TRENGGALEK - Di tengah gempuran kuliner modern, Ayam Lodho Pak Yusuf tetap bertahan sejak 1987. Cita rasa khas dari proses pembakaran arang menjadi kunci yang membuat hidangan ini terus diburu lintas generasi.
Berlokasi di Jalan Raya Kedunglurah, Pogalan, warung sederhana ini tak pernah sepi. Saat tren makanan kekinian bermunculan, pelanggan setia justru tetap datang untuk menikmati sajian tradisional yang otentik.
Usaha ini dirintis oleh Muhammad Yusuf bersama Sutilah hampir empat dekade lalu. Kini, tongkat estafet dilanjutkan generasi penerus, salah satunya Ayub Naulak. Meski berganti generasi, resep dan cita rasa tetap dijaga.
Keunikan ayam lodho terletak pada proses awalnya. Ayam kampung dibakar menggunakan bara arang bersuhu tinggi hingga menghasilkan aroma asap yang khas dan rasa gurih yang kuat.
Setelah itu, ayam dimasak dalam kuah santan kental yang kaya rempah, mulai dari ketumbar, kunyit, merica, pala, daun salam, daun jeruk, hingga cabai rawit. Proses ini membuat bumbu meresap hingga ke serat daging.
Ayub Naulak menyebut, teknik bakar ini menjadi pembeda utama dengan hidangan sejenis seperti opor. “Rasanya lebih kuat dan khas, ini memang kuliner Mataraman, terutama Trenggalek dan Tulungagung,” ujarnya.
Tak hanya soal rasa, ayam lodho juga sarat nilai budaya. Hidangan ini kerap hadir dalam berbagai acara seperti slametan, tasyakuran, hingga pernikahan sebagai simbol rasa syukur.
Kini, ayam lodho tak hanya dinikmati warga lokal, tetapi juga menjadi daya tarik wisata kuliner. Perpaduan ayam lodho dengan sego gurih dan kulupan menghadirkan sensasi rasa yang khas dan menggugah selera.
Keberadaan Ayam Lodho Pak Yusuf menjadi bukti bahwa kuliner tradisional tetap mampu bertahan, bahkan di tengah derasnya arus modernisasi. (Moch. Herlambang)
Editor : JTV Kediri


















