Kamar sendiri masih berantakan, cucian piring menumpuk, namun jempol justru sibuk menggulir video orang lain mengepel lantai hingga mengilap. Fenomena ini bukan kebetulan tagar #CleanTok di TikTok telah mengumpulkan lebih dari 150 miliar tayangan, menjadikan konten "bersih-bersih" salah satu genre paling adiktif di media sosial, meski konsepnya sesederhana orang menyeka debu dan menyemprot pembersih kaca.
Menurut pendiri ASMR University, Dr. Craig Richard, video "memuaskan" semacam ini digemari karena alurnya sangat mudah ditebak, dan otak manusia secara alami mengenali pola yang dapat diprediksi sebagai bentuk penghargaan, memicu pelepasan dopamin yang menurunkan detak jantung dan membawa penonton ke kondisi rileks. Momen sebelum-dan-sesudah yang jadi formula khas video ini memberikan kepuasan visual instan yang sulit ditolak otak.
Fenomena ini juga dijelaskan lewat teori neuron cermin (mirror neuron theory), sebagaimana diungkap peneliti Dr. Anita Deak dari University of Pécs. Ketika menonton video yang begitu imersif, otak penonton bereaksi seolah mereka sendiri sedang melakukan aktivitas tersebut menciptakan kepuasan vikarial (vicarious satisfaction), rasa pencapaian tanpa harus benar-benar mengangkat sapu sendiri.
Psikolog Giulia Poerio menjelaskan bahwa dorongan mengendalikan lingkungan sekitar merupakan perilaku adaptif yang berakar dari naluri bertahan hidup. Karena dunia nyata sering terasa terlalu kacau untuk dikendalikan, video bersih-bersih menawarkan pengalaman "kendali" itu secara vikarial penonton menyaksikan kekacauan kecil ditaklukkan secara runtut, memberi rasa tenang meski hanya berlangsung di layar ponsel.
Baca Juga : Viral Keluhkan Tunggu Kamar 8 Jam, Pasien BPJS Yurizal Tri Chaerawan Meninggal Dunia
Suara gesekan spons, cipratan air pembersih, hingga dentingan alat kebersihan kerap memicu sensasi ASMR yang menenangkan sistem saraf. Menariknya, profesor psikologi Stephen Smith dari University of Winnipeg menemukan indikasi bahwa audiens utama konten semacam ini justru sering kali orang yang merasa kewalahan dalam hidupnya, menjadikan tontonan ini bentuk pelarian sekaligus jeda mental singkat dari tekanan sehari-hari meski tetap bukan pengganti penanganan profesional bila stres atau kecemasan sudah cukup mengganggu.
Pada akhirnya, kecanduan menonton video bersih-bersih bukan melulu tanda kemalasan. Di tengah rutinitas yang menekan, tontonan ini menawarkan kombinasi dopamin, rasa kendali, dan ketenangan sensorik dalam paket singkat pelarian kecil yang, ironisnya, sering membuat rumah sendiri tetap belum tersentuh sapu. (Naswa Thalita Zada)
Editor : Iwan Iwe



















