Menu
Pencarian


Eling Asale, Eling Baline: Muktamar Tambakberas dan Jalan Pulang NU

Portaljtv.com - Rabu, 12 Agustus 2026 14:10
Eling Asale, Eling Baline: Muktamar Tambakberas dan Jalan Pulang NU
Zainal Muttaqin (Foto: Istimewa)

Senin pagi lalu, saya sowan ke makam KH Abdul Wahab Chasbullah di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Kebetulan letaknya tak jauh dari rumah saya. Bukan tanpa alasan saya memilih tinggal di sekitar Tambakberas, dekat dengan pusara Mbah Wahab.

Semua bermula dari rasa cinta: cinta kepada Tambakberas, kepada Mbah Wahab, serta kepada para kiai dan guru-guru yang pernah mendidik dan membentuk perjalanan hidup saya.

Saya memang sengaja memilih Senin. Pada hari itu, kompleks makam biasanya relatif lengang. Berbeda dengan Jumat, ketika ratusan santri dari berbagai ribath dan asrama datang bergantian untuk berziarah.

Sabtu dan Minggu lain lagi. Rombongan peziarah dari berbagai kota berdatangan, bus-bus silih berganti membawa orang-orang yang ingin melangitkan do'a untuk salah seorang muassis Nahdlatul Ulama itu.

Pagi yang lengang memberi kesempatan untuk duduk lebih lama.

Saya membaca tawashul, huwal habib, dan doa-doa, lalu diam sejenak di dekat pusara seorang kiai yang puluhan tahun lalu hanya saya kenal dari lembar-lembar buku ke-NU-an.

Jombang memang semakin ramai sebagai tujuan wisata religi. Terutama setelah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur wafat dan dimakamkan di Tebuireng pada 2009. Ribuan orang kemudian datang ke Jombang untuk berziarah. Perjalanan itu sering berlanjut dari satu pesantren ke pesantren lainnya.

Tambakberas ikut merasakan denyut tersebut. Terlebih setelah Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada KH Abdul Wahab Chasbullah pada 2014. Makam Mbah Wahab semakin banyak dikunjungi masyarakat, khususnya warga Nahdliyin.

Tetapi pagi itu saya merasa ziarah seharusnya tidak berhenti pada datang, membaca doa, lalu pulang. Ziarah adalah perjalanan ingatan.

Orang Jawa mempunyai pitutur sederhana: eling asale, eling baline. Ingat dari mana kita berasal, dan ingat ke mana akhirnya kita kembali.

Di depan pusara Mbah Wahab pagi itu, kalimat tersebut terasa berbeda. Apalagi beberapa pekan lagi, 27–31 Agustus 2026, Nahdlatul Ulama akan menggelar Muktamar ke-35 di Bumi Tambakberas. NU seperti sedang pulang.

Menanam Ingatan

Muktamar tentu akan berbicara tentang masa depan. Tentang kepemimpinan, program, keputusan organisasi, persoalan umat dan arah NU memasuki abad keduanya.

Tetapi sebelum berbicara terlalu jauh tentang masa depan, barangkali kita perlu sesekali menoleh ke belakang. Eling asale.

NU lahir pada 31 Januari 1926. Tetapi memahami asal-usul NU tentu tidak cukup dengan menghafalkan tanggal kelahirannya.

Di belakang tanggal itu terdapat perjalanan panjang para ulama dan pesantren. Ada Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri dan para muassis lainnya. Ada pula Syaikhona Kholil Bangkalan dan kisah isyarat spiritual melalui tongkat dan tasbih yang disampaikan melalui KH As'ad Syamsul Arifin kepada Kiai Hasyim.

NU, dengan demikian, tidak lahir hanya dari sebuah rapat. Ada musyawarah, tetapi juga istikharah. Ada strategi, tetapi juga tirakat. Ada struktur, tetapi juga kultur. Ada ikhtiar, tetapi juga doa.

Itulah sebabnya saya selalu merasa NU bukan semata-mata organisasi yang mempunyai sejarah. NU mempunyai sanad. Sanad ilmu. Sanad perjuangan. Sanad kebangsaan. Sanad adab. Bahkan sanad doa.

Maka ketika hari ini NU tumbuh menjadi salah satu organisasi Islam terbesar dengan jaringan pesantren, lembaga pendidikan, rumah sakit, perguruan tinggi, badan usaha dan jutaan jamaah, kita tidak boleh hanya terpesona kepada besarnya pohon.

Sesekali kita harus menunduk untuk mengingat siapa yang dahulu menanam akarnya.

Kiai Segalanya

Di antara orang-orang yang menanam itu adalah kiai yang makamnya sedang saya ziarahi pagi itu. Mbah Wahab adalah pribadi yang selalu menarik bagi saya. Ia seakan tidak pernah kehabisan cara untuk berjuang.

Sebelum NU berdiri, ia telah bergerak melalui Nahdlatul Wathan dalam bidang pendidikan, Tashwirul Afkar sebagai ruang pertukaran gagasan, dan Nahdlatut Tujjar untuk menggerakkan ekonomi umat.

Ia memahami pentingnya organisasi. Memahami media. Memahami komunikasi massa. Pandai bernegosiasi. Mampu membangun jejaring. Dan ketika harus masuk ke gelanggang politik dan pemerintahan, ia juga tidak canggung melakukannya.

