SURABAYA - Berangkat dari kesadaran warga terhadap nilai sejarah lingkungannya, Kampung Lawas Maspati kini bertransformasi menjadi destinasi wisata heritage edukatif yang menonjol di tengah Kota Surabaya. Kampung yang berlokasi di Kelurahan Bubutan ini menawarkan perjalanan waktu melalui bangunan kuno dan cerita lisan yang terjaga.
Langkah pelestarian ini bermula dari partisipasi aktif masyarakat dalam lomba lingkungan pada 2013 yang memicu kesadaran kolektif untuk menata potensi sejarah kampung. Upaya mandiri tersebut mendapat pengakuan resmi pada tahun 2016 ketika diresmikan oleh Wali Kota Surabaya kala itu, Tri Rismaharini.
Jejak Keraton dan Era Kolonial
Nilai historis Kampung Lawas Maspati merujuk jauh hingga abad ke-18. Saat Surabaya menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Mataram, kawasan ini merupakan tempat tinggal para pejabat tinggi Keraton Surabaya. Peran pentingnya dalam struktur sosial masa kerajaan memberikan karakter kuat pada tata ruang kampung.
Baca Juga : Menelusuri Jejak Kejayaan Madura di Museum Keraton Sumenep
Memasuki masa kolonial, fungsi kawasan ini berkembang menjadi permukiman dengan arsitektur khas Belanda yang sebagian besar bangunannya masih terawat hingga kini. Lokasinya yang strategis juga menjadikan Maspati sebagai titik penting dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.
Omah Tua dan Dapur Perang: Saksi Perlawanan
Salah satu bangunan paling ikonik adalah Omah Tua. Bangunan ini dulunya merupakan pabrik sepatu lokal yang beroperasi sejak 1907. Saat pendudukan Jepang, produksi dihentikan dan bangunan beralih fungsi menjadi kamp pejuang. Menjelang peristiwa heroik 10 November 1945, tempat ini menjadi titik kumpul para pemuda Surabaya.
Baca Juga : 10 Tempat Tertua di Surabaya: Narasi Panjang Jejak Awal Kota Pahlawan
Tak jauh dari sana, terdapat Losmen Bekas Dapur Perang. Dulunya, bangunan ini adalah pabrik roti milik Haji Iskak yang difungsikan sebagai dapur umum untuk menyuplai logistik para prajurit selama revolusi kemerdekaan. Kini, bangunan bersejarah tersebut telah bertransformasi menjadi losmen bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi menginap di tengah suasana tempo dulu.
Di sudut lain, pengunjung dapat menjumpai:
- Rumah Mantri Raden Soemomihardjo: Kediaman mantri kesehatan terkemuka di masanya.
- Sekolah Ongko Loro: Sekolah tingkat SD bagi pribumi pada masa Belanda. “Sesuai namanya, sekolah ini hanya sampai kelas dua. Tujuannya kala itu hanya agar masyarakat tidak buta huruf, bukan untuk mencetak tenaga ahli,” jelas Sabar Swastono, Ketua RW 06 Maspati.
- Makam Mbah Buyut Suruh dan Raden Mas Karyo Sentono: Tokoh penting pendiri kampung yang hingga kini masih diziarahi warga setiap Kamis malam Jumat Legi.
Pengelolaan Mandiri Berbasis Masyarakat
Baca Juga : Asal-Usul Bahasa Suroboyoan: Terasa Kasar Tapi Jujur
Kampung Lawas Maspati dikelola sepenuhnya secara mandiri oleh masyarakat setempat. Meski tidak menerapkan tiket masuk reguler bagi pengunjung individu, pengelola menyediakan paket wisata khusus untuk rombongan dengan kisaran harga Rp500 ribu hingga Rp2 juta. Paket ini mencakup pemandu wisata, atraksi edukatif, dan pengenalan budaya lokal.
Semangat gotong royong warga dalam menjaga kebersihan lingkungan dan merawat bangunan heritage menjadi kunci keberhasilan Maspati. Kampung ini membuktikan bahwa pelestarian sejarah dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi kreatif pariwisata modern. (Salimah)
Editor : Iwan Iwe

















