KOTA BATU - PortalJTV – Mengenal harimau tidak harus berhenti pada kekaguman melihat tubuh besar, loreng khas, dan gerak predator puncak. Di Tiger Land, Batu Secret Zoo, Jatim Park 2, Kota Batu, pengunjung diajak melihat lebih dekat keberagaman harimau sekaligus memahami tantangan konservasi yang dihadapi satwa tersebut di alam liar.

Kawasan ini menjadi salah satu zona yang menawarkan pengalaman observasi berbagai jenis kucing besar. Habitat dirancang dengan memperhatikan karakter satwa, sementara area pengunjung dibuat memungkinkan proses pengamatan berlangsung aman tanpa mengganggu aktivitas harimau.
General Manager Batu Secret Zoo, Agus Mulyanto, mengatakan Tiger Land tidak hanya dikembangkan sebagai tempat untuk melihat satwa, tetapi juga sebagai ruang edukasi mengenai keberagaman spesies dan pentingnya menjaga kelestariannya.
“Kami ingin setiap pengunjung memiliki kesempatan untuk mengenal lebih dekat karakter setiap spesies harimau. Jadi bukan hanya datang, melihat, kemudian selesai, tetapi ada pengetahuan yang bisa dibawa pulang,” ujar Agus, Senin (11/8/2026).
Menurutnya, keberadaan berbagai koleksi harimau dalam satu kawasan memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk melihat perbedaan karakteristik masing-masing subspesies.
“Setiap harimau memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari ukuran tubuh, pola loreng, ketebalan bulu maupun habitat asalnya. Perbedaan itu menjadi bagian penting dari edukasi yang ingin kami sampaikan kepada pengunjung,” jelasnya.

Salah satu yang dapat ditemui yakni Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae). Satwa endemik Indonesia tersebut memiliki ukuran tubuh relatif lebih kecil dengan pola loreng yang lebih rapat sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan hutan tropis.
Agus menilai pengenalan Harimau Sumatra menjadi penting karena satwa tersebut menghadapi tekanan serius di habitat alaminya.
“Harimau Sumatra merupakan salah satu satwa yang harus mendapatkan perhatian besar. Melalui keberadaannya di sini, kami ingin mengingatkan bahwa menjaga satwa bukan hanya tugas lembaga konservasi, tetapi membutuhkan kepedulian bersama,” katanya.
Selain Harimau Sumatra, Tiger Land juga menghadirkan Harimau Bengal (Panthera tigris tigris) yang berasal dari kawasan Asia Selatan. Subspesies ini dikenal memiliki tubuh besar dan postur yang kokoh dengan pola loreng hitam yang kontras pada bulu oranye.
Sementara itu, Harimau Siberia (Panthera tigris altaica) turut melengkapi koleksi. Subspesies yang berasal dari kawasan Rusia Timur tersebut dikenal sebagai salah satu harimau dengan ukuran tubuh terbesar dan memiliki bulu lebih tebal untuk beradaptasi dengan suhu dingin.
“Kalau pengunjung melihat Harimau Sumatra, Bengal dan Siberia, mereka bisa belajar bahwa lingkungan tempat hidup ikut memengaruhi bentuk dan karakter satwa. Ini yang menjadi menarik ketika edukasi konservasi dikemas melalui pengalaman melihat langsung,” ungkap Agus.

Tak hanya harimau, Tiger Land juga menjadi habitat bagi sejumlah jenis macan dari berbagai wilayah. Setiap area dilengkapi informasi mengenai nama ilmiah, persebaran, pola makan, karakteristik fisik hingga status konservasi satwa.
Menurut Agus, penyediaan informasi tersebut sengaja dilakukan agar pengunjung tidak sekadar mendapatkan pengalaman rekreasi.
“Kami berusaha memberikan informasi yang mudah dipahami. Harapannya, setelah melihat satwa, pengunjung juga mengetahui dari mana asalnya, bagaimana karakteristiknya, apa yang dimakannya, dan bagaimana kondisi konservasinya,” tuturnya.
Ia menambahkan, pendekatan edukasi menjadi bagian penting dalam pengelolaan kawasan satwa modern.
“Rekreasi dan edukasi bisa berjalan bersama. Ketika orang merasa senang berkunjung, kemudian mendapatkan pengetahuan baru tentang satwa, kami berharap akan tumbuh rasa peduli terhadap keberadaan mereka di alam,” imbuhnya.
Pengunjung juga dapat mengamati berbagai aktivitas alami satwa, mulai dari berjalan mengelilingi habitat, beristirahat di bawah pepohonan hingga bermain air. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari pengalaman observasi tanpa harus mengganggu kenyamanan satwa.
Agus mengatakan, pihaknya terus berupaya menjaga agar pengalaman pengunjung tetap sejalan dengan prinsip kesejahteraan satwa.
“Yang paling utama tentu kenyamanan satwa. Pengunjung bisa melihat dan belajar, tetapi aktivitas tersebut tetap harus memperhatikan kondisi serta perilaku alami satwa,” tegasnya.
Keberadaan Tiger Land sekaligus memperkuat peran Batu Secret Zoo sebagai destinasi yang menggabungkan rekreasi, edukasi dan konservasi di Kota Batu.
Agus berharap pengalaman pengunjung di Tiger Land tidak berhenti ketika mereka meninggalkan kawasan wisata.
“Kami berharap pesan konservasi ini bisa dibawa pulang. Ketika masyarakat semakin mengenal satwa dan memahami ancaman yang mereka hadapi, kepedulian terhadap lingkungan juga diharapkan semakin tumbuh,” pungkasnya.
Melalui Tiger Land, keberagaman harimau dari berbagai belahan dunia dapat dikenalkan dalam satu kawasan. Di balik pengalaman melihat satwa secara langsung, pengunjung juga diajak memahami bahwa keberadaan predator puncak memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. (ADV)(Rafli)
Editor : JTV Malang



















