SURABAYA - Upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di SDN Jemur Wonosari 1 Surabaya, Senin (17/8/2026).
Upacara dilaksanakan dengan suasana yang berbeda. Pengibaran Sang Merah Putih tidak hanya diiringi lagu kebangsaan yang dinyanyikan bersama, melainkan juga iringan keyboard secara langsung yang dimainkan oleh seorang siswa kelas VI.
Iringan keyboard tersebut dimainkan oleh Yusuf Yudhistira Hakim, siswa kelas VI C SDN Jemur Wonosari 1 Surabaya. Keyboard yang telah disiapkan di sisi lapangan upacara dimainkan untuk mengiringi lagu “Indonesia Raya” ketika bendera Merah Putih dikibarkan oleh pasukan pengibar bendera.
Kekhidmatan upacara juga dirasakan saat sesi mengheningkan cipta dilaksanakan. Alunan keyboard yang dimainkan Yusuf dipadukan dengan suara kelompok paduan suara SDN Jemur Wonosari 1 Surabaya. Suasana penghormatan kepada para pahlawan pun dibangun dengan lebih tenang dan penuh penghayatan.
Tidak hanya lagu “Indonesia Raya” dan mengheningkan cipta, lagu wajib nasional “Hari Merdeka” turut dibawakan secara langsung. Lagu tersebut dinyanyikan oleh kelompok paduan suara sekolah dengan iringan keyboard yang dimainkan Yusuf.
Penampilan musik secara langsung ini menjadi bagian yang menarik dalam pelaksanaan upacara HUT ke-81 RI di SDN Jemur Wonosari 1 Surabaya. Untuk ukuran kegiatan di sekolah dasar, keterlibatan seorang siswa dalam mengiringi lagu kebangsaan, mengheningkan cipta, dan lagu wajib nasional secara langsung merupakan hal yang tidak biasa ditemukan.
Dalam banyak pelaksanaan upacara, iringan lagu masih sering diperdengarkan melalui rekaman audio. Namun, pada upacara kali ini, iringan musik telah dimainkan secara langsung oleh seorang siswa yang menjadi bagian dari tim paduan suara sekolah.
Peran Yusuf tidak dijalankan secara sendiri-sendiri. Ia telah menjadi satu kesatuan bersama anggota paduan suara yang diberi tugas untuk mengiringi dan membawakan lagu-lagu nasional selama upacara berlangsung. Kekompakan antara pemain keyboard, penyanyi, dan pasukan pengibar bendera telah ditampilkan dalam setiap rangkaian acara.
Ketepatan tempo juga diperlukan agar musik dapat diselaraskan dengan gerakan pasukan pengibar bendera. Sementara itu, suara paduan suara harus dijaga agar tetap serasi dengan iringan keyboard. Karena itu, latihan dan pembagian peran telah dilakukan sebelum upacara diselenggarakan.
Melalui penampilan tersebut, potensi seni siswa telah diberikan ruang untuk ditunjukkan dalam kegiatan yang sarat nilai kebangsaan. Kemampuan bermain keyboard tidak hanya ditampilkan sebagai hiburan, tetapi juga dimanfaatkan untuk mendukung prosesi penghormatan terhadap bangsa dan para pahlawan.
Kepala SDN Jemur Wonosari 1 Surabaya, Suparman, S.Pd., M.M., menyampaikan bahwa peringatan kemerdekaan tahun ini tidak dimaknai sekadar sebagai kegiatan upacara rutin.
“Hari ini, 17 Agustus 2026, bukan sekadar upacara bendera biasa. Saya melihat api semangat yang berbeda di mata anak-anak kelas 1 hingga kelas 6. Ada kebanggaan saat mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya, ada kekhusyukan saat mengheningkan cipta, dan ada senyum tulus saat saling bersalaman,” ujar Suparman.
