SURABAYA - Pemerintah Provinsi Jawa Timur optimistis pertumbuhan ekonomi daerah pada 2026 dapat terjaga secara inklusif dengan proyeksi di kisaran 4,9 hingga 5,4 persen. Arah kebijakan ekonomi difokuskan pada penguatan UMKM, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta pemerataan pembangunan infrastruktur strategis.
Optimisme tersebut mengemuka dalam dialog Outlook Ekonomi Jawa Timur 2026 pada program Jatim Joss yang tayang di JTV, Senin (5/1/2026) malam. Dialog ini menghadirkan Kepala Bappeda Jatim Muhammad Yasin, Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto, dan Ketua Komisi C DPRD Jatim Adam Rusdi.
Kepala Bappeda Jatim Muhammad Yasin menyebut sektor UMKM yang menopang sekitar 60 persen struktur ekonomi Jawa Timur tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan. Pemerintah menyiapkan berbagai skema penguatan, terutama dari sisi permodalan.
“Kita siapkan kredit Prokesra dengan bunga hanya 3 persen per tahun agar UMKM bisa naik kelas,” tegas Yasin.
Baca Juga : Gubernur Khofifah Optimis Koperasi Desa Merah Putih Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Selain pembiayaan, Pemprov Jatim mendorong digitalisasi UMKM melalui kerja sama dengan marketplace serta pengembangan program Desa Devisa. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan ekspor sekaligus memperkuat posisi Jawa Timur sebagai simpul logistik nasional.
“Ekspor kita meningkat dan impor kita turun. Ini indikator bahwa produk Jatim mulai sangat kompetitif di pasar global,” tambahnya.
Dari sisi dunia usaha, Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi ke depan tidak lagi bertumpu pada sumber daya alam, melainkan kualitas SDM. Kadin Jatim memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 5,1 hingga 5,4 persen berbasis produktivitas tenaga kerja.
“Kita fokus pada peningkatan SDM karena ini adalah penentu 60 sampai 70 persen pertumbuhan ekonomi,” ujar Adik.
Melalui Tim Koordinasi Vokasi Daerah (TKDV), Kadin Jatim mendorong link and match antara pendidikan dan kebutuhan industri. Saat ini, TKDV telah terbentuk di 25 kabupaten/kota untuk mencetak tenaga kerja siap pakai dan wirausaha baru.
Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Jatim Adam Rusdi menyoroti tantangan fiskal daerah akibat kebijakan pusat yang berdampak pada penurunan pendapatan daerah menjadi sekitar Rp26,3 triliun. DPRD, kata dia, mendorong optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD), termasuk memperjuangkan revisi formula bagi hasil cukai tembakau.
“Bagi kami, khususnya di sektor tembakau, ini sangat bisa dimaksimalkan untuk pembiayaan kesehatan. Karena itu, kami sangat berharap pemerintah pusat benar-benar mendengarkan aspirasi kami. Kami berharap upaya ini bisa berhasil, dan ini bukan hanya kerja DPRD, tetapi juga telah disuarakan langsung oleh Ibu Gubernur,” terang Adam.
Di sisi infrastruktur, Pemprov Jatim berkomitmen menuntaskan jalur Lintas Pantai Selatan (Pansela) sepanjang 680 kilometer yang progresnya telah mencapai 62 persen. Pembangunan konektivitas ini diharapkan menekan biaya logistik dan meningkatkan daya saing usaha.
Menutup dialog tersebut, Kepala Bappeda Jatim, Muhammad Yasin, menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur optimistis realisasi outlook ekonomi 2026 akan berjalan inklusif dengan menjaga daya beli masyarakat, memperbaiki belanja pemerintah, serta mendorong investasi dan ekspor. Menurutnya, strategi tersebut sejalan dengan posisi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara yang diyakini mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.
Dari dunia usaha, Ketua Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto menyebut bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci utama. Adik mengatakan produktivitas tenaga kerja harus terus ditingkatkan agar daya saing daerah tidak lagi bergantung pada sumber daya alam, melainkan pada komitmen bersama membangun SDM unggul.
Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Jawa Timur Adam Rusdi menegaskan kemandirian pangan harus menjadi identitas asli ekonomi daerah. Ia mendorong masyarakat melirik sektor pertanian yang dinilai paling menjanjikan dengan dukungan pemerintah serta harga yang terjamin, sehingga petani tetap semangat dan usaha tani di Jawa Timur semakin berkembang. (*)
Editor : A. Ramadhan



















