Menu
Pencarian


Dara Muluk dan Masa Depan NU

Portaljtv.com - Senin, 31 Agustus 2026 16:31
Dara Muluk dan Masa Depan NU
Dara Muluk dan Masa Depan NU (Foto: Istimewa)
JOMBANG -

Hari ini adalah hari terakhir Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Tadi siang, Presiden Prabowo Subianto menutup perhelatan lima tahunan tersebut di Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas, Jombang.

Ada yang berseloroh, baru kali ini Presiden RI hadir membuka sekaligus menutup Muktamar NU. Sebagian melihatnya sebagai besarnya perhatian negara kepada NU, sebagian lainnya menafsirkan kedekatan kekuasaan dengan Muktamar. Saya memilih tidak terlalu jauh masuk dalam spekulasi itu.

Beberapa jam setelah penutupan, saya menyusuri sudut-sudut Tambakberas. Jalan yang beberapa hari dipadati muktamirin, santri, alumni, relawan, pedagang, dan warga mulai lengang. Para tamu berangsur meninggalkan pesantren, sementara relawan membereskan perlengkapan di antara sisa-sisa kemeriahan.

Secara umum Muktamar berlangsung sukses dan kondusif. Namun perhelatan besar ini juga menyisakan riak. Menjelang penutupan sempat terjadi aksi protes terkait aturan pencalonan Ketua Umum. Beredar pula isu intervensi kekuasaan, “paket Istana”, pengondisian peserta, hingga dugaan kekerasan. Sebagian diberitakan sebagai peristiwa, sebagian dibantah, dan sebagian lainnya tetap menjadi spekulasi.

Setelah KH Miftachul Akhyar kembali ditetapkan sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU, percakapan belum berhenti. Di media sosial, ucapan selamat bercampur kritik dan kekecewaan. Ada harapan kepada kepemimpinan baru, tetapi juga kekhawatiran NU semakin dekat dengan kekuasaan.

Saya membaca sebagian percakapan itu. Barangkali tidak akan mengubah hasil Muktamar. Tetapi setidaknya menunjukkan satu hal: orang masih peduli kepada NU. Bahkan kekecewaan bisa jadi lahir karena besarnya harapan terhadap jam’iyah ini.

Di tengah riuh yang mulai mereda, muncul pertanyaan: setelah Muktamar, ke mana NU akan bergerak?

Entah mengapa, saya teringat Dara Muluk, tembang Jawa karya maestro Ki Nartosabdo yang sejak lama saya sukai. Tembang itu berkisah tentang orang-orang yang beramai-ramai mengejar merpati terbang tinggi, sementara merpati sendiri terlepas dan anak-anaknya di kandang kurang terurus.

Lalu muncul pitutur yang tajam: “Amburu uceng, kelangan deleg.” Sibuk mengejar sesuatu yang diinginkan, justru kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Sore ini, Dara Muluk terasa relevan: sebuah permenungan tentang apa yang harus dijaga dan bagaimana NU menapaki masa depannya.

Jejak Muktamar

Selama Muktamar, saya menyaksikan Tambakberas menjadi ruang perjumpaan banyak orang. Pesantren membuka pintu, santri dan alumni bergerak, sementara warga meminjamkan rumah, tenaga, pikiran, hingga rezekinya. Banyak yang bekerja tanpa bertanya apa yang akan mereka peroleh.

Di situlah kekuatan NU sesungguhnya: kepercayaan. Kepercayaan jutaan orang yang mungkin tidak tercantum dalam struktur, tetapi menjadikan NU bagian dari kehidupan sehari-hari melalui pesantren, tradisi keagamaan, dan jejaring sosial di akar rumput.

Saya sendiri lebih nyaman berada dalam ruang NU kultural, mencintai NU tanpa harus berada dalam struktur. Dari sana saya belajar bahwa mencintai NU tidak berarti selalu memujinya. Cinta kadang membutuhkan keberanian untuk mengingatkan.

Muktamar kini bukan sekadar forum internal jam’iyah, tetapi peristiwa nasional yang mendapat perhatian banyak kalangan. Perhatian dan jejaring strategis itu penting, tetapi jangan sampai membuat NU lebih sibuk melihat ke luar daripada merawat kekuatan di dalam.

Jangan sampai sibuk dengan siapa yang hadir, mendukung, atau memperoleh posisi, sementara piyik-piyik jroning gupon kurang diperhatikan: kiai kampung, guru ngaji, santri, pengurus ranting, aktivis badan otonom, dan warga yang menghidupkan NU tanpa kamera dan panggung.

Merekalah kekuatan yang tidak boleh terabaikan.

