SIDOARJO - Di saat Sekolah Dasar (SD) di berbagai daerah ramai dan ceria menyambut kedatangan murid baru dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), suasana kontras justru menyelimuti SD Negeri Kupang IV. Sekolah yang terletak di Dusun Kalialo, Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo ini harus mengawali tahun ajaran baru 2026/2027 dengan keheningan.
Tidak ada satu pun siswa baru yang mendaftar dan masuk ke sekolah dasar negeri kawasan tambak tersebut pada tahun ini. Ruang kelas satu yang biasa dipenuhi tawa anak-anak kini kosong melompong.
Secara keseluruhan, SDN Kupang IV Kalialo saat ini hanya bertahan dengan total 12 orang siswa saja. Jumlah yang sangat sedikit itu pun harus tersebar dari kelas dua hingga kelas enam.
Meski tidak memiliki murid baru dan kekurangan siswa, semangat pendidikan di ujung Sidoarjo ini menolak padam. Kegiatan belajar mengajar (KBM) dipastikan akan tetap berlangsung demi masa depan anak-anak dusun setempat.
Baca Juga : Membangun Sekolah sebagai Laboratorium Pola Pikir
Pihak sekolah menyiasati keterbatasan ruang dan jumlah murid dengan menggunakan tiga ruang kelas yang tersisa untuk dua tingkat kelas sekaligus (kelas gabungan). Untuk mendampingi 12 siswa yang ada, terdapat delapan orang guru dan seorang kepala sekolah yang tetap setia menjalankan tugas mulia mereka setiap harinya.
"Kondisinya memang seperti ini, anak usia sekolah dasar di dusun kami sangat terbatas karena faktor demografi wilayah tambak," ujar Solekan Tabib, salah satu guru di SDN Kupang IV Kalialo Jabon.
Minimnya jumlah siswa di SDN Kupang IV bukanlah tanpa alasan. Faktor letak geografis menjadi penyebab utama. Dusun Kalialo merupakan kawasan pesisir tambak terpencil yang saat ini hanya dihuni oleh sekitar 60 Kepala Keluarga (KK).
Mayoritas warga setempat bekerja sebagai buruh tambak dan buruh pemetik hasil laut. Kondisi ini membuat populasi anak usia sekolah dasar di kawasan tersebut menjadi sangat terbatas dan langka dari tahun ke tahun.
Penderitaan SDN Kupang IV tidak berhenti pada minimnya jumlah murid. Kondisi fisik bangunan sekolah pun kini berada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan dan mengancam keselamatan.
Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah dinding papan sekolah telah lapuk dimakan usia dan berlubang di berbagai sisi. Lebih parah lagi, atap di dua ruang kelas mengalami kerusakan yang sangat berat.
Baca Juga : Menakar Efektivitas Pembelajaran Mendalam secara Lebih Utuh
Ketika musim hujan tiba, air langsung bocor dan masuk ke dalam ruang kelas. Hal ini membasahi lantai serta bangku sekolah, sekaligus menimbulkan kecemasan mendalam bagi para guru dan siswa akan risiko atap runtuh sewaktu-waktu saat proses belajar mengajar berlangsung.
Menanggapi kondisi yang serba memprihatinkan ini, pihak sekolah sangat berharap Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui Dinas Pendidikan segera turun tangan untuk melakukan perbaikan fasilitas fisik sekolah. Renovasi mendesak sangat dibutuhkan agar sisa siswa yang ada dapat menuntut ilmu dengan rasa aman, nyaman, dan layak.
Baca Juga : Menakar Digitalisasi Sekolah Dasar: Jari Pintar Jangan Sampai Melupakan Pensil
Editor : Bagoes Ri



















