Menu
Pencarian


Sekolah di Persimpangan Algoritma dan Nurani

Portaljtv.com - Rabu, 15 Juli 2026 12:46
Sekolah di Persimpangan Algoritma dan Nurani
Conie Franchiska

Ada yang diam-diam hilang dari ruang kelas kita. Bukan buku, bukan papan tulis, dan bukan pula semangat belajar siswa. Yang perlahan menghilang adalah proses berpikir. Hari ini, siswa dapat menyelesaikan tugas hanya dalam hitungan detik dengan bantuan AI. Namun, semakin cepat tugas selesai, semakin besar pertanyaan yang harus kita ajukan: apakah mereka benar-benar belajar, atau sekadar memindahkan jawaban dari layar ke lembar tugas?

Fenomena ini menjadi salah satu wajah baru digitalisasi pembelajaran. Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah cara belajar siswa secara drastis. Dalam hitungan detik, AI mampu menyusun esai, menjawab soal, menerjemahkan teks, bahkan membuat presentasi yang menarik. Di satu sisi, teknologi ini adalah lompatan besar dalam dunia pendidikan. Namun, di sisi lain, AI juga menghadirkan keresahan baru: plagiarisme yang semakin sulit dideteksi dan ketergantungan siswa terhadap jawaban instan.

Sebagai guru, saya tidak melihat AI sebagai ancaman. Yang menjadi tantangan adalah ketika AI menggantikan proses berpikir siswa. Pendidikan sejatinya bukan sekadar menghasilkan jawaban yang benar, melainkan membentuk cara berpikir yang benar. Ketika setiap tugas diselesaikan hanya dengan menyalin hasil AI, siswa kehilangan kesempatan untuk bertanya, mencoba, salah, memperbaiki, dan menemukan pemahamannya sendiri. Padahal, proses itulah yang membangun kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan reflektif.

Ironisnya, sistem pembelajaran kita terkadang tanpa sadar ikut mendorong kebiasaan tersebut. Tugas yang diberikan sering kali berorientasi pada produk akhir, bukan proses. Selama jawaban tampak benar, tugas dianggap selesai. Akibatnya, AI menjadi jalan pintas yang sangat menggoda. Siswa tidak merasa perlu membaca berbagai sumber, berdiskusi, atau mengembangkan ide sendiri karena semuanya dapat diperoleh dalam hitungan detik.

Baca Juga :   TKA dan Kesejahteraan Profesional Guru

Jika kondisi ini terus berlangsung, kita mungkin akan melahirkan generasi yang kaya informasi, tetapi miskin pemahaman. Mereka mampu menghasilkan tulisan yang baik, tetapi tidak mampu mempertahankan argumennya. Mereka terbiasa memperoleh solusi secara instan, tetapi tidak terlatih menghadapi persoalan yang membutuhkan analisis dan kreativitas.

Karena itu, solusi yang dibutuhkan bukanlah melarang penggunaan AI. Larangan hanya akan membuat siswa mencari cara lain untuk menggunakannya secara diam-diam. Yang jauh lebih penting adalah mengubah cara kita memanfaatkan AI dalam pembelajaran.

Guru perlu mengajarkan literasi AI, yaitu kemampuan menggunakan AI secara etis, kritis, dan bertanggung jawab. Siswa harus memahami bahwa AI adalah alat bantu belajar, bukan pengganti proses belajar. Mereka perlu dibiasakan memverifikasi jawaban AI, membandingkannya dengan sumber lain, mengkritisi informasi yang diberikan, lalu menyusun kesimpulan berdasarkan hasil pemikirannya sendiri.

Baca Juga :   Guru Sejahtera, Kelas Menyala

Selain itu, desain pembelajaran juga perlu berubah. Penilaian tidak cukup hanya berdasarkan hasil akhir, tetapi juga proses berpikir siswa. Misalnya, melalui presentasi, diskusi, jurnal refleksi, portofolio, atau proyek berbasis masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata. Dalam model pembelajaran seperti ini, AI memang dapat membantu mencari informasi, tetapi siswa tetap harus menunjukkan kemampuan menganalisis, berkolaborasi, berkomunikasi, dan mempertanggungjawabkan gagasannya.

Guru juga dapat mengubah cara memberikan tugas. Alih-alih meminta siswa “buatlah artikel tentang konservasi air”, guru dapat meminta mereka mengamati kondisi lingkungan sekitar, mewawancarai warga, mendokumentasikan temuan, lalu menggunakan AI untuk membantu menyusun laporan. Dengan demikian, pengalaman nyata tetap menjadi sumber utama belajar, sedangkan AI berfungsi sebagai pendukung, bukan pengganti.

Digitalisasi pembelajaran seharusnya tidak menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan. Justru di era AI, peran guru menjadi semakin penting. Guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi, melainkan fasilitator yang membimbing siswa agar mampu berpikir lebih dalam, mempertanyakan informasi, dan merefleksikan setiap pengalaman belajarnya.

Baca Juga :   Membangun Sekolah sebagai Laboratorium Pola Pikir

Sebab, ukuran keberhasilan pendidikan bukanlah seberapa cepat siswa menyelesaikan tugas, melainkan seberapa dalam mereka memahami apa yang dipelajari. AI mungkin mampu memberikan jawaban dalam hitungan detik, tetapi hanya guru yang mampu membimbing siswa menemukan makna di balik setiap jawaban tersebut.

Masa depan pendidikan bukanlah memilih antara manusia dan AI. Masa depan pendidikan adalah menghadirkan kolaborasi yang sehat antara keduanya. Ketika AI digunakan untuk memperkuat rasa ingin tahu, bukan mematikan daya pikir, digitalisasi pembelajaran benar-benar menjadi jembatan menuju pendidikan yang lebih bermakna. Sebab, pada akhirnya, teknologi boleh semakin canggih, tetapi kemampuan berpikir tetap harus menjadi kompetensi utama setiap peserta didik. (*)

Oleh: Conie Franchiska, Guru SMPN 1 Prambon

Editor : Iwan Iwe





Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.