Bahasa Jawa Suroboyoan atau yang lebih akrab dikenal sebagai Boso Suroboyoan, sering kali mendapat cap “kasar” dari orang luar Surabaya. Intonasi yang tegas, pilihan kata yang blak blakan, serta nada yang terkesan keras, menjadi faktor utama mengapa orang orang menganggap bahas Suroboyoan itu kasar. Namun, bagi warga Surabaya sendiri, bahasa ini terdengar hangat dan akrab. Di balik kesan keras itu, bahasa Suroboyoan menyimpan sejarah panjang tentang karakter kota dan warganya.
Boso Suroboyoan merupakan salah satu dialek Bahasa Jawa yang penuh dengan kekayaan budaya sendiri. Secara linguistik, Suroboyoan adalah salah satu dialek dari bahasa Jawa, khususnya sub-dialek Jawa Timur. Berbeda dengan bahasa Jawa di Solo atau Yogyakarta yang memiliki tingkatan halus (Kromo Inggil) yang sangat ketat, Suroboyoan cenderung lebih egaliter/blak blakan.
Hal ini berakar dari letak geografis Surabaya sebagai kota pelabuhan. Sejak zaman kerajaan hingga kolonial, Surabaya adalah titik temu pedagang dari berbagai penjuru dunia seperti Madura, Tionghoa, Arab, Eropa, hingga Melayu. Interaksi yang intens di pelabuhan menuntut komunikasi yang cepat, praktis, dan tanpa basa-basi. Inilah yang membentuk karakter Suroboyoan yang "blak-blakan" atau ceplas ceplos.
Bahasa Suroboyoan juga merupakan hasil peleburan budaya yang luar biasa. Beberapa pengaruh yang paling menonjol antara lain:
Baca Juga : Menelusuri Jejak Kejayaan Madura di Museum Keraton Sumenep
1. Bahasa Madura: Kedekatan geografis dan sejarah migrasi membuat kosakata dan intonasi Madura menyerap kuat ke dalam dialek Surabaya. Penggunaan partikel penegas seperti "tah", "bah", atau "khon" seringkali dipengaruhi oleh dialek tetangga ini.
2. Bahasa Asing: Sebagai kota perdagangan, banyak serapan dari bahasa Belanda (misalnya kata verlop menjadi perlop) dan bahasa Arab yang disesuaikan dengan lidah lokal.
3. Struktur Morfologi Unik: Salah satu ciri khasnya adalah penambahan imbuhan "an" atau perubahan vokal yang ekstrem, seperti kata "podo" (sama) menjadi "podoan" atau penggunaan "cak" (dari kata Kakak) sebagai sapaan akrab.
Baca Juga : 10 Tempat Tertua di Surabaya: Narasi Panjang Jejak Awal Kota Pahlawan
Tidak lengkap membahas Suroboyoan tanpa menyinggung kata "Jancok". Meski secara harfiah dianggap kasar, dalam konteks sosial Surabaya, kata ini mengalami pergeseran makna. Di tangan arek-arek Suroboyo, kata ini bertransformasi menjadi tanda keakraban yang mendalam. Ia menjadi perekat persaudaraan yang menunjukkan bahwa antara pembicara dan pendengar tidak ada sekat formalitas.
Secara historis, bahasa ini juga menjadi alat pemersatu saat masa perjuangan kemerdekaan. Pidato Bung Tomo yang berapi-api menggunakan dialek lokal terbukti mampu membakar semangat ribuan rakyat untuk melawan penjajah pada 10 November 1945.
Hingga hari ini, bahasa Suroboyoan tetap lestari. Ia tidak tergerus zaman karena sifatnya yang adaptif dan terus digunakan oleh generasi muda sebagai kebanggaan identitas lokal Arek arek Suroboyo yang harus tetap dilestarikan di tengah arus globalisasi. (Nasywa Renata)
Editor : Iwan Iwe



















