Menteri Keamanan Nasional Israel , Itamar Ben-Gvir yang dikenal radikal kembali melontarkan komentar kontroversial. Menteri garis keras Israel itu secara terbuka menyerukan pembunuhan terhadap 30 hingga 40 warga Gaza setiap malam. Komentar tersebut disampaikan saat ia berbicara dalam wawancara podcast "October 8" bersama Rom Braslavski, seorang tentara Israel yang pernah disandera Hamas di Jalur Gaza. Dalam podcast yang ditayangkan pada Sabtu (15/8/2026) malam tersebut, keduanya membahas upaya pemulihan Israel pascaserangan Hamas pada Sabtu (7/10/2023).
Di tengah perbincangan itu, Ben-Gvir secara terbuka melayangkan kritik terhadap langkah Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu yang dinilai baru-baru ini telah mengurangi intensitas serangan militer di Jalur Gaza. Lebih lanjut, pemimpin Partai Jewish Power yang beraliran sayap kanan jauh ini menegaskan bahwa Israel tidak boleh hanya membatasi serangannya terhadap pihak-pihak yang menimbulkan ancaman langsung di Jalur Gaza.
Ia mendesak agar militer menjalankan operasi penyerangan secara rutin setiap malam dengan menargetkan puluhan jiwa, terlepas dari apakah individu tersebut sedang membahayakan pada saat itu atau tidak.
"Menurut saya, kita perlu melancarkan serangan-serangan terarah di Gaza setiap malam, melenyapkan 30 atau 40 orang, bukan hanya mereka yang membahayakan kita pada saat itu," ucap Ben-Gvir.
Dalam kesempatan yang sama, Ben-Gvir juga melontarkan retorika dehumanisasi terhadap penduduk di wilayah tersebut dengan menyebut bahwa ada pihak-pihak di Gaza yang dianggapnya tidak layak untuk hidup dan bahkan disamakan bukan sebagai manusia.
"Ada orang-orang di sana yang tidak layak hidup. Mereka tidak seharusnya hidup. Mereka bahkan bukan manusia," lanjutnya.
Meskipun wawancara tersebut dirilis pada akhir pekan, komentar provokatif Ben-Gvir dengan cepat beredar luas pada Minggu (16/8/2026) dan langsung mendulang sorotan tajam serta banyak dibagikan oleh berbagai media internasional maupun Palestina, di tengah upaya-upaya diplomatik dan proposal damai yang sedang diupayakan untuk meredakan konflik berkepanjangan di kawasan tersebut. (Tengku Abdillah Ayyub)
Editor : Iwan Iwe



