Menurutnya, semangat nasionalisme dapat diwujudkan dalam tindakan sederhana di lingkungan sekolah. Nilai cinta tanah air, kata dia, dapat ditanamkan melalui kepedulian kepada sesama, kedisiplinan, serta kemauan untuk menjaga lingkungan sekolah.
“Di usia Republik yang ke-81 ini, saya merasakan bahwa nasionalisme tidak lagi jauh, tetapi hidup dalam hal-hal sederhana, ketika siswa membantu teman yang jatuh, ketika guru mengajar dan mendidik dengan hati, dan ketika kita semua menjaga kebersihan sekolah,” katanya.
Suparman menambahkan, SDN Jemur Wonosari 1 Surabaya berupaya membangun kecintaan kepada Indonesia dari lingkungan yang paling dekat dengan peserta didik.
“SDN Jemur Wonosari 1 telah membuktikan bahwa cinta tanah air dimulai dari mencintai lingkungan terdekat kita,” tuturnya.
Dalam pesannya kepada para siswa, Suparman mengingatkan bahwa kemerdekaan harus diisi dengan upaya memperbaiki diri dan berprestasi. Para siswa didorong untuk menjadi pelajar yang cerdas, berkarakter, serta memiliki keimanan yang kuat.
“Merdeka itu bukan hanya tentang bebas dari penjajah, tapi bebas menjadi versi terbaik diri sendiri,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya membentuk karakter Pelajar Pancasila. Siswa diharapkan dapat menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, mulia dalam sikap, dan kuat dalam keimanan, tanpa mudah terpecah oleh perbedaan.
“Jadilah Pelajar Pancasila sejati: cerdas otaknya, mulia hatinya, dan kuat imannya. Jangan mudah terpecah belah oleh perbedaan,” kata Suparman.
Selain itu, para siswa juga diminta untuk mengisi kemerdekaan melalui kebiasaan-kebiasaan baik. Rajin belajar, jujur, disiplin, bertanggung jawab, serta bersikap sopan kepada orang tua dan guru disebut sebagai bentuk perjuangan generasi muda dalam menghadapi tantangan masa kini.
“Rajin belajar, jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan sopan kepada orang tua serta guru. Itulah cara kalian berperang melawan kebodohan dan kemalasan,” pesannya.
Pesan mengenai persatuan juga disampaikan kepada seluruh siswa. Kerukunan antarteman perlu dijaga agar lingkungan sekolah dapat menjadi ruang belajar yang aman, damai, dan ramah bagi semua.
“Seperti warna merah dan putih yang tidak bisa dipisahkan, jagalah kerukunan antar teman. Sekolah yang ramah adalah sekolah yang damai,” ungkapnya.
Apresiasi turut diberikan kepada para guru dan tenaga kependidikan yang telah mendampingi siswa dalam proses pendidikan dan pembentukan karakter. Menurut Suparman, kolaborasi seluruh warga sekolah diperlukan untuk menciptakan generasi yang siap membawa Indonesia menuju kemajuan.
“Terima kasih kepada Bapak/Ibu Guru dan staf yang telah menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter bangsa. Mari terus bersinergi, karena pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk kemajuan Indonesia,” ujarnya.
Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di SDN Jemur Wonosari 1 Surabaya akhirnya tidak hanya meninggalkan kesan sebagai kegiatan seremonial tahunan. Kekhidmatan prosesi telah diperkuat oleh alunan keyboard langsung yang dimainkan Yusuf Yudhistira Hakim bersama suara paduan suara sekolah.
Melalui kolaborasi tersebut, semangat kemerdekaan telah dihadirkan secara sederhana, kreatif, dan bermakna. Sang Merah Putih dikibarkan dengan khidmat, sementara lagu-lagu kebangsaan dibawakan oleh para siswa yang sedang belajar memahami arti perjuangan, persatuan, tanggung jawab, dan cinta kepada Indonesia. (*)
Editor : M Fakhrurrozi



















