Menu
Pencarian


Ote-Ote: Satu Kata, Dua Makna dalam Bahasa Jawa

Portaljtv.com - Senin, 31 Agustus 2026 18:00
Ote-Ote: Satu Kata, Dua Makna dalam Bahasa Jawa
Ote-Ote: Satu Kata, Dua Makna dalam Bahasa Jawa (Foto: Istimewa)

Bahasa Jawa dikenal memiliki keragaman dialek yang tersebar di berbagai wilayah. Keragaman tersebut tidak hanya tampak pada perbedaan pelafalan, tetapi juga pada penggunaan kosakata. Ada kalanya satu kata memiliki bentuk yang sama, tetapi dipahami dengan makna yang berbeda oleh penutur dari daerah lain. Perbedaan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa bahasa Jawa terus berkembang mengikuti kehidupan dan budaya masyarakat penuturnya.

Salah satu perbedaan yang menarik dapat dijumpai antara bahasa Jawa standar (Mataraman) dan bahasa Jawa Suroboyoan. Kedua dialek tersebut memiliki sejumlah kosakata yang bentuknya sama, tetapi maknanya tidak selalu serupa. Akibatnya, sebuah kata yang lazim digunakan di wilayah Mataraman dapat dipahami dengan makna yang berbeda oleh masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Salah satu contoh perbedaan makna tersebut adalah kata “ote-ote”.

Dalam bahasa Jawa standar (Mataraman), ote-ote berarti tidak memakai baju atau bertelanjang dada. Kata ini biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang (anak-anak atau dewasa khususnya laki-laki) yang belum atau tidak mengenakan baju. Misalnya, seorang ibu dapat berkata, "Aja mlayu-mlayu isih ote-ote." (“Jangan lari-lari masih belum memakai baju”). Kalimat ini bermakna larangan kepada anak yang masih belum memakai baju agar tidak berlarian di luar rumah. Contoh kalimat lain adalah “Bapak ote-ote mulih teka sawah amarga sumuk” yang berarti “Bapak tidak memakai baju pulang dari sawah karena kegerahan”.

Perbedaan makna ini kerap menimbulkan kesalahpahaman yang menarik ketika penutur dari daerah yang berbeda saling berkomunikasi. Di daerah Surabaya dan sekitarnya ote-ote justru merupakan nama makanan yang dikenal dengan sebutan heci atau bakwan sayur. Makanan ini dibuat dari campuran tepung, bumbu, dan berbagai sayuran (tauge, kobis, wortel, dsb), kemudian digoreng hingga berwarna keemasan. Ote-ote mudah ditemukan di warung, pasar tradisional, hingga penjual gorengan di Surabaya dan daerah sekitarnya. Contoh penggunaan dalam bahasa Suroboyoan adalah "Aku kate tuku ote-ote digawe cemilan!" (Aku mau beli ote-ote untuk camilan) atau "Aku pingin mangan ote-ote," (Aku ingin makan ote-ote).

Penutur bahasa Jawa standar yang belum mengenal kosakata tersebut mungkin akan merasa heran karena mengira kata ote-ote merujuk pada keadaan seseorang yang tidak memakai baju. Sebaliknya, bagi masyarakat Surabaya, kata ote-ote sudah sangat lekat sebagai sebutan untuk heci atau bakwan sayur sehingga hampir tidak pernah dimaknai sebagai tidak memakai baju. Perbedaan tersebut bukanlah kesalahan dalam berbahasa, melainkan salah satu bentuk keragaman makna antardialek yang memperkaya khazanah bahasa Jawa.

Melalui contoh seperti ote-ote, kita dapat melihat bahwa satu kata dapat memiliki makna yang berbeda sesuai dengan daerah pemakainya. Oleh karena itu, memahami variasi kosakata antardaerah tidak hanya membantu menghindari kesalahpahaman dalam berkomunikasi, tetapi juga menambah pengetahuan tentang kekayaan bahasa dan budaya Jawa yang patut dijaga serta dilestarikan.

 

 

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.