KEDIRI - Tradisi Kebur Ubalan kembali menyedot ribuan warga dan wisatawan di kawasan Wisata Sumber Ubalan, Desa Jarak, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri. Ritual tahunan yang digelar setiap bulan Suro itu menjadi wujud syukur masyarakat atas hasil panen sekaligus memperkuat daya tarik wisata budaya dan alam di Kabupaten Kediri.
Puncak acara berlangsung meriah ketika ribuan warga berebut gunungan hasil bumi usai prosesi doa bersama. Sayuran, buah-buahan, dan hasil pertanian yang disusun menyerupai gunungan dipercaya membawa berkah bagi keluarga maupun usaha sehingga menjadi rebutan masyarakat.
Panitia menyiapkan lima gunungan hasil bumi dalam tradisi tahun ini. Empat gunungan berukuran sedang dikirab mengelilingi Desa Jarak sebelum dibawa menuju kawasan sumber mata air. Sementara satu gunungan utama setinggi sekitar lima meter dipasang di area Wisata Sumber Ubalan sebagai pusat rangkaian acara.
Kirab berlangsung semarak dengan iringan musik tradisional dan peserta yang mengenakan pakaian adat. Demi menghindari kemacetan, rombongan memilih melintasi jalan-jalan lingkungan sebelum berkumpul di kawasan Sumber Ubalan.
Baca Juga : Rebutan Tumpeng Raksasa Warnai Larung Sembonyo di Pantai Popoh , Nelayan Berdoa Hasil Laut Melimpah
Sebelum gunungan diperebutkan, para sesepuh desa memimpin doa bersama. Tujuh kendi berisi air dari sumber mata air Ubalan kemudian dituangkan ke kolam sebagai simbol harapan agar hujan turun tepat waktu, hasil pertanian semakin melimpah, dan masyarakat dijauhkan dari berbagai bencana.
Begitu doa selesai dipanjatkan, ribuan warga langsung berlari menuju gunungan. Suasana berubah riuh saat masyarakat saling berebut hasil bumi yang diyakini membawa keberkahan.
Kepala Desa Jarak, Mohammad Toha, menjelaskan bahwa rangkaian Kebur Ubalan diawali dengan sedekah leluhur yang digelar di Balai Desa Jarak dan kawasan Sumber Ubalan sebagai bentuk penghormatan kepada para pendiri desa.
Baca Juga : Kabut, Doa, dan Keberanian di Kawah Bromo Warnai Kisah Yadnya Kasada 1948 Saka
"Empat gunungan dikirab menuju kawasan sumber, sedangkan satu gunungan utama disiapkan di lokasi acara. Seluruh gunungan merupakan hasil gotong royong RT, RW, dan masyarakat Desa Jarak," ujarnya.
Menurut Toha, tradisi Kebur Ubalan sepenuhnya diselenggarakan secara swadaya oleh masyarakat. Ia berharap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut mampu memperkenalkan Wisata Sumber Ubalan kepada masyarakat yang lebih luas.
"Pengelolaan wisata berada di bawah Pemerintah Kabupaten Kediri. Kami berharap tradisi ini semakin dikenal sehingga kunjungan wisatawan terus meningkat dan berdampak pada perekonomian masyarakat," tambahnya.
Selain menjadi ritual adat, Kebur Ubalan kini berkembang sebagai agenda wisata budaya yang selalu dinanti masyarakat. Perpaduan prosesi sakral, kirab gunungan, hingga rebutan hasil bumi menjadikan tradisi ini sebagai salah satu ikon budaya Kabupaten Kediri yang mampu menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya. (Muhammad Zainurofi)
Editor : JTV Kediri
















