JOMBANG - Semarak peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tak hanya diisi oleh berbagai perlombaan meriah saja di berbagai daerah. Di Kabupaten Jombang, hiburan rakyat berupa pemutaran layar tancap tradisional menggunakan proyektor film 35 milimeter kembali dilirik dan digemari oleh masyarakat luas pada Sabtu (8/8/2026).
Sentuhan nostalgia menonton film bersama di lapangan atau ruang terbuka kini menjadi daya tarik tersendiri yang membangkitkan kenangan masa lalu, sehingga mendatangkan berkah tersendiri berupa lonjakan permintaan penyewaan menjelang perayaan hari kemerdekaan bulan Agustus ini.
"Alhamdulillah, bulan ini ramai yang nanggap. Paling satu bulan paling anjlok empat lokasi bersamaan," ujar Slamet Pujiono.
Suara gemuruh mesin proyektor tua dan putaran roll film kembali terdengar dari rumah Slamet Pujiono, warga Desa Kauman, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Pria berusia 43 tahun ini masih setia merawat proyektor film 35 milimeter produksi tahun 1980 yang kini menjadi sumber penghasilannya.
Alat pemutar film merek Xenon seri 104 ini mulai dimiliki sekitar empat tahun lalu. Slamet mendapatkannya dari seorang teman yang sudah tidak lagi menggunakannya. Kondisi bekas ditebus dengan harga Rp1.200.000, sementara koleksi filmnya kini mencapai sekitar 20 judul.
"Ini kalau pameran, jadwal ini jarak jauh, masih tetap bunyi dibandingkan apa, pameran digital," tambahnya.
Memasuki bulan kemerdekaan, permintaan penyewaan meningkat cukup signifikan. Untuk penyewaan di wilayah Jombang, tarifnya berkisar Rp800.000 hingga Rp1.000.000. Paket tersebut sudah termasuk sistem suara dan penayangan tiga judul film selama lima jam.
Sedangkan untuk luar daerah, biaya disesuaikan dengan jarak dan transportasi. Meski sparepart dan lampu proyektor semakin sulit didapatkan, Slamet tetap berupaya merawat peralatan lawas ini agar tetap beroperasi di tengah gempuran teknologi digital. "Pameran digital buat jarak jauh, kabarnya sudah kurang," pungkas Slamet.
Editor : M Fakhrurrozi



















