Menu
Pencarian


Demam Matcha Melanda: Kenapa Bubuk Teh Hijau Ini Mulai Menggeser Tahta Kopi?

Portaljtv.com - Senin, 10 Agustus 2026 14:25
Demam Matcha Melanda: Kenapa Bubuk Teh Hijau Ini Mulai Menggeser Tahta Kopi?
Jenis jenis matcha yang digemari banya orang (foto: cooking with janica)

Antrean panjang di depan kedai kopi favorit kini punya saingan baru: kedai khusus matcha. Warna hijau cerah yang dulu hanya identik dengan upacara minum teh tradisional Jepang, kini berubah menjadi standar estetika baru di linimasa media sosial dan bubuk teh hijau itu sendiri telah bertransformasi dari sekadar pilihan rasa minuman menjadi gaya hidup yang diburu banyak orang.

Salah satu daya tarik utama matcha adalah manfaat kesehatannya. Kandungan antioksidan yang tinggi berpadu dengan senyawa L-theanine, yang bekerja menyeimbangkan efek kafein sehingga memberi energi dan fokus tanpa memicu jantung berdebar atau rasa gelisah (jittery) seperti yang kerap dikeluhkan peminum kopi. Ritual penyeduhannya yang khas menggunakan bubuk halus yang dikocok dengan chasen atau kuas bambu khusus juga menjadikan momen minum matcha terasa lebih menenangkan, sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat urban akan pentingnya self-care di tengah rutinitas yang serba cepat.

Di sisi lain, warna hijau cerah matcha yang begitu fotogenik menjadikannya "bahan bakar" sempurna untuk konten media sosial. Kombinasi rasa, ritual, dan visual inilah yang membuat matcha naik kelas dari sekadar tren minuman menjadi simbol gaya hidup sehat sekaligus estetis.

Semakin populernya matcha juga membuat konsumen awam makin melek soal jenis-jenisnya. Secara umum, matcha terbagi menjadi dua kelas utama: ceremonial grade dan culinary/cooking grade. Ceremonial grade dibuat dari daun teh pilihan panen pertama, digiling halus dengan warna hijau paling cerah dan rasa umami yang lembut, biasanya disajikan murni tanpa campuran susu atau gula cocok untuk penikmat teh sejati. Sementara itu, culinary grade memiliki rasa yang lebih kuat dan pahit, dirancang khusus untuk dicampur dalam minuman seperti matcha latte atau dipakai dalam kudapan seperti kue dan es krim, dengan harga yang jauh lebih terjangkau untuk kebutuhan produksi massal.

Baca Juga :   Bersiaplah! BOYNEXTDOOR Akan Rilis Single Jepang dan Album Repackage

Namun, di balik gemerlap tren ini, tersimpan kisah yang tak seindah kelihatannya. Ledakan permintaan matcha secara global justru membuat para petani teh di Jepang kewalahan. Harga lelang tencha bahan baku utama matcha di Kyoto dilaporkan melonjak hingga 170 persen dibanding tahun sebelumnya, sementara sejumlah produsen teh ternama di Kyoto bahkan terpaksa membatasi jumlah pembelian karena stok yang kian menipis. Kondisi ini diperparah oleh gelombang panas ekstrem yang merusak hasil panen, serta kenyataan bahwa tanaman teh baru membutuhkan waktu sekitar lima tahun sebelum bisa dipanen sempurna membuat pasokan sulit mengejar laju permintaan yang terus melonjak drastis, bahkan disebut bisa naik hingga 20-30 persen dalam setahun.

Fenomena ini menciptakan situasi ironis: semakin dunia jatuh cinta pada matcha, semakin besar pula tekanan yang ditanggung petani-petani kecil di pedesaan Jepang yang justru kesulitan mempertahankan warisan pertanian keluarga mereka di tengah gempuran permintaan global.

Meski menghadapi tantangan pasokan, para pelaku industri meyakini matcha bukan sekadar tren yang akan cepat berlalu. Pasar matcha global diperkirakan telah mencapai kisaran 3,6 hingga 4,3 miliar dolar AS pada 2024-2025 dan masih terus tumbuh sekitar 7-10 persen setiap tahunnya. Di Indonesia sendiri, kedai-kedai spesialis matcha terus menjamur di kota-kota besar, menandakan bahwa minuman hijau ini telah mengukuhkan posisinya bukan lagi sebagai alternatif kopi semata, melainkan kategori minuman mapan dengan basis penggemar setianya sendiri.

Baca Juga :   Daftar Negara yang Lolos 16 Besar Piala Dunia 2026: Maroko dan Paraguay Beri Kejutan, Pulangkan Belanda-Jerman Lebih Cepat

Jadi, saat kamu mengantre demi segelas matcha latte favorit berikutnya, ingatlah bahwa di balik warna hijaunya yang menyegarkan, ada kisah panjang tentang petani teh Jepang yang tengah berjuang mengimbangi demam global yang datang begitu cepat. (Naswa Thalita Zada)

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.