KEDIRI - Keterampilan yang semula dipelajari karena dorongan keluarga justru mengubah jalan hidup Ahmad Fajar Aziz. Santri berusia 27 tahun asal Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, itu kini sukses mengembangkan usaha konveksi rumahan yang mampu memproduksi puluhan setel seragam sekolah setiap bulan.
Usaha konveksi yang dirintis sejak 2020 itu dijalankan dari rumahnya di Dusun Karangnongko, Desa Kamulan. Suara mesin jahit nyaris tak pernah berhenti, terutama menjelang tahun ajaran baru ketika permintaan seragam sekolah meningkat tajam.
Fajar mengaku, keterampilan menjahit mulai ia pelajari sejak duduk di bangku SMP. Awalnya ia merasa terpaksa mengikuti keinginan keluarga. Namun seiring waktu, kemampuan tersebut menjadi bekal berharga hingga akhirnya ia berani membangun usaha sendiri.
Merintis usaha di usia muda bukan perkara mudah. Fajar mengaku sempat kesulitan mendapatkan kepercayaan calon pelanggan karena penampilannya dianggap terlalu muda untuk mengelola usaha konveksi.
Baca Juga : Berawal dari 'Paksaan' Belajar Menjahit, Santri Trenggalek Kini Kebanjiran Pesanan Seragam
"Awalnya banyak yang ragu karena melihat saya masih muda. Untuk meyakinkan pelanggan, saya sering mengajak rekan yang lebih senior saat menawarkan kerja sama," ungkapnya.
Kerja keras tersebut mulai membuahkan hasil. Memasuki musim libur sekolah dan awal tahun ajaran baru, konveksinya yang didukung enam unit mesin jahit rutin menerima pesanan seragam dari berbagai jenjang pendidikan, mulai SD, SMP hingga SMA.
Dalam kondisi ramai, kapasitas produksinya mencapai 60 hingga 80 setel seragam setiap bulan. Selain seragam sekolah, Fajar juga melayani pembuatan pakaian harian, jas, beskap, hingga busana adat sesuai permintaan pelanggan.
Baca Juga : Terima Permintaan Maaf, SSB Prigi Shrimp Army Tetap Desak Askab PSSI Trenggalek Berbenah
Untuk memenuhi permintaan yang terus berdatangan, Fajar dibantu sang istri serta menerapkan sistem kemitraan dengan sejumlah penjahit lain ketika pesanan membludak.
Di balik perkembangan usahanya, tantangan tetap membayangi. Kenaikan harga suku cadang mesin jahit dan berbagai peralatan produksi akibat kondisi ekonomi membuat biaya operasional ikut meningkat.
Agar usaha tetap berjalan, Fajar memilih memanfaatkan komponen mesin bekas yang masih layak pakai. Langkah itu dilakukan untuk menekan biaya tanpa mengurangi kualitas hasil produksi.
Meski ongkos produksi naik, ia memilih tidak menaikkan tarif jasa jahit. Menurutnya, keputusan tersebut diambil demi menjaga daya beli sekaligus mempertahankan loyalitas pelanggan.
Fajar berharap kondisi perekonomian segera membaik sehingga pelaku usaha mikro seperti dirinya dapat menjalankan usaha dengan lebih stabil dan terus berkembang. (Simon Bagus/Mochammad Herlambang)
Editor : JTV Kediri
















