Surabaya merupakan salah satu kota tertua di Indonesia yang pertumbuhannya tidak bisa dilepaskan dari jalur perdagangan, penyebaran agama, dan dinamika kekuasaan sejak masa kerajaan Hindu-Buddha hingga kolonialisme Eropa. Nama Surabaya sendiri telah disebut dalam berbagai sumber sejarah sejak abad ke-13, menunjukkan bahwa wilayah ini telah menjadi pusat aktivitas manusia jauh sebelum lahirnya negara modern Indonesia. Jejak panjang tersebut masih dapat ditelusuri melalui berbagai tempat tua yang tersebar di penjuru kota. Dari kawasan religius, pemukiman awal, hingga pusat perdagangan kolonial, Surabaya menyimpan lapisan sejarah yang membentuk identitasnya hingga kini.
1. Masjid Ampel dan Awal Islam di Surabaya
Di kawasan Ampel, Kecamatan Semampir, Surabaya Utara, berdiri Masjid Ampel yang menjadi saksi awal masuk dan berkembangnya Islam di wilayah ini. Masjid yang didirikan oleh Sunan Ampel pada tahun 1421 M tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan dakwah. Dari masjid inilah ajaran Islam menyebar ke berbagai wilayah Jawa Timur, membentuk komunitas Muslim yang kemudian menjadi fondasi sosial Surabaya. Seiring waktu, kawasan di sekitar masjid berkembang menjadi Kampung Ampel, sebuah permukiman padat yang dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang budaya Arab, Jawa, dan Melayu. Hingga kini, kawasan ini tetap hidup sebagai pusat religi dan ziarah, mempertahankan fungsi sosialnya selama lebih dari enam abad.
2. Masjid Jami’ Peneleh dan Jejak Permukiman Awal
Baca Juga : Bidik Kursi Kepala DPM-PTSP, Lasidi Tawarkan Inovasi Perizinan hingga Penguatan Iklim Investasi
Tidak jauh dari pusat kota modern, di Kampung Peneleh yang terletak di Kecamatan Genteng, Surabaya Pusat, berdiri Masjid Jami’ Peneleh yang telah ada sejak abad ke-15. Masjid ini menjadi bukti bahwa wilayah Peneleh telah dihuni jauh sebelum Surabaya berkembang sebagai kota kolonial. Arsitektur masjid yang sederhana, dengan struktur kayu tua dan atap bertingkat, mencerminkan gaya bangunan Islam awal di Jawa. Masjid Jami’ Peneleh menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus sosial bagi masyarakat setempat. Kehidupan warga yang masih terikat kuat dengan tradisi lama membuat kawasan ini seolah menjadi ruang hidup sejarah yang terus berdenyut di tengah modernisasi kota.
3. Kampung Peneleh sebagai Akar Kota Surabaya
Kampung Peneleh yang membentang di wilayah Genteng merupakan salah satu kawasan pemukiman tertua di Surabaya. Sejak masa akhir Majapahit, wilayah ini telah dihuni oleh masyarakat yang hidup dari perdagangan, pertanian, dan jasa. Lorong-lorong sempit, rumah-rumah tua, serta makam kuno yang tersebar di kawasan ini menunjukkan kontinuitas hunian selama berabad-abad. Kampung ini juga memiliki nilai sejarah nasional karena menjadi tempat tinggal keluarga Ir. Soekarno. Di sinilah calon Presiden pertama Indonesia tumbuh dan menyerap nilai-nilai sosial yang kelak memengaruhi pandangan politiknya. Dengan demikian, Peneleh bukan hanya penting bagi sejarah Surabaya, tetapi juga bagi sejarah Indonesia.
Baca Juga : Hanya Cetak 8 Gol, Eduardo Perez: Yang Terpenting Persebaya Menang
4. Klenteng Hong Tiek Hian dan Komunitas Tionghoa Awal
Di Jalan Dukuh, Surabaya Utara, berdiri Klenteng Hong Tiek Hian yang dipercaya sebagai klenteng tertua di kota ini. Keberadaan klenteng ini menunjukkan bahwa komunitas Tionghoa telah menetap dan berperan dalam kehidupan Surabaya sejak ratusan tahun lalu. Klenteng ini menjadi pusat spiritual, budaya, dan sosial bagi masyarakat Tionghoa yang tinggal di sekitar kawasan Pecinan. Aktivitas keagamaan, perayaan tradisi, serta interaksi ekonomi yang berlangsung di sekitar klenteng membentuk dinamika sosial yang khas. Surabaya tumbuh sebagai kota multikultural, di mana berbagai etnis hidup berdampingan dan saling memengaruhi.
