GRESIK - Program religi “Blusukan Padhange Ati Ramadan” kembali menyapa pemirsa JTV dengan kajian keislaman yang sarat pesan moral. Kegiatan yang digelar di Masjid Darussalam, Perum Oma Indah Bringkang, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik pada Selasa (10/3/2026) ini, menyoroti fenomena fanatisme golongan yang berpotensi memicu perpecahan di tengah umat.
Acara dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an Surah Al-Mu’minun ayat 53 oleh Andri Sapura. Ayat tersebut menjadi landasan pembahasan mengenai kecenderungan manusia yang terpecah menjadi berbagai kelompok, di mana setiap kelompok merasa paling benar dan bangga dengan golongannya sendiri.
Dalam tausiahnya, KH Imam Chambali menekankan bahwa perbedaan wadah organisasi maupun tata cara beribadah merupakan hal yang wajar dalam Islam. Menurutnya, keberadaan organisasi seperti NU, Muhammadiyah, dan lainnya tidak boleh menjadi alasan bagi umat untuk saling menjatuhkan.
"Kita sesama Muslim seharusnya rukun, baik yang mengikuti model NU, Muhammadiyah, maupun yang lain. Karena pada hakikatnya, yang berasal dari Allah itu hanya satu, yaitu Islam," ujar KH Imam Chambali.
Baca Juga : KH Imam Chambali di Gresik: Menjaga Lisan dan Hati sebagai Kunci Mencegah Kerusakan
Beliau menilai bahwa perpecahan sering kali muncul akibat sikap merasa paling benar sehingga mudah memberikan label salah pada kelompok lain. Sikap eksklusif seperti inilah yang menurut beliau menjadi akar sulitnya menciptakan kerukunan di tengah masyarakat.
Selain isu keagamaan, KH Imam Chambali juga menyentuh aspek perbedaan pilihan politik yang kerap meretakkan hubungan sosial. Ia mengingatkan bahwa dalam kehidupan demokrasi, perbedaan pandangan adalah hal lumrah yang tidak seharusnya mengorbankan persaudaraan.
"Berlomba-lombalah dalam kebaikan (fastabiqul khairat), namun jangan sampai niatnya bergeser menjadi ajang pamer atau hanya untuk menyaingi orang lain. Semuanya harus diniatkan karena Allah," tegasnya.
Baca Juga : KH Imam Chambali: Al-Qur'an Adalah Obat Hati, Kunci Iman Meningkat Adalah Ilmu
Kajian ini juga membuka sesi tanya jawab yang cukup hangat. Salah seorang jemaah menanyakan kiat menjaga kerukunan keluarga setelah orang tua wafat. Menanggapi hal tersebut, KH Imam Chambali memberikan saran praktis bagi keharmonisan keluarga.
"Kuncinya adalah sering-sering mendoakan saudara dan belajar untuk mengalah. Jika kita terus mencari-cari perbedaan, permasalahan tidak akan pernah selesai," pungkas beliau.
Melalui kajian "Blusukan Padhange Ati Ramadan" ini, masyarakat diajak untuk mengutamakan sikap saling menghormati di atas segala perbedaan golongan maupun pandangan politik demi terciptanya kehidupan umat yang damai dan harmonis. (Amellia Ciello)
Baca Juga : Satu Tahun Duet Gus Yani-dr. Alif: Transformasi Kepemimpinan Kolaboratif untuk "Gresik Baru"
Editor : Iwan Iwe



















