JAKARTA - Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman kesehatan serius yang perlu diwaspadai oleh masyarakat, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Penurunan kualitas udara secara drastis akibat paparan partikel abu pembakaran yang sangat halus dapat merusak sistem pernapasan dan organ vital lainnya. Guna menekan risiko penyakit kronis akibat polusi udara ini, masyarakat diimbau untuk segera menerapkan langkah-langkah mitigasi darurat serta membatasi aktivitas di luar ruangan demi melindungi keselamatan diri dan keluarga.
Kabut asap merupakan bencana lingkungan yang sering terjadi saat musim kemarau panjang, di mana kondisi hutan dan lahan gambut yang kering menjadi sangat mudah terbakar. Pembakaran lahan secara ilegal untuk pembukaan kebun baru turut memperparah bencana ini. Di samping itu, faktor arah angin dapat membawa asap pembakaran melintasi batas daerah hingga mengotori udara di wilayah yang lebih luas.
Untuk menghadapi ancaman polusi udara ini, berikut adalah enam langkah penyelamatan diri dan perlindungan kesehatan dari bencana kabut asap dan kebakaran hutan :
1. Pahami Bahaya Partikel Halus PM2.5 bagi Tubuh
Asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan mengandung partikel halus berukuran sangat kecil yang disebut PM2.5. Karena ukurannya yang teramat mikro, partikel ini dapat dengan mudah lolos dari saringan alami hidung dan menyusup hingga ke bagian terdalam paru-paru. Paparan PM2.5 ini tidak hanya memicu gangguan pernapasan, tetapi juga dapat masuk ke dalam aliran darah sehingga mengganggu kinerja sistem jantung dan pembuluh darah.
2. Kenali Berbagai Gejala Penyakit Akibat Asap
Menurunnya kualitas udara secara drastis dapat memicu berbagai gangguan kesehatan fisik. Beberapa penyakit yang sering muncul meliputi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dengan gejala batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan demam. Kabut asap juga dapat memperburuk kondisi penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan memicu serangan sesak napas bagi penderita asma. Selain pernapasan, kontak langsung dengan asap dapat menyebabkan mata merah, perih, dan berair, serta meningkatkan risiko serangan jantung.
3. Lindungi Pernapasan dengan Masker yang Tepat
Masyarakat kerap kali salah dalam memilih alat pelindung pernapasan saat kabut asap melanda. Masker kain biasa atau masker bedah tidak memiliki kerapatan yang cukup untuk menahan laju partikel halus PM2.5. Jenis masker respirator seperti N95, KN95, atau P100 merupakan pilihan pertahanan terbaik karena mampu menyaring partikel mikro di udara secara sangat efektif. Penggunaan masker ini wajib dikencangkan dengan benar agar tidak ada celah udara luar yang masuk.

4. Terapkan Strategi Ketat Perlindungan di Dalam Ruangan
Untuk menjaga agar udara di dalam rumah tetap bersih, masyarakat disarankan untuk melakukan beberapa tindakan penyekatan udara:
- Kunci seluruh jendela dan pintu rumah rapat-rapat untuk mencegah asap masuk.
- Gunakan alat penjernih udara (air purifier) yang dilengkapi dengan penyaring HEPA.
- Atur sistem pendingin ruangan (AC) pada mode sirkulasi dalam ruangan (recirculation).
- Hindari aktivitas yang dapat menghasilkan polusi baru di dalam rumah, seperti menyalakan lilin, membakar dupa, atau membersihkan debu dengan penyedot debu (vacuum cleaner).
- Selipkan kain yang lembap atau basah di celah bawah pintu luar untuk menahan rembesan asap.
5. Jaga Ketahanan Fisik dengan Pola Hidup Sehat
Menjaga kondisi tubuh tetap bugar merupakan kunci penting untuk menangkal dampak buruk polusi udara. Masyarakat dianjurkan untuk memperbanyak konsumsi air putih secara konsisten guna menjaga hidrasi tubuh sekaligus membantu membersihkan saluran tenggorokan. Selain itu, konsumsi makanan yang bergizi seimbang serta buah dan sayur yang kaya akan kandungan antioksidan sangat disarankan untuk membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh dari paparan radikal bebas.
6. Prioritaskan Perlindungan Ekstra bagi Kelompok Paling Berisiko
Paparan kabut asap memiliki tingkat bahaya yang jauh lebih besar bagi beberapa kelompok masyarakat yang rentan. Kelompok paling berisiko tersebut meliputi:
- Penderita asma dan PPOK: Wajib selalu meletakkan obat inhaler darurat di dekat mereka agar mudah dijangkau saat sesak napas menyerang.
- Anak-anak dan lansia: Memiliki sistem pertahanan paru-paru yang lebih lemah dan sensitif terhadap iritasi asap.
- Ibu hamil: Paparan partikel halus PM2.5 berisiko mengganggu proses perkembangan janin di dalam kandungan.
- Pekerja lapangan: Wajib mengenakan masker respirator khusus sepanjang jam kerja di luar ruangan.
Apabila masyarakat mengalami gejala gangguan pernapasan yang semakin memburuk seperti sesak napas parah, nyeri dada yang menusuk, batuk terus-menerus, hingga demam tinggi, segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat dari dokter.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mengimbau warga untuk selalu memantau perkembangan indeks kualitas udara secara berkala sebelum memutuskan untuk keluar rumah. Saat berada di dekat area kebakaran, keselamatan diri harus selalu diutamakan dengan tidak mencoba mendekati titik api tanpa peralatan pelindung yang memadai. Segera lakukan evakuasi secara tertib mengikuti jalur aman apabila diperintahkan oleh petugas berwenang. Masyarakat juga wajib tetap waspada setelah kebakaran padam, karena sisa abu panas dan asap dari material yang terbakar masih menyimpan bahaya tersembunyi bagi kesehatan.
Penulis dan Riset : Cahya Hafid Abdillah
Editor : Iwan Iwe



















