MALANG - PortalJTV – Kemudahan akses layanan keuangan digital membuat generasi muda semakin dekat dengan berbagai produk finansial. Di tengah maraknya transaksi digital, paylater hingga cicilan, kemampuan memahami dan mengelola keuangan menjadi bekal penting yang perlu ditanamkan sejak bangku sekolah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Departemen Statistika Bisnis Fakultas Vokasi ITS. Kampus teknologi tersebut menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk ELEVATE 2026 (Empowering Literacy, Education, Values, and Technology Economy) di SMA Integral Ar-Rohmah Malang, Selasa (11/8/2026).
Program tersebut tidak hanya berfokus pada penyampaian materi literasi keuangan syariah, tetapi juga memberikan pelatihan dashboard perencanaan keuangan. Melalui pendekatan tersebut, para siswa diajak memahami pengelolaan keuangan secara lebih praktis dengan memanfaatkan teknologi.
Baca Juga : GAPASDAP Minta Penerapan Biodiesel B50 untuk Kapal Dikaji Ulang
Ketua Pengabdian Masyarakat Departemen Statistika Bisnis ITS, Fausania Hibatullah, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk menjawab tantangan yang dihadapi pelajar di tengah perubahan perilaku keuangan akibat perkembangan teknologi digital.

“Anak-anak sekarang sudah sangat dekat dengan transaksi digital. Karena itu, kami melihat literasi keuangan tidak cukup hanya diberikan dalam bentuk teori, tetapi perlu dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian mereka,” ujar Fausania.
Baca Juga : ITS Loloskan 1.716 Mahasiswa Baru Lewat Jalur SNBP 2026
Menurutnya, pemahaman mengenai keuangan perlu dibangun sebelum siswa benar-benar menghadapi keputusan finansial yang lebih kompleks.
“Kami ingin mereka mulai memahami sejak sekarang bahwa setiap keputusan keuangan memiliki konsekuensi. Jadi, ketika nanti mereka sudah memiliki penghasilan sendiri, mereka tidak hanya tahu cara membelanjakan uang, tetapi juga mampu merencanakan dan mengelolanya,” katanya.
Baca Juga : Harumkan Indonesia, Barunastra ITS Juara Dunia RoboBoat 2026 di Florida
Fausania menambahkan, penguatan literasi keuangan syariah menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut karena siswa tidak hanya dikenalkan pada aspek pengelolaan uang, tetapi juga nilai dan prinsip yang mendasarinya.
“Keuangan syariah bukan sekadar soal produk keuangan, tetapi juga bagaimana seseorang mengambil keputusan dengan mempertimbangkan nilai, tanggung jawab, keadilan dan kebermanfaatan,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan pengalaman yang bisa diterapkan siswa setelah program berakhir.
Baca Juga : Peluang Emas Sarjana Teknik Kelautan, Indonesia Butuh 15 Ribu Insinyur Maritim
“Harapan kami, setelah kegiatan ini mereka tidak berhenti pada pengetahuan yang didapat hari ini. Mereka bisa membawa kebiasaan mencatat, merencanakan dan mengevaluasi keuangannya dalam kehidupan sehari-hari,” tandasnya.

Dosen senior Departemen Statistika Bisnis Fakultas Vokasi ITS, Dr. Drs. Brodjol Sutijo Suprih Ulama, M.Si., mengatakan literasi keuangan perlu dikenalkan sejak usia sekolah. Menurutnya, siswa tidak cukup hanya mengetahui cara menggunakan uang, tetapi juga perlu memahami bagaimana merencanakan dan mempertanggungjawabkan keputusan finansial.
“Literasi keuangan perlu dibangun sejak usia sekolah. Anak-anak perlu dikenalkan bukan hanya bagaimana mendapatkan dan menggunakan uang, tetapi juga bagaimana merencanakannya,” ujarnya.
Brodjol menjelaskan, perkembangan teknologi membuat akses terhadap layanan keuangan semakin cepat dan mudah. Kondisi tersebut sekaligus menuntut generasi muda memiliki kemampuan menyaring berbagai pilihan finansial sebelum mengambil keputusan.
“Ketika akses terhadap layanan keuangan semakin mudah, kemampuan mengambil keputusan keuangan juga harus ikut diperkuat,” katanya.
Ia menambahkan, edukasi keuangan tidak seharusnya berhenti pada pemahaman teori. Menurutnya, siswa perlu mendapatkan pengalaman praktik agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang ingin dibangun adalah kemampuan siswa untuk berpikir sebelum mengambil keputusan finansial. Mereka perlu memahami kebutuhan, kemampuan, risiko dan konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, ITS juga membawa perspektif keuangan syariah. Konsep ini tidak hanya berbicara mengenai keuntungan, tetapi juga menekankan aspek etika, keadilan serta tanggung jawab dalam pengelolaan keuangan.
“Keuangan syariah memberikan perspektif bahwa keputusan finansial juga memiliki dimensi nilai. Ada prinsip-prinsip yang perlu dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya.
Untuk memperkuat edukasi, ITS menggandeng PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Sucor Sekuritas. Kolaborasi tersebut menghadirkan perspektif praktisi sehingga siswa tidak hanya memperoleh pemahaman dari sisi akademik.

