LUMAJANG - Ratusan warga di lereng Gunung Semeru terpaksa mengungsi ke lima titik pengungsian setelah gunung tertinggi di Pulau Jawa itu kembali erupsi pada Rabu (19/11/2025). Erupsi disertai awan panas guguran dan kolom abu setinggi 2.000 meter, memicu peningkatan status aktivitas ke Level IV (Awas).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak ratusan orang telah dievakuasi dari wilayah terdampak, terutama Desa Supiturang, Sumberwuluh, dan Candipuro di Kabupaten Lumajang. Mereka ditempatkan di sejumlah lokasi aman.
Satu diantaranya berada di Balai Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro. Di lokasi ini, tercatat sebanyak 40 warga terdampak telah mengungsi.
“Jumlah total pengungsi saat ini sekitar 40 jiwa, terdiri dari 10 laki-laki dewasa, 15 perempuan dewasa, 11 anak-anak, dan 4 balita. Mereka berasal dari Desa Sumberwuluh dan sejumlah desa sekitar,” ujar Mufidul Alamin, Sekretaris Desa Penanggal.
Baca Juga : Pengendara Motor Tewas Terlindas Truk di Lumajang, Polisi Temukan Sabu
Selain di Balai Desa Penanggal, titik pengungsian juga tersebar di SDN Supiturang 4 dan SMPN 2 Pronojiwo. Hingga malam hari, jumlah pengungsi dan titik pengungsian masih terus bertambah. Petugas gabungan dari BPBD, TNI, dan relawan terus melakukan evakuasi dan pendataan warga terdampak.
Gunung Semeru mengalami erupsi terjadi sejak pagi pukul 06.05 WIB dan berlanjut hingga sore hari. Guguran awan panas meluncur sejauh 14 kilometer dari puncak dengan kecepatan lebih dari 70 km/jam.
Badan Geologi melalui PVMBG mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di radius 5–14 kilometer dari puncak Semeru. Petugas gabungan terus memantau aktivitas vulkanik dan mendistribusikan bantuan logistik ke titik pengungsian.
Baca Juga : Posko Dapur Umum Didirikan Penuhi Kebutuhan Warga Terdampak Banjir Lahar Semeru
Pemerintah daerah bersama relawan kini fokus pada penanganan pengungsi dan kesiapsiagaan lanjutan. (*)
Editor : A. Ramadhan



















