SURABAYA - Indonesia saat ini menyandang status sebagai negara dengan beban tuberkulosis (TBC) tertinggi kedua di dunia setelah India. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2023 dari World Health Organization (WHO), Indonesia mencatat sekitar 969.000 kasus baru pada tahun 2022 dengan tingkat insiden 354 kasus per 100.000 penduduk.
Di tengah upaya mencapai target Indonesia Emas 2045, kehadiran uji coba vaksin TBC baru, M72/AS01E, muncul sebagai harapan sekaligus memicu perdebatan di masyarakat.
Mengenal Vaksin M72/AS01E
Vaksin yang dikembangkan oleh GlaxoSmithKline (GSK) dengan dukungan pendanaan dari The Gates Foundation ini telah memasuki tahap uji klinis di Indonesia sejak September 2024. Vaksin ini diproyeksikan sebagai terobosan besar untuk menekan angka infeksi TBC, khususnya pada orang dewasa.
Dokter spesialis mikrobiologi klinik, dr. Aiman, Sp.MK, menjelaskan bahwa vaksin ini memiliki mekanisme yang berbeda dengan vaksin BCG yang selama ini diberikan kepada bayi.
“Vaksin M72/AS01E terdiri dari protein fusi imunogenik yang berasal dari antigen Mycobacterium tuberculosis dan adjuvan. Sifatnya tidak aktif (bukan bakteri hidup), sehingga dirancang untuk menciptakan kekebalan yang dapat menurunkan risiko penularan TBC pada usia dewasa,” jelas dr. Aiman. Ia menegaskan bahwa setiap tahapan uji klinis telah melalui standar etika dan pengawasan ketat sebelum diujikan kepada manusia.
Resistensi Publik dan "Tsunami" Informasi
Meski menawarkan potensi ilmiah yang besar, kabar uji coba ini justru memicu gelombang penolakan di media sosial. Berbagai narasi skeptis, termasuk pengaitan dengan program kesehatan masa lalu, sempat muncul di ruang siber.
Nadia (27), seorang penyintas TBC asal Surabaya, mengakui adanya keraguan di masyarakat. Namun, ia juga melihat vaksin ini sebagai opsi penting. “Jika vaksin ini terbukti aman dan transparan, kita harus mendukungnya. Tidak semua orang seberuntung saya yang bisa sembuh tanpa vaksin,” ujarnya.
Pakar komunikasi kesehatan dari FISIP Universitas Airlangga, Dr. Liestianingsih Dwi, menilai resistensi ini muncul akibat jarak komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.
“Banyaknya informasi kontradiktif dan istilah medis yang kompleks sering kali memicu kebingungan. Masyarakat memiliki hak untuk dilibatkan dan dijelaskan sejak awal, bukan hanya menerima informasi saat program sudah berjalan,” papar Dr. Liestianingsih. Menurutnya, pendekatan partisipatif dengan menggandeng tokoh masyarakat dan media independen adalah kunci untuk membangun kepercayaan publik.
Tantangan Indonesia Emas 2045
Data menunjukkan urgensi penanganan TBC di Indonesia. Jawa Barat tercatat sebagai wilayah dengan kasus tertinggi (estimasi 234.710 kasus), disusul Jawa Timur (116.752 kasus).
Kini, Indonesia dihadapkan pada dilema: memanfaatkan peluang ilmiah yang dapat menyelamatkan jutaan jiwa, atau membiarkan rasa curiga menghambat kemajuan kesehatan nasional. Keberhasilan uji coba vaksin ini, pada akhirnya, tidak hanya bergantung pada kemajuan sains, tetapi juga pada kokohnya jembatan komunikasi antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat. (Mamluatus Salimah)
Editor : Iwan Iwe



