 

 

Teladan Mbah Wahab

Membicarakan masa depan NU di Tambakberas membawa pikiran saya kepada KH Abdul Wahab Chasbullah, terutama caranya menghadapi perbedaan. Mbah Wahab hidup di tengah perdebatan keagamaan, politik, dan kebangsaan yang keras. Tidak semua gagasannya diterima, tetapi baginya berbeda tidak harus bermusuhan dan kekecewaan tidak boleh menghilangkan kejernihan.

Mbah Wahab tidak membangun perjuangan dari kemurungan. Ketika pendapat berbeda, ia berdialog. Ketika jalan tertutup, ia mencari jalan lain. Ketika zaman berubah, ia menyesuaikan strategi tanpa kehilangan pijakan. Ia piawai berpolitik dan berdiplomasi, berinteraksi dengan kekuasaan, tetapi basis perjuangannya tetap umat.

Teladan itu penting setelah Muktamar. Dalam organisasi sebesar NU, perbedaan dan kekecewaan sulit dihindari. Yang menentukan bukan ada atau tidaknya perbedaan, melainkan bagaimana mengelolanya. Mereka yang memperoleh amanah tidak boleh merasa memiliki NU, sementara yang kecewa tidak perlu kehilangan harapan kepada NU.

Sebab jam’iyah ini jauh lebih besar daripada satu kepengurusan, kelompok, atau kontestasi. NU boleh memainkan peran seluas-luasnya, tetapi jangan sampai berjarak dengan basis sosial dan kultural yang menopangnya.

Dalam bahasa Dara Muluk: boleh mengejar merpati yang terbang tinggi, tetapi jangan sampai merpati sendiri terlepas dan kandangnya terabaikan.

Setelah Panggung Sepi

Muktamar penting untuk memilih kepemimpinan dan menentukan arah organisasi. Namun ujian sesungguhnya dimulai ketika panggung sepi: apakah tata kelola semakin baik, kaderisasi semakin sehat, dan warga semakin merasakan manfaat jam’iyah yang mereka cintai?

Refleksi Dara Muluk tentu tidak adil jika hanya ditujukan kepada pengurus. Santri, alumni, simpatisan, dan pecinta NU juga perlu bercermin. Kritik tetap diperlukan dan kekecewaan itu manusiawi, tetapi jangan sampai perilaku sebagian orang mengikis kecintaan kepada NU.

NU jauh lebih luas daripada mereka yang sedang menduduki jabatan di dalamnya. Kepemimpinan memiliki masanya, sementara khidmah NU terus berlangsung lintas generasi. Di ribuan kampung, pengajian dan pendidikan terus berjalan, santri tetap mengaji, dan berbagai kegiatan sosial terus melayani masyarakat. NU mungkin sesekali gaduh di tingkat elite, tetapi di akar rumput ia tetap bekerja dan mengabdi.

Barangkali di situlah NU tetap besar dan mengakar: ia bukan sekadar organisasi, melainkan ekosistem sosial dan kebudayaan yang hidup bersama masyarakat.

Karena itu, riuh setelah Muktamar tidak perlu membuat kita tenggelam dalam kemurungan. Kritik dan kegelisahan semestinya menjadi energi untuk memperbaiki NU, bukan alasan untuk meninggalkannya.

Merawat Gupon Sendiri

Masa depan NU membutuhkan tanggung jawab dua arah. Pengurus harus memperkuat tata kelola, menjaga kepercayaan, dan memastikan kebesaran NU benar-benar dirasakan manfaatnya hingga tingkat ranting.

Sementara warga dan pecinta NU perlu menjaga kecintaan kepada jam’iyah tanpa kehilangan daya kritis. Mencintai NU bukan berarti membenarkan semua tindakan pengurus. Mengkritiknya pun bukan berarti berhenti mencintainya.

Di sinilah Dara Muluk memberi pelajaran. Tantangan setelah Muktamar bukan sekadar membuat NU semakin besar dan diperhitungkan, tetapi memastikan kebesaran itu menghadirkan manfaat, ketenteraman, dan harapan hingga lapisan paling bawah.

Saya kembali melihat ke arah matahari yang semakin rendah di Tambakberas. Muktamar telah ditutup. Riuh perdebatan mungkin masih berlanjut di ruang-ruang percakapan dan media sosial, tetapi pekerjaan besar NU justru baru dimulai.

Barangkali itulah Dara Muluk yang perlu direnungkan bersama. NU boleh terbang semakin tinggi, semakin diperhitungkan dalam percaturan nasional bahkan global. Tetapi jangan sampai dalam kesibukan mengejar yang jauh, sesuatu yang paling berharga justru terabaikan.

Bagi pengurus, jagalah kepercayaan warga. Bagi kita yang mencintai NU, jagalah cinta itu segenap hati. Sebab masa depan NU tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi ia mampu terbang, tetapi juga oleh seberapa kuat orang-orang di bawah tetap percaya kepadanya.

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.