Dalam bahasa hari ini, mungkin kita akan menyebut Mbah Wahab sebagai komunikator, negosiator, networker sekaligus praktisi public relations yang sangat ulung.

Namun kecanggihan Mbah Wahab justru terletak pada kemampuannya bergerak mengikuti zaman tanpa tercerabut dari akarnya.

Ia dekat dengan kekuasaan, tetapi kedekatan itu digunakan untuk memperjuangkan kepentingan umat dan bangsa. Ia memahami politik, tetapi tidak menjadikan politik sebagai tujuan akhir. Ia seorang organisator, tetapi organisasi baginya tetap merupakan jalan pengabdian.

Bergerak mengikuti zaman, tanpa kehilangan pedoman. Barangkali itulah salah satu makna eling asale yang diwariskan Mbah Wahab.

Warisan Besar

Duduk di depan makam membuat manusia melihat jabatan secara berbeda. Di sana tidak ada Rais Aam. Tidak ada menteri. Tidak ada pejabat. Tidak ada ketua. Tidak ada calon ini dan itu.

Yang ada hanyalah nama, tanggal lahir, tanggal wafat, dan jejak amal yang ditinggalkan.

Mungkin karena itu ziarah selalu baik bagi siapa pun yang sedang berada di sekitar kekuasaan. Ia mengembalikan perspektif. Begitu pula menjelang Muktamar.

Kontestasi adalah sesuatu yang wajar. Muktamar memang salah satu ruang untuk menentukan kepemimpinan organisasi. Perbedaan pilihan juga tidak perlu ditakuti. Sejarah NU justru penuh dengan perdebatan.

Tetapi jangan sampai kita hanya mewarisi besarnya NU, lalu lupa mewarisi cara para kiai membesarkannya.

Para muassis berbeda pandangan, tetapi tetap menjaga adab. Berdebat, tetapi tidak kehilangan persaudaraan. Berpolitik, tetapi masih bisa sowan. Memegang prinsip, tanpa merasa harus meniadakan orang lain.

Mereka tampaknya memahami satu hal sederhana: jabatan hanyalah alat, sedangkan khidmat adalah tujuan.

Jika hari ini kontestasi membuat persaudaraan retak, mungkin yang perlu diperiksa bukan mekanisme organisasinya. Barangkali ingatan kita yang mulai pendek. Lalu, ke Mana Kembali?

Di sinilah bagian kedua pitutur Jawa tadi menjadi penting. Eling baline.

NU tentu tidak perlu kembali menjadi organisasi seperti pada 1926. Zaman telah berubah. NU harus berbicara tentang kecerdasan buatan, transformasi digital, ekonomi, pendidikan, lingkungan, geopolitik, demokrasi dan masa depan generasi muda.

NU harus maju. Tetapi semakin jauh sebuah perjalanan, semakin penting mengetahui jalan pulang. Bagi saya, jalan pulang NU adalah khidmat.

Jabatan harus kembali kepada khidmat. Politik kembali kepada maslahat. Kekuasaan kembali kepada amanah. Ilmu kembali kepada kemanfaatan. Perbedaan kembali kepada ukhuwah. Dan Muktamar harus kembali kepada kepentingan jam'iyah.

Mungkin itulah mengapa Muktamar ke-35 terasa istimewa ketika diselenggarakan di Tambakberas. NU seperti diajak pulang ke pesantren. Bukan untuk mundur ke masa lalu, tetapi untuk mengambil kembali kompas sebelum berjalan lebih jauh menuju masa depan.

Sebelum meninggalkan kompleks makam pagi itu, saya kembali memandang pusara Mbah Wahab. Sekira 25 tahun lalu, ketika masih duduk di kelas III MTs, saya mengenal sosoknya dari buku ke-NU-an. Kisah tentang kealiman, keberanian, kepiawaiannya berorganisasi dan kecintaannya kepada negeri membuat saya jatuh hati.

Hampir seperempat abad kemudian, saya semakin memahami bahwa keputusan sederhana itu menjadi salah satu titik yang mengubah jalan hidup saya.

Senin pagi itu akhirnya saya menyadari, ziarah memang bukan hanya perjalanan menuju makam orang-orang yang telah mendahului kita. Ziarah adalah perjalanan untuk menemukan kembali ingatan kita sendiri.

Tentang siapa yang mendahului. Siapa yang menanam. Siapa yang mengajari. Siapa yang mendoakan. Dan pada akhirnya, kepada siapa semua ini akan kembali.

Beberapa pekan lagi ribuan orang akan datang ke Tambakberas membawa berbagai gagasan, kepentingan, pilihan dan harapan untuk Muktamar ke-35.

Semoga sebelum memasuki ruang-ruang Muktamar, kita sempat mengingat satu pitutur sederhana: Eling asale, eling baline.

Ingatlah, NU sebesar ini tidak lahir dari perebutan. Ia lahir dari pengabdian para kiai, doa para guru, tirakat para santri, dan khidmat orang-orang yang bahkan sebagian namanya mungkin tidak pernah kita kenal.

Dan kelak, sebesar apa pun NU, ia harus tahu jalan pulangnya. NU lahir dari khidmat. Maka kepada khidmat pula, NU harus kembali.

Oleh: Zainal Muttaqin, Santri Tambakberas/Kabag Humas Kantor Gubernur Jawa Timur

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.