JAKARTA - Penetapan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) perempuan pertama untuk periode 2026-2031 disambut dengan harapan besar sekaligus catatan kritis dari kalangan ekonom. Destry resmi ditetapkan setelah Komisi XI DPR RI menyetujuinya dalam proses uji kelayakan dan kepatutan pada 26-27 Agustus 2026, bersama Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior BI.
Meskipun kepemimpinan baru ini diharapkan membawa angin segar bagi stabilitas nilai tukar, ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J Rachbini, menilai bahwa posisi Rupiah masih akan menghadapi tantangan berat untuk menguat secara signifikan dalam lima tahun ke depan.
Menurut Didik, pergantian kepemimpinan ini hanya menjadi siklus rutin karena kendala sektor moneter berasal dari faktor internal dan eksternal yang sudah mengakar kuat. Dirinya menyatakan bahwa kepemimpinan baru diprediksi tidak akan banyak mengubah sistem moneter dan Rupiah kemungkinan besar akan tetap berada dalam posisi lemah akibat kendala-kendala yang telah lama ada.
Didik menjelaskan bahwa Indonesia memiliki keunikan struktur ekonomi sebagai large economy dengan pasar domestik yang besar, namun memiliki kelemahan di sektor luar negeri. Kondisi tersebut membuat arus masuk devisa selalu lebih kecil dibandingkan permintaan terhadap dolar AS, yang kemudian diperparah oleh tingginya biaya transaksi akibat carut-marut hukum, situasi sosial politik, korupsi, hingga rendahnya daya saing ekspor.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Ketua Dewan Komisaris OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyambut baik terpilihnya kepemimpinan baru di bank sentral tersebut. OJK secara aktif mendorong penguatan koordinasi serta sinergi antarotoritas di dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan rekam jejak komunikasi yang selama ini telah terjalin dengan baik, sinergi antara BI dan OJK di bawah kepemimpinan baru ini diharapkan mampu semakin solid dan optimal. (Tengku Abdillah Ayyub)
Editor : Iwan Iwe



















