo belum memiliki obat maupun vaksin yang tersedia secara luas untuk penanganan global. Menanggapi situasi tersebut, Kementerian Kesehatan RI langsung memperketat kewaspadaan di seluruh pintu masuk negara.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, mengatakan status darurat yang ditetapkan WHO menunjukkan pentingnya kewaspadaan internasional meski penyebaran Ebola belum dikategorikan sebagai pandemi.

“Kementerian Kesehatan terus memantau situasi global dan melakukan penguatan kewaspadaan lintas sektor. Kami memastikan seluruh pintu masuk negara, baik pelabuhan maupun bandara, meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan, terutama yang berasal dari negara terdampak,” ujar Aji dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, langkah yang dilakukan pemerintah meliputi penyiagaan petugas kesehatan di lapangan, penguatan skrining pelaku perjalanan, hingga penyiapan prosedur rujukan ke rumah sakit berstandar internasional apabila ditemukan penumpang dengan gejala yang mengarah pada Ebola.

Selain itu, seluruh laporan dari pintu masuk negara akan dipantau selama 24 jam melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta pusat operasi darurat kesehatan atau Public Health Emergency Operation Center (PHEOC). Kapasitas laboratorium nasional juga disebut telah disiagakan penuh guna mendukung deteksi cepat dan respons dini.

Kementerian Kesehatan turut mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi terkait Ebola yang beredar di media sosial.

Ebola merupakan penyakit infeksi virus yang dapat menyebabkan kematian dengan tingkat fatalitas rata-rata mencapai 50 persen. Saat ini terdapat tiga jenis strain virus yang sering menyebabkan wabah, yaitu Ebola Virus Disease (EVD), Sudan Virus Disease (SVD), dan yang saat ini berkembang di Kongo yaitu Bundibugyo Virus Disease (BVD),” jelas Aji.

Virus Ebola disebut dapat menular melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, maupun benda yang telah terkontaminasi oleh manusia atau hewan yang terinfeksi. Virus dapat masuk ke tubuh melalui luka pada kulit maupun selaput lendir.

Gejala Ebola biasanya muncul mendadak dengan masa inkubasi antara dua hingga 21 hari. Gejala awal meliputi demam, tubuh lemas, nyeri otot, dan sakit kepala yang kemudian dapat berkembang menjadi muntah, diare, hingga pendarahan.

Kemenkes juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan makanan, menghindari konsumsi daging hewan liar, serta memastikan daging dimasak hingga matang sempurna.

Kemenkes turut memberikan imbauan khusus bagi warga negara yang baru kembali dari RD Kongo maupun Uganda. Mereka diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam atau gejala pendarahan dalam waktu 21 hari setelah kepulangan.

Kemenkes menegaskan kejujuran mengenai riwayat perjalanan sangat penting untuk membantu proses deteksi dini dan mencegah potensi penularan lebih lanjut. (Mamluatus Salimah)

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.