5. Kembang Jepun dan Pertumbuhan Pecinan Surabaya
Baca Juga : Cak Imin Puji Program Sekolah Rakyat di UNESA, Minta Kampus Lain Ikut Mencontoh
Kawasan Kembang Jepun di Kecamatan Pabean Cantikan berkembang sebagai pusat perdagangan dan permukiman Tionghoa sejak abad ke-18. Deretan ruko tua yang masih berdiri hingga kini mencerminkan peran kawasan ini sebagai pusat ekonomi kota pada masa kolonial. Aktivitas perdagangan yang padat menjadikan Kembang Jepun sebagai nadi ekonomi Surabaya selama ratusan tahun. Di kawasan ini pula terjadi pertemuan berbagai budaya, mulai dari Tionghoa, Arab, hingga pribumi. Interaksi tersebut membentuk karakter Surabaya sebagai kota dagang yang terbuka dan dinamis.
6. Kota Lama Surabaya dan Jejak Kolonial
Di wilayah Krembangan, terutama di sekitar Jalan Rajawali dan Jembatan Merah, terhampar kawasan Kota Lama Surabaya. Kawasan ini menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan pada masa kolonial Belanda. Bangunan-bangunan bergaya Eropa yang masih bertahan menunjukkan bagaimana Surabaya pernah menjadi salah satu kota pelabuhan terpenting di Hindia Belanda. Kota Lama juga menjadi saksi berbagai peristiwa penting, termasuk perlawanan rakyat Surabaya terhadap penjajah. Dengan demikian, kawasan ini memiliki nilai sejarah ganda, baik sebagai pusat kolonial maupun sebagai arena perjuangan.
Baca Juga : Dua Tim Asal Surabaya Melangkah ke Semifinal Kejurnas Basketball U-16 di Unesa
7. Jembatan Merah sebagai Simbol Perjuangan
Jembatan Merah yang membentang di atas Sungai Kalimas menghubungkan wilayah Krembangan dan Pabean Cantikan. Sejak abad ke-18, jembatan ini menjadi jalur vital perdagangan dan mobilitas kota. Namun, namanya kemudian diabadikan sebagai simbol perjuangan akibat pertempuran sengit yang terjadi di sekitarnya pada masa revolusi kemerdekaan. Keberadaan Jembatan Merah menegaskan peran Surabaya sebagai kota perlawanan dan keberanian.
8. Gedung Setan dan Sejarah Sosial Kota
Baca Juga : Dukung Ekonomi Kerakyatan, 153 Koperasi Kelurahan Merah Putih Surabaya Diluncurkan
Di kawasan Banyu Urip Wetan, Surabaya Barat, berdiri Gedung Setan, sebuah bangunan tua yang dibangun pada awal abad ke-19. Gedung ini menjadi saksi kehidupan sosial masyarakat urban Surabaya pada masa kolonial. Meski namanya identik dengan cerita mistis, nilai sejarah gedung ini justru terletak pada fungsi sosialnya sebagai tempat hunian dan perlindungan bagi masyarakat.
9. Rumah Kelahiran Soekarno dan Sejarah Nasional
Di Jalan Pandean IV, Kampung Peneleh, terdapat rumah kelahiran Ir. Soekarno yang menjadi situs bersejarah nasional. Rumah ini menandai awal kehidupan tokoh besar yang kelak memimpin bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Keberadaan rumah ini memperkuat posisi Surabaya sebagai kota yang melahirkan pemimpin dan gagasan besar.
10. Benteng Kedung Cowek dan Pertahanan Pesisir
Di pesisir Kecamatan Bulak, Surabaya Timur, terdapat Benteng Kedung Cowek yang dibangun sebagai bagian dari sistem pertahanan kota dari serangan laut. Benteng ini menunjukkan betapa strategisnya posisi Surabaya sebagai pintu masuk perdagangan dan militer sejak masa kolonial. Meskipun kini tinggal reruntuhan, benteng ini tetap menjadi simbol penting sejarah pertahanan kota. (*)
Editor : Iwan Iwe



















