Menu
Pencarian

Memuliakan Pendonor, Memastikan Pasokan Darah untuk Kemanusiaan

Radian Jadid - Kamis, 5 Februari 2026 13:30
Memuliakan Pendonor, Memastikan Pasokan Darah untuk Kemanusiaan
Radian Jadid. (Foto: Dok)

SURABAYA - Kebutuhan darah di Indonesia terus merangkak naik seiring dengan dinamika layanan kesehatan yang kian kompleks. Di Surabaya, sebagai contoh, RSUD dr. Soetomo saja memerlukan sedikitnya 8.000 hingga 10.000 kantong darah setiap bulan.

Angka ini bukanlah sekadar statistik, melainkan representasi dari ribuan nyawa yang bergantung pada ketersediaan stok darah. Selain regular di unit transfusi darah, beragam event donor darah dilakukan melalui Kerjasama dengan berbagai pihak, untuk menambah jumlah pasokan darah.

Sayangnya, meski jumlah masyarakat yang memiliki jiwa kemanusiaan cukup besar, pengelolaan pendonor seringkali masih bersifat insindentil dan beberapa cenderung “transaksional” serta kurang memiliki visi jangka panjang. Sudah saatnya Palang Merah Indonesia (PMI) dan rumah sakit yang memiliki unit transfusi darah berbenah diri.

Tantangan utamanya bukan sekadar memperbanyak unit transfusi atau meningkatkan fasilitas teknis, melainkan bagaimana kita "mengorangkan" dan memuliakan para pendonor darah sebagai aset intelektual dan sosial bangsa. Jangan sampai muncul asumsi bahwa jiwa kemanusiaan warga negara hanya "dimanfaatkan" saat stok menipis, lalu dilupakan saat kebutuhan terpenuhi.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah transformasi digital melalui integrasi database pendonor nasional. Saat ini, pencatatan seringkali masih terfragmentasi antar institusi. Seorang pendonor yang rutin berderma di lokasi berbeda seringkali tidak memiliki catatan akumulatif yang sinkron.

Dengan database yang terintegrasi, kita tidak hanya memiliki data konkret berapa kali seseorang telah mendonor, tetapi juga memudahkan akses saat terjadi kondisi darurat. Lebih dari itu, sistem ini harus mampu "menyapa" pendonor secara personal, mengirimkan ucapan selamat ulang tahun, pengingat jadwal donor berikutnya, atau sekadar sapaan di momentum hari besar. Sentuhan personal inilah yang membangun ikatan emosional (engagement) yang kuat bagi mereka.

Kedua, kita perlu meredefinisi makna reward bagi pendonor. Selama ini, paket pengganti berupa susu, biskuit, atau vitamin dalam goody bag memang membantu, namun tentu tidak cukup untuk mengapresiasi nilai setetes darah.

Penghargaan berupa pin emas bagi mereka yang sudah ratusan kali mendonor adalah tradisi yang baik, namun perlu inovasi lebih lanjut. Mengapa kita tidak memikirkan reward yang lebih menyentuh aspek kesejahteraan harian?

Misalnya, kartu pendonor yang terintegrasi bisa dikembangkan menjadi kartu manfaat (benefit card) yang bekerja sama dengan pihak swasta, BUMN, maupun tenant usaha. Fasilitas berupa diskon di supermarket, toko, atau akses khusus di unit usaha tertentu akan menjadi nilai tambah yang menarik, terutama bagi generasi muda.

Selain itu, fasilitas fisik di lokasi donor juga harus ditingkatkan: layanan yang ramah, tempat yang nyaman, ruang tunggu yang estetik, parkir gratis, hingga opsi antar-jemput bagi komunitas pendonor rutin.

Ketiga, aspek edukasi dan sosialisasi harus bergeser dari sekadar ajakan mendonor menjadi penjelasan komprehensif mengenai manfaat kesehatan bagi si pendonor itu sendiri. Menjadi pendonor rutin bukan hanya soal membantu orang lain, tetapi juga tentang kontrol kesehatan berkala yang didapatkan secara cuma-cuma.

Pemerintah dan pengelola unit transfusi harus mampu mengomunikasikan keuntungan medis ini secara masif agar donor darah menjadi gaya hidup (lifestyle), bukan lagi sekadar kegiatan insidental.

Terakhir, penguatan komunitas adalah kunci keberlanjutan. PMI dan rumah sakit harus aktif memfasilitasi, menggandeng, dan menyiapkan jejaring bagi komunitas-komunitas pendonor berdasarkan latar belakang hobi, pekerjaan, atau wilayah. Mengadakan gathering yang tidak hanya melibatkan penggerak atau institusi, tetapi juga menyentuh para pendonor individu, akan menciptakan rasa kepemilikan yang tinggi terhadap misi kemanusiaan ini.

Kemanusiaan tidak boleh dibiarkan berjalan sendirian tanpa dukungan sistem yang memadai. Dengan melibatkan banyak pihak, mulai dari perusahaan melalui program CSR hingga sinergi antar-lembaga negara, kita dapat membangun ekosistem donor darah yang lebih bermartabat. Memuliakan pendonor berarti memastikan napas kemanusiaan terus berdenyut bagi mereka yang membutuhkan. Sudah saatnya kita tidak lagi menghubungi pendonor hanya saat butuh, tapi merangkul mereka sebagai mitra abadi dalam menyelamatkan nyawa umat manusia.

Radian Jadid:

*Pendonor (Darah-Plasma) Aktif 

*Ketua Task Force Kemanusiaan Kantin ITS (TFKK ITS)

*Ketua Harian ITS93

*Kepala Sekolah Rakyat Kejawan

Editor : M Fakhrurrozi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.