MAGETAN - Lonjakan kunjungan wisatawan terjadi di kawasan wisata Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan, selama libur panjang Maret 2026. Namun, peningkatan jumlah pengunjung tersebut belum sepenuhnya berdampak pada sektor perhotelan. Tingkat hunian hotel justru mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, jumlah wisatawan meningkat signifikan dalam periode 18 hingga 25 Maret 2026. Pada 18 Maret, tercatat sebanyak 1.073 pengunjung, dan melonjak tajam hingga mencapai 19.016 orang pada puncaknya, 24 Maret.
Meski angka kunjungan tinggi, lama tinggal wisatawan justru cenderung menurun. Banyak wisatawan memilih berkunjung singkat tanpa menginap, sehingga berdampak pada rendahnya okupansi hotel di kawasan tersebut.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan terkait daya tarik Telaga Sarangan sebagai destinasi wisata. Tidak hanya sebagai tujuan kunjungan harian, tetapi juga sebagai destinasi yang mampu membuat wisatawan bertahan lebih lama.
Baca Juga : Revitalisasi Trotoar Dinas PUPR Pasang Lampu Hias Ikonik
Sejumlah faktor diduga menjadi penyebab menurunnya tingkat hunian hotel. Di antaranya minimnya event atau atraksi wisata yang menarik wisatawan untuk bermalam, kondisi cuaca yang kurang bersahabat, hingga isu longsor yang sempat beredar.
Selain itu, pemberitaan negatif seperti praktik getok harga yang viral di media sosial juga dinilai turut memengaruhi persepsi wisatawan.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Magetan, Nunung Widiastuti, mengakui adanya penurunan lama tinggal wisatawan di kawasan Sarangan.
Baca Juga : Pantai Teluk Asmara: Eksotisme 'Raja Ampat' Jawa di Malang Selatan yang Memikat Wisatawan
“Memang kunjungan meningkat, tapi lama tinggal wisatawan menurun. Banyak yang hanya datang sebentar lalu kembali, tidak menginap,” ujar Nunung.
Setelah mencapai puncak kunjungan pada 24 Maret, jumlah wisatawan tercatat menurun menjadi 14.924 orang pada 25 Maret. Penurunan ini dinilai sebagai tren wajar pasca puncak libur panjang, namun tetap menjadi bahan evaluasi.
Pemerintah daerah bersama pelaku wisata diharapkan tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga kualitas kunjungan. Salah satunya dengan mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama agar dampak ekonomi dapat dirasakan lebih optimal oleh pelaku usaha lokal.
Baca Juga : Kafe 360 Derajat Bromo Hillside, Sensasi Ngopi Di Kafe Tertinggi Jawa Timur
Tanpa pembenahan yang serius, tingginya angka kunjungan dikhawatirkan hanya bersifat sementara dan belum mampu memberikan kontribusi maksimal terhadap sektor pariwisata dan ekonomi daerah.
Editor : JTV Madiun



















