WASHINGTON DC - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan pernyataan kontroversial yang memanaskan eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Di tengah peperangan yang sedang berlangsung, Trump secara terbuka menyatakan niatnya untuk mendeklarasikan jalur perairan strategis Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah kedaulatan Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikan dengan penuh percaya diri setelah ia mengklaim akan segera menaklukkan Republik Islam Iran dalam konflik bersenjata yang turut melibatkan Israel sejak Sabtu (28/2/2026) lalu.
Peperangan ini sendiri diklaim oleh pihak Washington dan Tel Aviv bertujuan untuk mengakhiri program nuklir yang dikembangkan oleh Teheran. Meskipun pada awal pekan Trump sempat mengisyaratkan penggunaan langkah ekonomi ketimbang militer, retorika pencaplokan wilayah ini justru menambah babak baru perseteruan antar kedua negara.
"Setelah kita selesai mengalahkan Iran yang sedang mengalami kekalahan telak, saya akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat. Itu benar," ucap Trump dalam sebuah acara peresmian Akademi Kepolisian Nassau County yang baru di Garden City, New York, Jumat (14/8/2026).
Ambisi penguasaan teritorial tersebut muncul di tengah kondisi kebuntuan atau stalemate yang mengikat kedua belah pihak di perairan vital tersebut. Saat ini, Iran telah merespons serangan militer dengan berhasil membangun kendali de facto atas sebagian besar wilayah Selat Hormuz yang selama ini menjadi urat nadi pengiriman energi global dan komoditas lainnya.
Baca Juga : Trump Ingin Akhiri Perang Iran, Pembukaan Selat Hormuz Jadi Syarat Utama
Menghadapi situasi itu, Angkatan Laut Amerika Serikat melakukan blokade ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran dengan tujuan melumpuhkan urat nadi perekonomian negara tersebut. Akibat dari memanasnya konflik ini, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan hampir lumpuh total setelah kembali terjadinya insiden penyerangan terhadap dua kapal di perairan tersebut, menyusul kegagalan kesepakatan gencatan senjata pada Juni lalu.
"Amerika Serikat memiliki kendali penuh atas selat tersebut. Kami tidak akan segan-segan untuk meningkatkan serangan militer dan menghantam Iran dengan keras," tegasnya.
Di sisi lain, Pemerintah Iran dengan tegas menolak segala bentuk klaim sepihak yang dilontarkan oleh Washington terkait penguasaan Selat Hormuz. Teheran menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah mengizinkan jalur perairan Selat Hormuz dibuka kembali untuk pelayaran kapal sipil secara mayoritas sampai seluruh syarat utama yang mereka ajukan terpenuhi.
Baca Juga : BoP Rilis 9 Poin Kesepakatan Perdamaian Gaza, Hamas Diklaim Siap Letakkan Senjata
Adapun syarat mutlak yang diajukan oleh Iran meliputi pencabutan seluruh sanksi ekonomi yang mencekik negara tersebut serta pelepasan aset-aset finansial milik Iran yang selama ini dibekukan. Ketidaksepakatan mengenai syarat-syarat fundamental inilah yang membuat proses perundingan damai terhenti tanpa adanya penyelesaian konkret, membiarkan kapal-kapal yang melintas tanpa izin terus menjadi target operasi Iran. (Tengku Abdillah Ayyub)
Editor : Iwan Iwe



















