SIDOARJO - Menanggapi maraknya insiden kecelakaan yang melibatkan pelajar saat masa pengenalan lingkungan sekolah, SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo mengambil langkah tegas. Pihak sekolah menekankan pentingnya implementasi pendidikan karakter, khususnya dalam hal keselamatan berkendara bagi para siswa baru.
Kepala Smamda Sidoarjo, M. Zainul Arifin, menjelaskan bahwa kegiatan orientasi di sekolahnya yang dikenal dengan nama Fortasi (Forum Ta'arif Siswa) berlangsung selama lima hari. Dalam kegiatan ini, penanaman karakter menjadi menu utama yang disajikan kepada para siswa.
Zainul mengungkapkan, Fortasi tahun ini mengusung tema BERSINAR, yang merupakan akronim dari Berkarakter, Santun, Inovatif, Adaptif, dan Religius. Melalui tema ini, sekolah berkomitmen membentuk akhlak siswa yang baik di mana pun mereka berada.
"B-nya itu mengartikan Berkarakter. Maka anak-anak itu harus memiliki karakter dan akhlak yang baik, baik di rumah, di jalan, maupun di lingkungan sekolah. Itu harus benar-benar diimplementasikan," ujar Zainul Arifin.
Pihak Smamda Sidoarjo juga mengaku sangat prihatin dengan adanya kabar kecelakaan yang menimpa pelajar di tempat lain saat hendak mengikuti kegiatan masa pengenalan sekolah. Belajar dari kejadian tersebut, Zainul langsung memberikan atensi khusus dan wejangan kepada anak didiknya mengenai etika berkendara.
"Kami tekankan kepada anak-anak bahwa karakter itu ada di mana-mana dan harus dilakukan, terutama pada saat berkendara. Harus berhati-hati, datangnya harus diawali (lebih awal) supaya tidak tergesa-gesa dalam perjalanan. Insyaallah itu akan menjadi ikhtiar kita untuk selamat sampai tujuan," tegasnya.
Terkait regulasi kendaraan di lingkungan Smamda Sidoarjo sendiri, Zainul menjelaskan bahwa sekolah sebenarnya melarang siswa kelas 10 untuk membawa kendaraan pribadi. Namun, ada pengecualian jika mengantongi izin dari orang tua, dengan syarat yang sangat ketat.
"Harapan kami, kelas 11 baru diizinkan untuk berkendara bermotor," Ucap Zainul Arifin.
Sekolah tidak akan menoleransi kendaraan yang tidak memenuhi standar keselamatan jalan raya. Pemeriksaan ketat akan dilakukan bagi motor yang nekat dibawa ke sekolah. Spion harus lengkap (tidak boleh hanya satu) serta lampu wajib menyala dan berfungsi dengan baik. Dan yang juga penting ban dan komponen lain harus standar pabrikan (tidak boleh menggunakan ban cacing atau modifikasi ekstrem).
"Di Smamda harus memiliki standar. Kalaupun ada yang tidak standar, tentu tidak boleh masuk ke lingkungan sekolah," pungkas Zainul.
Kepala Smamda Sidoarjo, M. Zainul Arifin, menyatakan bahwa aturan ini dibuat demi keselamatan para siswa itu sendiri. Pihak sekolah tidak ingin kelalaian berkendara berujung pada hal yang tidak diinginkan.
Editor : Bagoes Ri



















