Deep learning merupakan pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa tidak sekadar menghafal materi (surface learning), melainkan memahami konsep secara mendalam, berpikir kritis, menghubungkan materi dengan materi lain, serta mampu menerapkan ilmu tersebut dalam kehidupan nyata. Sebuah paradigma baru mulai digulirkan pemerintah ke sekolah-sekolah. Kini, guru bersiap menyambut angin perubahan dan beradaptasi dengan kurikulum baru yang mengusung tiga pilar utama: mindful (bermakna), meaningful (mendalam), dan joyful (menyenangkan). Pertanyaan mendasar pun muncul, “Siapkah kita menyelami kedalaman pendekatan deep learning itu, atau hanya berhenti pada perubahan administratif belaka?”
Deep learning adalah pendekatan yang menuntut siswa diajak berpikir reflektif, bukan sekadar mengerjakan lembar kerja. Guru yang berada di garda depan harus mampu mengubah ruang kelas dari tempat “mentransfer isi buku” menjadi ruang diskusi yang hidup.
Namun, mengubah pembelajaran yang dangkal (surface learning) menuju pembelajaran yang mendalam bukan semudah membalikkan telapak tangan. Tantangan nyata deep learning bukan terletak pada kehebatan teori di atas kertas, melainkan pada keberanian mengubah kebiasaan lama bahwa “guru yang baik adalah guru yang berhasil menghabiskan seluruh isi buku teks di akhir semester.”
Ketika pembelajaran dituntut menjadi mendalam (meaningful), konsekuensinya adalah pemangkasan volume materi. Guru harus diberikan kemerdekaan penuh untuk melambat, berhenti sejenak pada satu topik, dan memberi ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi masalah dari berbagai sudut pandang. Di sinilah letak ujiannya. Siapkah otoritas pendidikan, pengawas sekolah, hingga orang tua murid untuk menerima kenyataan jika anak-anak mereka mempelajari materi yang lebih sedikit secara kuantitas, tetapi jauh lebih matang secara kualitas?
Sementara itu, siswa juga dihadapkan pada Tes Kemampuan Akademik (TKA), yaitu instrumen evaluasi yang dirancang untuk mengukur kapasitas kognitif, logika berpikir, dan kesiapan mental seorang siswa dalam menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Bagaimana pembelajaran deep learning ini jika dikaitkan dengan TKA?
Dilema antara deep learning sebagai pendekatan pembelajaran mendalam dan tuntutan Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah salah satu tantangan paling nyata yang dihadapi oleh para guru saat ini. Di satu sisi, guru dituntut untuk memanusiakan kelas dengan pembelajaran yang bermakna. Namun, di sisi lain, ada realitas angka dan kelulusan ujian yang harus dicapai.
Bagaimana dengan kesiapan guru?
Menghadapi dua tuntutan yang tampak bertolak belakang ini memang menempatkan guru dalam posisi yang menantang. Di satu sisi, guru harus mengejar ketuntasan materi untuk TKA. Di sisi lain, guru juga harus menerapkan paradigma deep learning atau pembelajaran mendalam.
Namun, kedua hal ini sebenarnya bisa diselaraskan jika guru mengubah strategi dari sekadar “mengajarkan isi buku” menjadi “mengajarkan cara bernalar”.
Selain itu, kesiapan kapasitas guru menjadi variabel penentu. Deep learning menuntut keterampilan mengajar yang tinggi melalui strategi diferensiasi. Di dalam satu kelas yang heterogen, guru dituntut mampu memetakan jalur berpikir setiap anak yang berbeda-beda. Tanpa adanya ruang bagi guru untuk berefleksi, berlatih menuliskan problem kelas, serta dukungan fasilitas yang merata, konsep luhur ini dikhawatirkan hanya akan berujung menjadi tumpukan istilah baru dalam dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran.
Ini menjadi tantangan terbesar di lapangan. Bagaimana menyelaraskan antara kurikulum yang menuntut pembelajaran mendalam, proses pembelajaran di kelas, dan instrumen evaluasi berupa TKA? Ada dua hal yang perlu diperhatikan.
Pertama, menggunakan deep learning di awal konsep. Siswa perlu diberi ruang untuk memahami konsep dasar secara mendalam agar logika mereka terbentuk.
Kedua, setelah siswa memahami konsep, barulah guru melatih mereka dengan strategi efisiensi waktu dan pengenalan pola soal TKA. Siswa yang memahami konsep dasar secara mendalam akan lebih mampu menghadapi variasi soal TKA.
Dilema antara deep learning dan tuntutan TKA bukanlah jalan buntu, melainkan ruang yang menantang kreativitas guru. Memilih salah satu secara ekstrem hanya akan merugikan siswa. Fokus hanya pada deep learning tanpa persiapan TKA akan menjauhkan siswa dari gerbang sekolah lanjutan. Faktanya, nilai TKA berpengaruh besar terhadap sistem SPMB. Sebaliknya, terjebak pada latihan soal TKA tanpa pemahaman mendalam akan melahirkan generasi yang kurang siap menghadapi masalah nyata di masa depan.
Kunci keberhasilan terletak pada keselarasan. Deep learning bertindak sebagai fondasi yang membangun logika berpikir kritis dan akar pemahaman konsep yang kokoh. Ketika fondasi logis ini sudah terbentuk, siswa akan memiliki ketahanan kognitif yang kuat. Guru tidak perlu mengorbankan salah satunya. (*)
Oleh: Meliana Suparmi, S.Pd., SMPN 1 Gedangan
Editor : Iwan Iwe



















