PROBOLINGGO - Petugas gabungan terus melakukan patroli dan pemantauan selama 24 jam untuk mengawal penanganan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.
Patroli dilakukan hingga malam hari untuk mengantisipasi munculnya titik api baru sekaligus mencegah bara yang masih tersisa kembali membesar dan merembet ke kawasan lainnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kobaran api yang sebelumnya melanda kawasan TNBTS kini tinggal menyisakan beberapa titik. Di antaranya berada di kawasan Dengklek, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, serta Bukit P30, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, mengatakan kondisi tersebut tidak membuat petugas mengurangi kewaspadaan. Patroli tetap dilakukan secara intensif, terutama pada malam hari.
Baca Juga : Kebakaran Hutan dan Lahan di Bromo Capai 50 Hektar
"Meski api tinggal beberapa titik, petugas tetap melakukan pemantauan dan patroli. Ini untuk memastikan tidak ada titik api baru yang kemudian berkembang menjadi kebakaran besar," ujar Oemar, Senin (10/8/2026).
Menurut Oemar, patroli malam menjadi bagian penting dalam pengendalian kebakaran karena petugas harus memastikan bara maupun api berukuran kecil dapat segera ditangani.
"Ketika ditemukan bara api atau api dalam skala kecil, petugas bisa langsung melakukan pemadaman," katanya.
Baca Juga : Waspada! Angin Gending Terjang Probolinggo, Picu ISPA hingga Risiko Kebakaran
Pemadaman dilakukan secara manual dengan peralatan sederhana maupun menggunakan air, menyesuaikan kondisi dan lokasi titik api yang ditemukan petugas.
"Kalau titik apinya memungkinkan untuk dilakukan pemadaman secara manual, langsung dilakukan. Bisa dengan gepyok maupun penyiraman," jelas Oemar.
Ia menambahkan, patroli malam juga menjadi langkah antisipasi karena operasi pemadaman dari udara tidak dapat dilakukan secara maksimal pada malam hari.
Baca Juga : Banjir Rendam 5 Kecamatan di Kabupaten Probolinggo, Warga Sebut Terbesar Sepanjang 2026
"Untuk pemadaman menggunakan drone water spray maupun helikopter water bombing tidak bisa dilakukan malam hari," ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat pemantauan langsung oleh personel di lapangan menjadi sangat penting. Petugas harus menyisir lokasi-lokasi yang masih memiliki potensi munculnya titik api.
"Jadi malam hari kita lebih mengandalkan petugas di lapangan untuk melakukan pemantauan dan patroli," tegas Oemar.
Baca Juga : Banjir Empat Kali Sejak Januari, Tiga Dusun di Gending Kembali Terendam
Patroli dilakukan oleh tim gabungan yang melibatkan BNPB, BPBD Jawa Timur, BPBD Kabupaten Probolinggo, Balai Besar TNBTS, TNI-Polri, serta relawan.
Mereka disiagakan untuk memantau perkembangan api sekaligus melakukan tindakan cepat apabila menemukan bara atau titik api yang berpotensi meluas.
Oemar mengatakan, meningkatnya kewaspadaan pada malam hari juga tidak terlepas dari pengalaman kebakaran yang kembali membesar pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026.
Baca Juga : Tiga Jembatan Putus diterjang Banjir di Probolinggo
"Kejadian api kembali membesar pada malam hari menjadi pelajaran bagi kita. Kesiapsiagaan petugas memang harus dilakukan selama 24 jam," ujarnya.
Menurutnya, kondisi medan dan vegetasi yang kering membuat petugas harus terus mengantisipasi kemungkinan api kembali menjalar.
"Jangan sampai titik api yang kecil kemudian tidak terpantau, lalu membesar dan merembet ke kawasan lain. Karena itu patroli terus dilakukan," imbuhnya.
Hingga Senin (10/8/2026), seluruh pintu masuk menuju kawasan wisata Gunung Bromo masih ditutup total. Penutupan akses diberlakukan dari sejumlah jalur masuk Bromo di Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang.
Kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga keselamatan wisatawan sekaligus memberikan ruang bagi petugas gabungan untuk fokus melakukan penanganan dan pemantauan kebakaran.
Petugas mengimbau masyarakat maupun wisatawan tidak memaksakan diri memasuki kawasan Bromo yang masih terdampak kebakaran. Akses wisata akan kembali dibuka setelah kondisi kawasan dinyatakan aman dan penanganan kebakaran dinilai telah terkendali. (*)
Editor : M Fakhrurrozi

















