Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Kini, murid tidak lagi hanya belajar melalui buku cetak dan papan tulis. Berbagai platform pembelajaran, perpustakaan digital, video edukasi, permainan interaktif, hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) hadir sebagai sumber belajar yang mudah diakses kapan saja. Perubahan ini menandai bahwa digitalisasi pembelajaran bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kebutuhan.
Namun, digitalisasi tidak cukup dimaknai sebagai hadirnya perangkat teknologi di ruang kelas. Esensi perubahan justru terletak pada bagaimana teknologi mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Ketika dimanfaatkan secara tepat, teknologi memungkinkan guru menyajikan materi dalam bentuk video, infografis, simulasi, maupun kuis interaktif. Murid tidak lagi sekadar mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga mengamati, berdiskusi, mengeksplorasi, dan menghasilkan karya.
Perubahan tersebut juga menggeser cara pandang terhadap ruang belajar. Jika dahulu pembelajaran identik dengan ruang kelas, kini proses belajar dapat berlangsung di mana saja. Teknologi menjembatani pembelajaran yang lebih fleksibel tanpa menghilangkan tujuan utamanya, yaitu membangun pengetahuan, keterampilan, dan karakter murid.
Di balik berbagai kemudahan itu, muncul tantangan yang tidak ringan. Kemudahan memperoleh informasi sering kali membuat murid terbiasa menerima jawaban secara instan. Kehadiran AI, misalnya, dapat membantu mencari referensi maupun menyelesaikan berbagai tugas. Namun, tanpa pendampingan yang tepat, teknologi justru berisiko mengurangi kemampuan berpikir kritis, kreativitas, bahkan kejujuran akademik.
Baca Juga : Revitalisasi Gerakan Literasi Sekolah: Mengembalikan Roh Literasi
Di sinilah peran guru menjadi semakin penting. Digitalisasi bukan berarti menggantikan guru dengan teknologi. Sebaliknya, guru justru memiliki tanggung jawab yang lebih besar sebagai fasilitator, pembimbing, sekaligus penanam nilai. Guru membantu murid memilih informasi yang valid, memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab, serta memahami bahwa teknologi hanyalah alat, bukan tujuan pembelajaran.
Pengalaman di SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kompetensi abad ke-21 apabila dirancang dengan tepat. Salah satu bentuk implementasinya adalah pembelajaran berbasis proyek melalui pembuatan film pendek. Dalam proses tersebut, murid tidak hanya belajar mengoperasikan perangkat digital atau menyunting video. Mereka juga belajar menyusun ide, berkomunikasi, berkolaborasi, menyelesaikan konflik, serta bertanggung jawab terhadap peran masing-masing.
Proses kreatif semacam itu membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi media pembentukan karakter. Ketika murid berdiskusi menentukan alur cerita, berbagi tugas saat produksi, hingga menyelesaikan proses penyuntingan, mereka sedang belajar menghargai pendapat, disiplin terhadap waktu, serta menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Nilai-nilai tersebut sulit diperoleh apabila pembelajaran hanya berpusat pada ceramah dan hafalan.
Baca Juga : Guru Penggerak Budaya Literasi
Keberhasilan digitalisasi pembelajaran tentu tidak hanya bergantung pada guru. Sekolah perlu membangun ekosistem yang mendukung melalui penyediaan sarana, akses internet yang memadai, serta pelatihan berkelanjutan bagi tenaga pendidik. Di sisi lain, orang tua juga memiliki peran penting dalam mendampingi penggunaan teknologi di rumah agar selaras dengan tujuan pendidikan di sekolah.
Keberhasilan digitalisasi pembelajaran tidak diukur dari seberapa banyak perangkat yang digunakan atau seberapa canggih aplikasi yang dimiliki sekolah. Ukuran keberhasilannya adalah sejauh mana teknologi mampu membantu murid menjadi pribadi yang berpikir kritis, kreatif, mampu bekerja sama, serta memiliki karakter yang kuat.
Teknologi akan terus berkembang dengan sangat cepat. Akan tetapi, pendidikan tidak boleh kehilangan ruhnya. Layar digital boleh menggantikan papan tulis, buku dapat berganti menjadi gawai, bahkan AI mampu menjawab berbagai pertanyaan dalam hitungan detik. Namun, tidak ada teknologi yang mampu menggantikan keteladanan seorang guru dalam membimbing, menginspirasi, dan menumbuhkan karakter. Sebab, secanggih apa pun teknologi, masa depan pendidikan tetap ditentukan oleh manusia yang menggunakannya. (*)
Baca Juga : Jatim Jadi Barometer Nasional, Program Sekolah Rakyat Sukses Putus Rantai Kemiskinan
Oleh: Hannah Prisca Azzahra, S.Pd., SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo
Editor : Iwan Iwe



















