Menu
Pencarian


AI dan TKA: Saatnya Pembelajaran Bertransformasi

Portaljtv.com - Rabu, 8 Juli 2026 12:15
AI dan TKA: Saatnya Pembelajaran Bertransformasi
Yusuf Aliputro

“Keberhasilan bukan milik orang pintar, tetapi milik orang yang mau berusaha.”

B.J. Habibie

Ketika siswa semakin terbiasa bertanya kepada AI daripada berpikir sendiri, Tes Kemampuan Akademik (TKA) hadir sebagai cermin yang menunjukkan kemampuan sesungguhnya. Fenomena ini bukan sekadar soal ujian baru, melainkan penanda bahwa pendidikan Indonesia sedang memasuki babak baru. AI tidak bisa lagi dipandang sebagai ancaman atau sekadar alat bantu, tetapi sebagai pemicu lahirnya transformasi pembelajaran yang lebih bermakna agar siswa tidak hanya pandai mencari jawaban, tetapi juga mampu memahami, menganalisis, dan memecahkan persoalan secara mandiri.

Kebijakan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa SD, SMP, dan SMA kembali memunculkan perdebatan. Masyarakat masih mengingat Ujian Nasional (UN) yang pernah menjadi sumber tekanan bagi siswa, orang tua, dan guru. Kini, meskipun TKA tidak menjadi penentu kelulusan, hasilnya tetap menjadi salah satu syarat dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB). Akibatnya, siswa tetap dituntut memperoleh nilai yang baik agar memiliki peluang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Baca Juga :   Teknologi Boleh Canggih, Guru Tetap Penentu

Di sisi lain, perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru. Selama ini, banyak siswa memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menyelesaikan tugas sekolah tanpa memahami materi secara mendalam. Dampaknya, ketika menghadapi TKA yang dikerjakan secara mandiri, ketergantungan tersebut justru dapat menjadi kelemahan karena kemampuan berpikir siswa diuji secara langsung.

Pelaksanaan TKA sebenarnya bertujuan memetakan kemampuan akademik peserta didik secara nasional. Selama ini, belum ada standar penilaian yang seragam sehingga kualitas pembelajaran sulit dievaluasi secara objektif. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan bahwa rata-rata nilai TKA Bahasa Indonesia mencapai 60,83, sedangkan Matematika hanya 40,38. Hasil tersebut menjadi sinyal bahwa kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia masih perlu ditingkatkan.

Di sisi lain, temuan tentang kemampuan kognitif anak Indonesia dalam sejumlah studi global juga perlu dibaca sebagai pengingat bahwa penguatan pembelajaran masih menjadi pekerjaan bersama. Temuan tersebut dapat membuka pikiran bersama bahwa TKA perlu dilaksanakan di Indonesia agar anak-anak lebih terdorong untuk belajar.

Baca Juga :   AI sebagai Kawan Belajar, Bukan Jalan Pintas

Rendahnya capaian TKA seharusnya tidak dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai bahan evaluasi bersama. Guru, kepala sekolah, orang tua, dan pemerintah perlu menjadikan hasil tersebut sebagai dasar memperbaiki proses pembelajaran agar lebih efektif dan berorientasi pada penguasaan kompetensi, bukan sekadar mengejar nilai rapor.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan guru dalam mempersiapkan siswa menghadapi TKA. Pertama, menyusun bahan latihan yang sesuai dengan kerangka dan kisi-kisi TKA. Selama ini, masih banyak sekolah yang hanya mengandalkan buku latihan tanpa menelaah kesesuaiannya dengan kompetensi yang diukur. Guru perlu menganalisis kualitas soal dan memanfaatkan berbagai sumber digital, termasuk AI, sebagai referensi penyusunan latihan yang lebih relevan.

Kedua, memanfaatkan teknologi digital secara bijaksana. AI tidak seharusnya menjadi alat untuk memperoleh jawaban instan, tetapi sarana memperluas pemahaman. Misalnya, saat mempelajari majas, siswa dapat membandingkan penjelasan dari Google, ChatGPT, dan Gemini, kemudian mendiskusikan perbedaan hasilnya di bawah bimbingan guru. Proses ini akan melatih kemampuan berpikir kritis, mengevaluasi informasi, dan menyusun kesimpulan secara mandiri. Guru juga perlu membiasakan siswa mencatat kata-kata kunci agar pengetahuan lebih melekat.

Baca Juga :   Ketika AI Menulis Siaran Pers, Apa yang Tersisa bagi Humas Pemerintah?

Ketiga, guru perlu melakukan pemetaan kemampuan siswa melalui tes diagnostik. Setiap siswa memiliki kelemahan yang berbeda. Ada yang belum memahami majas, konotasi, atau kebudayaan, sementara yang lain masih kesulitan dalam kalimat majemuk atau kata hubung. Berdasarkan hasil tersebut, guru dapat memberikan pendampingan yang lebih terarah sehingga pembelajaran menjadi efektif dan sesuai kebutuhan masing-masing siswa.

Keberhasilan TKA tidak hanya ditentukan oleh kemampuan siswa saat mengerjakan soal, tetapi juga oleh kualitas proses pembelajaran di sekolah. Kolaborasi antara guru, siswa, orang tua, serta pemanfaatan teknologi digital secara bijaksana menjadi kunci peningkatan mutu pendidikan. AI hendaknya diposisikan sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti proses berpikir.

TKA pada hakikatnya bukan sekadar instrumen penilaian, melainkan momentum untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di Indonesia. Jika seluruh pihak mampu menjadikannya sebagai sarana evaluasi dan perbaikan, TKA akan mendorong lahirnya generasi yang lebih kritis, mandiri, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Sebagaimana pesan B.J. Habibie, “Keberhasilan bukan milik orang pintar, tetapi milik orang yang mau berusaha.” Semangat itulah yang seharusnya menjadi fondasi dalam menghadapi TKA dan membangun pendidikan Indonesia yang lebih bermutu. (*)

Baca Juga :   Paus Leo XIV Tekankan AI Harus Melayani Manusia dalam Ensiklik Pertamanya

Oleh: Yusuf Aliputro, SMPN 4 Gresik

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.