“Kolaborasi dengan praktisi penting supaya siswa tidak hanya mendapatkan perspektif akademik, tetapi juga mengetahui bagaimana kondisi dan praktik di dunia keuangan,” kata Brodjol.
Dalam sesi pertama, peserta mendapatkan materi Psychology of Money (Why?) dengan tema “Mengenal dirimu dan uangmu dengan membangun mindset keuangan syariah di era digital.”
Materi yang disampaikan Hesty Tri Budiharti dari PT Bursa Efek Indonesia tersebut membahas hubungan generasi muda dengan uang di era digital, money mindset dari perspektif Islam dan halal lifestyle.
Peserta juga diajak memahami risiko berbagai transaksi digital, termasuk penggunaan paylater dan cicilan berbunga.
Selanjutnya, materi Money Management (How?) dengan tema “Langkah kecil berdampak besar dengan memulai perjalanan finansial sejak bangku sekolah” disampaikan Dini Safitri dari PT Sucor Sekuritas.
Materi tersebut membahas literasi keuangan syariah, prinsip pengelolaan keuangan serta pentingnya membangun kebiasaan finansial berkelanjutan melalui pencatatan keuangan.
“Pengelolaan keuangan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kebiasaan sederhana seperti mencatat pemasukan dan pengeluaran bisa menjadi langkah awal,” jelas Dini.
Selain materi, peserta juga mendapatkan pelatihan dashboard perencanaan keuangan. Teknologi tersebut diperkenalkan sebagai alat bantu agar siswa dapat melakukan pencatatan, menyusun rencana serta melihat kondisi keuangan secara lebih sistematis.
Brodjol menyebut pendekatan berbasis praktik menjadi salah satu bagian penting dalam program tersebut.
“Dashboard ini diharapkan menjadi alat bantu agar siswa bisa melihat kondisi keuangannya dengan lebih terstruktur. Jadi, mereka tidak hanya mendengar materi, tetapi langsung mencoba,” ungkapnya.
Ia menilai teknologi dapat menjadi instrumen edukasi apabila digunakan secara tepat.
“Teknologi seharusnya tidak hanya digunakan untuk transaksi, tetapi juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan pengendalian keuangan,” tandasnya.
Sementara itu, Ust. Devi Wisudawan, S.Si., salah satu jajaran pimpinan yang menjabat sebagai Kepala Sekolah di bawah naungan lembaga Ar-Rohmah, menyambut positif pelaksanaan program tersebut.
Menurut Devi, edukasi literasi keuangan memiliki relevansi dengan kebutuhan siswa karena perkembangan teknologi membuat mereka semakin mudah berinteraksi dengan berbagai bentuk transaksi digital.
“Kegiatan seperti ini sangat relevan dengan kondisi anak-anak sekarang. Mereka tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang membuat berbagai transaksi menjadi sangat mudah,” ujar Devi.
Ia menilai siswa perlu memiliki pemahaman yang memadai agar kemudahan tersebut tidak membuat mereka mengambil keputusan finansial secara sembarangan.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran ketika menggunakan teknologi tersebut, khususnya dalam hal keuangan,” katanya.
Devi juga mengapresiasi pendekatan ITS yang menggabungkan materi literasi dengan praktik penggunaan dashboard perencanaan keuangan.
“Menurut kami, pendekatan praktik seperti ini sangat baik. Anak-anak tidak hanya menerima materi, tetapi juga diajak mencoba bagaimana membuat perencanaan dan melihat kondisi keuangan secara lebih terarah,” jelasnya.
Ia berharap pembelajaran tersebut dapat membentuk kebiasaan positif yang terbawa dalam kehidupan siswa.
“Harapannya, apa yang mereka dapatkan hari ini bisa menjadi kebiasaan. Mulai dari membedakan kebutuhan dan keinginan, mencatat pengeluaran, sampai mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan,” tandasnya.
Rangkaian ELEVATE 2026 juga diisi sesi tanya jawab, praktik penggunaan dashboard keuangan, post test, pengisian kuesioner kepuasan peserta, hingga awarding dan penyerahan cinderamata.
Melalui kegiatan tersebut, ITS berharap siswa memiliki fondasi literasi keuangan yang lebih kuat sekaligus mampu menerapkan prinsip pengelolaan keuangan secara mandiri. (Rafli)
Editor : JTV Malang



















