Program "Solusi Sehat" yang tayang di JTV pada Rabu (11/3/26) menghadirkan edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja melalui kolaborasi dengan School of Medicine Universitas Ciputra Surabaya. Mengangkat tema “Remaja Sehat Masa Depan Hebat – Unlocking Teen Reproductive Health”, acara ini membahas berbagai isu penting mulai dari pubertas, menstruasi, kesehatan mental, hingga teknologi reproduksi terbaru.
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra, Prof. Hendy Hendarto, mengatakan kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan reproduksi, khususnya pada usia remaja. “Ini adalah salah satu program dari Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra untuk berbagi kesehatan dengan masyarakat, khususnya terkait kesehatan reproduksi dan perkembangan remaja,” ujar Prof. Hendy.
Pubertas Adalah Proses Normal
Dalam diskusi mengenai pubertas dan perubahan tubuh, mahasiswa kedokteran menjelaskan bahwa perubahan fisik maupun emosional merupakan hal yang normal terjadi pada masa remaja.
Baca Juga : Untag Surabaya Perkuat Komitmen Kampus Sehat Lewat Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis
Salwa, salah satu mahasiswa, menyebut pubertas biasanya terjadi pada usia 8–13 tahun pada perempuan dan 9–14 tahun pada laki-laki. “Pubertas merupakan fase ketika anak mengalami perubahan fisik dan emosional yang menandakan kematangan seksual dan reproduksi,” jelasnya.
Perubahan tersebut meliputi pertumbuhan payudara, munculnya jerawat, pertumbuhan rambut di area tertentu, hingga perubahan emosi yang dipengaruhi oleh hormon.
Mimpi Basah dan Jerawat Bukan Hal Memalukan
Baca Juga : Untag Surabaya Terima 50 Mahasiswa Fakultas Kedokteran Angkatan Pertama
Pada remaja laki-laki, mimpi basah kerap dianggap sebagai hal yang memalukan atau bahkan dikaitkan dengan perilaku negatif. Padahal secara medis, kondisi ini merupakan proses biologis normal.
Rivo menjelaskan mimpi basah terjadi karena produksi sperma yang terus berlangsung selama masa pubertas. “Anggapan bahwa mimpi basah adalah tanda nafsu yang tidak terkendali merupakan mitos. Dalam perspektif medis, itu adalah proses biologis yang normal,” jelasnya.
Sementara itu, jerawat pada masa pubertas juga disebabkan oleh perubahan hormon yang meningkatkan produksi minyak pada kulit.
Menstruasi Tanpa Mitos
Segmen lain membahas tentang siklus menstruasi pada remaja perempuan. Lintang menjelaskan bahwa siklus menstruasi normal umumnya terjadi setiap 21 hingga 35 hari dengan durasi 3 sampai 7 hari. “Banyak orang mengira siklus menstruasi harus selalu 28 hari, padahal angka tersebut hanya rata-rata,” katanya.
Selain itu, beberapa mitos yang masih dipercaya masyarakat juga diluruskan, seperti larangan keramas saat menstruasi. Mahasiswa kedokteran menegaskan bahwa menjaga kebersihan diri justru sangat penting selama menstruasi.
Teknologi Reproduksi Semakin Canggih
Diskusi juga menyinggung perkembangan teknologi reproduksi seperti program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF). Teknologi terbaru memungkinkan pemeriksaan genetik embrio sebelum ditanamkan ke rahim.
Menurut Prof. Hendy, kemajuan teknologi tersebut meningkatkan peluang keberhasilan program IVF. “Saat ini teknologi bayi tabung sudah berkembang pesat dengan bantuan artificial intelligence dan pemeriksaan genetik, sehingga kualitas embrio yang dihasilkan menjadi lebih baik,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan IVF dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kualitas sperma, sel telur, kondisi rahim, serta usia ibu.
Body Shaming Bisa Ganggu Kesehatan Reproduksi
Selain aspek biologis, acara ini juga menyoroti dampak psikologis seperti fenomena body shaming yang banyak terjadi di kalangan remaja.
Dr. Minarni Wirtiningsih menjelaskan bahwa komentar negatif tentang tubuh seseorang dapat memicu stres dan gangguan kesehatan mental. “Body shaming tidak hanya berdampak pada perasaan, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan fisik termasuk kesehatan reproduksi,” ujarnya.
Stres yang berkepanjangan dapat meningkatkan hormon kortisol yang berpotensi mengganggu keseimbangan hormon reproduksi.
Waspadai Infeksi Menular Seksual
Topik lain yang dibahas adalah infeksi menular seksual (IMS) pada remaja. Penyakit ini dapat disebabkan oleh bakteri, virus, maupun parasit dan sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal.
Beberapa IMS yang paling umum di antaranya klamidia, gonore, sifilis, herpes, hingga HPV.
Erik Jaya Gunawan menegaskan pentingnya edukasi dan komunikasi terbuka antara remaja, orang tua, dan tenaga kesehatan. “Remaja perlu mendapatkan pendidikan seksual yang benar agar mampu mengambil keputusan yang sehat dan bertanggung jawab,” katanya.
Edukasi Kesehatan untuk Masa Depan Remaja
Melalui diskusi ini, para akademisi dan mahasiswa berharap masyarakat semakin memahami pentingnya kesehatan reproduksi sejak usia muda.
Edukasi yang tepat dinilai dapat membantu remaja menghadapi perubahan tubuh, menjaga kesehatan mental, serta terhindar dari berbagai risiko kesehatan di masa depan. (Amellia Ciello)
Editor : Iwan Iwe



















